Islam dan Primbon

buku-primbon-jawa-kuno

Manusia suka meramal adalah terkait dengan sifat manusia yang selalu tergesa-gesa ingin mengetahui apa yang terjadi esok atau kemudian. Begitu pula sifat manusia yang dekat dengan itu, yaitu panjang angan-angan dan suka berandai-andai. Dalam Islam hal ini tidak diperkenankan karena termasuk dosa besar, esok atau bahkan satu detik apa yang terjadi kemudian tidak ada yang tahu bagaimana wujudnya karena itu adalah bagian dari  rencana  Allah SWT.

Namun Allah memberikan gambaran bahwa semua ciptaanya yaitu seperti benda langit beredar dan teratur dalam garis orbitnya, siang berganti malam, bumi mengitari matahari dan munculnya bulan  dapat diprediksikan arah dan garis orbitnya bagi orang yang mau menggunakan pikiran dan akalnya.

Tuhan juga meminta kepada orang Mukmin untuk teliti terhadap setiap kejadian dan menegaskan ada kadar nasib yang diterima seseorang bahwa orang yang selalu beramal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik dan selamat dan sebaliknya orang yang memperturutkan hawa nafsu akan menemui kesulitan bahkan kehancuran di dunia dan balasan neraka.

Dalam meneliti diri terutama dalam kaitan pengenalan diri memang dianjurkan. Dalam Islam diperkenankan untuk melihat sifat-sifat yang didorong dari 4  nafsu yang ada. Setiap manusia memiliki 4 nafsu tersebut, tinggal mana yang lebih dominan. satu nafsu akan mengarah ke sifat seseorang dan bila dilakukan berulang-ulang akan menjadi karakter.

Karena itu Islam akan total agar tidak salah menilai seseorang yaitu dengan melihat  pada ucapan (qaul), perbuatan (af’al) namun juga sikap atau karakternya (Taqrir). Termasuk juga memperhatikan bawa unsur diri adalah tanah dengan sifat yang berbeda dengan unsur cahaya yang dimiliki malaikat dan unsur api untuk setan dan iblis dikala antar makhluk berinteraksi.

Primbon atau ramalan merupakan warisan orang2 tua dulu dengan mempelajari keteraturan dan petunjuk bintang, sifat-sifat alam dan unsur-unsurnya, hari baik dan bulan baik serta dimana tempat yang baik, bagaimana sifat / karakter manusia dan dalam manusia merencanakan dan memutuskan sesuatu.

Lalu bagaimana dengan Islam?…Islam menyebutkan bahwa semua hari adalah baik, walaupun sering disebutkan bahwa  bulan baik adalah Ramadhan, hari baik yaitu hari Jumat, hari arafah, waktu yang terbaik untuk berdoa/shalat yaitu waktu menunggu shalat antara azan dan iqomat dan sepertiga malam. Tempat yang baik yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi. Lalu sifat dan karakter manusia itu juga baik, tinggal bagaimana mengontrol dan membimbingnya kearah amal sholeh saja.

Lalu apa bedanya?…bedanya adalah pada cara melihatnya. Orang Islam melihat nasib dan mejalani hidup kedepannya adalah karena didasarkan pada petunjuk dari Allah SWT dalam hal ini Al Quran dan Assunah, Sementara orang yang percaya primbon atau ramalan menggantungkan nasibnya pada petunjuk selain Allah SWT dengan mengikuti apa2 yang tertera dan disarankan primbon dan mengabaikan ketetapan dan rencana  Allah SWT.

Sabda Nabi : “Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu mempercayai apa yang diramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi)

Cobaan untuk tidak datang kepada peramal semakin berat dikala sang peramal diyakini memiliki kemampuan melihat kedepan dan selalu benar ramalannya. Namun sekali lagi kepada Allahlah pemegang semua hal yang gaib, jangan tukar keyakinan kepada Allah dengan hanya mendapatkan sesuatu yang sifatnya ramalan.

Firman Allah : Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Al Annam : 59)

Umar bin Khattab Ra berkata: Jangan bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, karena yang telah terjadi saja menyibukkan kita dari sesuatu yang belum terjadi.

Karena itu tidaklah perlulah untuk tahu atau meramal terhadap apa yang akan terjadi besok, itu hanya buang waktu saja, karena yang terjadi hari ini saja sudah membuat repot. Tetapkan pada prinsip buatlah hari ini sebaik mungkin Insyaallah besok akan lebih baik.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s