cropped-copy-of-the-jama-masjid-in-old-delhi-the-largest-mosque-in-india-built-by-shah-jahan-delhi-india-photographic-print-c12893045-copy2

Apa jadinya bila Tuhan hanya melihat pada rupa, tentu yang diperhatikan hanya yang berwajah cantik, ganteng dan rupawan saja. Lalu Apa jadinya bila Tuhan hanya melihat hanya orang yang berpangkat, kaya dan banyak memiliki kekuasaan saja.

Lalu Bagaimana jadinya nasib orang yang diberi buruk rupa dan keadaan selalu fakir dan miskin dalam hidupnya.

Alhamdulillah ternyata Tuhan tidak melihat itu semua, namun hanya pada ketakwaan dan amal shalehnya saja. perhatikan dua hal  ini :

  • Tuhan tidak melihat wajah rupa dan fisik seseorang, tetapi  bagaimana wajah perbuatannya,
  • Tuhan tidak melihat hasil usaha dan hasil amal perbuatannya, tetapi melihat dari caranya berusaha dan beramal…

Bila kita renungkan lagi, samakah orang berusaha dan beramal atas dorongan petunjukNya dengan orang yang berusaha dan beramal atas dorongan diri dan orang lain.  Tentu berbeda hal itu di mata Tuhan.

Amal perbuatan yang dilakukan yang didorong karena melaksanakan petunjukNya adalah bernilai amal sholeh, sementara cara berusaha dan beramal karena dorongan diri dan orang lain sudah tentu bukan amal sholeh dan tidak bernilai apa-apa di mata Tuhan sebaik apapun perbuatan itu dilakukan.

Kiranya pandangan islam dalam melihat seseorang serupa ini perlu dibudayakan dalam membangun kembali persepsi dimasyarakat saat ini bahwa seseorang itu jangan dinilai dari hasil bagaimana jabatannya, berapa kekayaannya, berapa rumah dan berapa mobilnya, namun lebih pada bagaimana proses dan perjuangan seseorang untuk mendapatkan itu.

Masyarakat yang cenderung melihat hasil ini akan mendorong orang untuk menghalalkan segala cara kemudian korupsi karena dengan mempertontonkan wajah yang rupawan, kekayaan dan jabatan barulah masyarakat memujanya.

Hanya orang yang takut pada Tuhan akan berupaya teliti dengan hartanya, karena Tuhan akan melihat bagaimana caranya atau proses ia mendapatkannya, lalu selanjutnya setelah dapat dengan itu bagaimana ia menafkahkannya agar sesuai dengan jalan Tuhan. Lalu yang dipercaya Tuhan mendapatkan jabatan akan berupaya amanah dengan jabatannya itu.

(Maghfirotul Qulub, buku 2)

Wallahu a’lam

Advertisements