Nafsu: arti, macam dan cara mengendalikannya

hawa-nafsu

Arti Nafsu

Nafsu adalah karunia  yang diberikan Allah SWT agar manusia dapat melestarikan dan dan kesempurnaan hidupnya. Dengan nafsulah manusia dapat bertahan, berusaha, berikhtiar mencari rezeki.

Dengan nafsu manusia mampu menghasilkan alat dan sarana hidup yang dikembangkan lewat akal dan pikirannya berupa teknologi, berinteraksi dengan sesama serta lingkungannya yang menghasilkan kebudayaan dan peradaban,   sehingga hidup manusia menjadi lebih mudah, teratur  dan indah serta bermartabat tidak seperti hewan.

Di pihak lain, Nafsu selalu dikonotasikan negatif sebagai musuh yang harus diperangi dan dimatikan, karena dengan menuruti hawa nafsu berarti langkah menuju kehancuran. Dalam hal ini kita harus melihat selalu pada dua hal, disamping Tuhan memberikan ketetapan, namun dipihak lain ada keleluasaan Tuhan pada manusia terkait karunia akal dan pikirannya.

 Bentuk dan macam Nafsu

Nafsu kemudian digolongkan menjadi 4 yang dilihat dari kecenderungannya yaitu :

  • Nafsu Amarah yaitu nafsu yang berkaitan dengan kekuasaan atau tahta,
  • Nafsu Lawamah yang berkaitan dengan harta,
  • Nafsu Supiah yang berkaitan dengan wanita dan keindahan.
  • Satu nafsu lain yang baik adalah Nafsu Muthmainah.

3 nafsu pertama bila terlalu diperturutkan akan mengarah pada nafsu yang tidak terpuji (Mazmummah). Sementara  Nafsu Muthmainah akan mengarah pada hal yang terpuji (Mahmudah) sebagaimana diungkapkan secara jelas melalui Firman Allah:

Hai jiwa yang tenang…Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya… Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku….Masuklah ke dalam surga-Ku.( Al Fajr 27-30)

Cara mengelola Nafsu

Sesuai uraian diatas nafsu memiliki dualisme dapat mengajak pada positif dan negatif. Oleh karena itu mensikapi dualisme pengertian  ini, langkah yang baik adalah mengambil jalan tengah bahwa nafsu tidak boleh dimatikan tetapi dikendalikan,

Nafsu hanya dijadikan sebagai alat / sarana bukan sebagai tujuan. Tujuan kita bukan pada nafsu yang orientasinya pada tahta, harta dan wanita, tetapi  satu yaitu bagaimana dengan itu dapat diabdikan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Firman Allah : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?(Al Jatsiyah : 23)

Mengenai untuk mengambil jalan tengah mengenai keberadaan nafsu, tergambar dalam Firman Allah: 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.(Yusuf : 53)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s