Kaitan nafsu dengan pikiran, perasaan dan kemauan pada manusia

pikiran

Ki Hajar dewantara secara jelas menyatakan bahwa unsur diri adalah cipta, rasa dan karsa, sebagai modalitas manusia menjalankan kehidupan dan penghidupannya di dunia.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan kemampuan pikirnya, manusia dapat melahirkan berbagai ilmu dan teknologi yang memudahkan hidup manusia. Dengan Perasaan, manusia dapat melahirkan berbagai rasa yang termanifestasi dalam bentuk seni, keindahan yang mencerahkan kehidupannya dan dengan Kemauan, manusia dapat melestarikan hajat hidupnya berupa ambisi untuk mengumpulkan kekayaan berupa harta yang mendukung kehidupannya.

Dalam kaitan itu, karakteristik pikiran,  perasaan dan kemauan bila dikaji dalam hal sifat dan outputnya adalah sangat sesuai dengan penggolongan nafsu yang dijelaskan Allah dalam Al Quran mengenai keberadaan nafsu.

Nafsu-nafsu dalam diri manusia

Dalam Islam disebutkan bahwa ketiga itu adalah sebagai nafsu yang diberikan Allah kepada manusia  sebagai sarana atau alat agar dirinya dapat memenuhi kebutuhan dan menjaga kelestarian hidupnya.

Ada sinkronisasi yang jelas dalam penggolongan nafsu dalam islam yang terdiri dari nafsu amarah, supiah dan lawamah dengan konsep cipta rasa dan karsa sebagai berikut:

  • Nafsu amarah, berorientasi pada tahta karakteristiknya dilahirkan dari unsur cipta yaitu pikiran,
  • Nafsu Supiah,  berorientasi pada seni dan keindahan yang sering diungkapkan kepada kecenderungan seseorang berupa rasa atau cinta kepada pasangannya seperti laki-laki kepada wanita, begitupula sebaliknya yang dilahirkan dari unsur rasa/perasaan,  dan
  • Nafsu Lawamah berorientasi untuk mengumpulkan kekayaan atau harta yang  dilahirkan dari unsur karsa/kemauan.

Sifat Nafsu

Dengan nafsu amarah atau yang ditunjukkan manusia yang mengagung-agungkan  pikiran,  maka lecturenya akan  cenderung tiada henti mengejar kemenangan dengan tujuan akhir adalah tahta atau kekuasaan, bila tidak dapat dia akan kecewa. Manusia yang dikuasai pikiran akan asyik menguasai orang lain sementara diri belum dapat dikuasainya. Manusia yang dikuasai pikiran akan melemahkan akalnya, tidak mau mengerti kebenaran dan keadilan dan cenderung ambisius hidupnya.

Dengan nafsu Supiah atau yang ditunjukkan manusia yang mengagung-agungkan  perasaan, maka lecturenya akan  selalu menganggap dirinya paling terpuji dan indah. Dirinya juga mudah tersentuh, terhadap hal-hal terkait indahnya syair dan karya seni yang melenakan jiwanya. Baginya keindahan akhirat terutama surga hanya berita bohong.

Dengan nafsu Lawamah, atau yang ditunjukkan manusia dengan mengagung-agungkan ambisi dan  kemauan akan berlari kencang siang dan malam tanpa henti, tidak kenal lelah dan terik matahari untuk mengejar harta benda dan kekayaan dunia, kelezatan dan kebanggaan dirinya atas harta-harta yang dimilikinya. Dirinya akan menjadi bakhil alias kikir  dan tiadanya rasa malu akibat kebakhilannya itu

Keseimbangan kualitas nafsu yang termanifestasi pikiran, perasaan dan kemauan dan kualitas dzikir

Kualitas nafsu yang termanifestasi pada pikiran, persaan dan kemauan telah menghasilkan aneka produk yang mencengangkan manusia, seakan dengan kualitas itu sudah mencukupi manusia. Manusia jadi mengagung-agungkan kualitas nafsunya  sehingga tidak memerlukan Allah.

Secara faktual manusia memang dapat bergantung sepenuhnya pada  3 kualitas itu untuk melangsungkan kehidupan dan penghidupannya, Namun cepat atau lambat kualitas nafsu yang tidak dikawal dengan agama akan sukar dikendalikan dan akhirnya cenderung bersifat mudharat atau merusak manusia itu sendiri.

Karena itulah kualitas nafsu harus diimbangi dengan kualitas dzikir yang akan mengawal kualitas nafsu manusia untuk mengupayakan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupan saja dengan terus menumbuhkan kesadaran bahwa Allahlah pemilik semua ilmu. Kualitas nafsu yang dimiliki akan diterima dengan kesyukuran dan menjadikan sebagai amanat dan juga bekal untuk lebih memperkokoh keimanan dan untuk dapat selalu beribadah kepadaNya.

Allah melalui firmanNya dalam ayat terakhir surat Al Fajr juga melengkapi manusia dengan nafsu baik yaitu Muthmainah yang menyebutnya sebagai “Hai Jiwa yang tenang”. Nafsu inilah yang melahirkan manusia untuk terus meningkatkan kualitas dzikir, dengan selalau mengingat kepada Allah.  Dalam Firman yang lain disebutkan bahwa hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa seseorang akan berada pada kualitas yang tertinggi, jika seseorang itu selalu mengutamakan pikiran baik, perasaan baik dan tindakan atau kemauan yang baik.  Segala kebaikan itu tidak lain keluar dari kualitas dzikir seseorang karena dirinya selalu ingat kepada Allah

Dengan demikian lecture seseorang yang memiliki kualitas dzikir yang baik sudah tentu akan mampu memimpin kualitas nafsunya. Dengan begitu dirinya akan selalu sadar akan keberadaan diri dan apa tujuan hidupnya. Dirinya akan tidak terlalu berambisi atau berlebihan dalam mengagungkan nafsu-nafsunya.   (Maghfirotul Qulub 2, KH Akhyari)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s