Mengatasi sifat ragu-ragu

godaan-syetan-shalat

Ragu-ragu sebagai sifat

Acapkali kita dihinggapi ragu-ragu atau keraguan dalam hati. Ragu-ragu yang berlebihan bila dibiasakan akan melahirkan karakter peragu.  Karena itu janganlah ragu-ragu dijadikan karakter, namun tempatkan itu hanya sebagai sinyal / tanda tanda untuk menguatkan mata hati kita menghadapi perkara atau persoalan.

Pendapat para ulama terkait ragu-ragu

Ragu-ragu adalah perkara hati, karena semuanya kembali kepada keputusan hati dalam menetapkan suatu urusan itu untuk dijalankan atau tidak dijalankan. Terkait dengan itu lebih lanjut ada hadis lain yang berasal dari  Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, telah berkata :

Aku telah menghafal (sabda) dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “. (HR. Tirmidzi ).

Dalam perkara yang lebih umum sehari-hari ada panduan 4 nasehat Ulama untuk mengatasi diri tidak ragu ragu:

  • Imam Athaillah : Bila dua hal membingungkanmu, maka perhatikanlah mana yang lebih memberatkan hawa nafsu, lalu ikutilah. Sebab tak akan memberatkan hawa nafsu selain hal yang benar.
  • Khalifah umar Ra: Antara yakin dan ragu ragu ada tandanya yaitu melalui perbuatan. orang yang kita dapati melakukan amal penduduk surga menunjukkan bahwa dia sudah yakin. Sedangkan orang yang kita dapati melakukan perbuatan penghuni neraka menunjukkan bahwa dia masih dalam keragu-raguan.
  • Ibnu ‘Asakir ra terkait penjelasan mengenai ke hati-hatian (wara’):”Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah.”
  • Syaqiq al Balkhi: Jauhilah apa yang meragukan dalam hatimu, karena hati mukmin itu seperti saksi, bimbang jika subhat, akan lari dari haram dan tenang jika halal.

Bagaimana penerapan terkait sifat ragu-ragu

Dalam hal ini perlu kecerdasan akal dan ketajaman mata hati dalam menimbang perkara ragu-ragu apakah terkait perkara ibadah atau dunia sebagai berikut:

  • Jika ragu-ragu  terkait perkara dunia, maka berhentilah dan pertimbangkan lagi mungkin ada hal yang tidak sesuai dengan hati kita terhadap perkara yang akan diputuskan atau dijalankan.
  • Jika ragu-ragu terkait perkara agama, maka teruskanlah dan yakin bahwa ragu-ragu itu dihembuskan oleh golongan Azazil yaitu  Iblis setan dan Jin lewat hawa nafsu untuk menghambat manusia beribadah kepada Allah SWT.

Terkait perkara agama, seperti ibadah kuatir dan was was itu memang sengaja dihembuskan setan agar seseorang itu tidak yakin dan selalu ragu-ragu. Ada kisah dan hadist yang dapat dijelaskan terkait hal tersebut sebagai berikut:

Dalam suatu kisah diceritakan bahwa ada seseorang bertanya kepada ibnu Akil bahwa dirinya sudah mandi berkali-kali, namun dirinya masih belum yakin kalau sudah bersuci. begitu juga dalam berwudhu itu dilakukan pula berkali-kali dan dirinya masih belum yakin. Bertanyalah ia mengenai perihal ini kepada ibnu Akil.

Apa jawaban ibnu akil: “pulanglah kamu tidak wajib untuk shalat. Ia kaget mendengar itu. Kenapa ? tanya dia Kemudian ibnu Akil menguraikan hadis dan katanya : “tidak wajib shalat seseorang yang pertama, gila atau tidak waras sampai sadarnya, kedua tidur sampai bangunnya dan ke tiga anak kecil sampai akil baliknya.

Makin bingunglah ia mendengar penjelasan itu. “Lantas apa hubungannya?. katanya keheranan. Lanjut Ibnu Akil : “Maaf, kamu ini masuk kategori pertama yaitu tidak waras atau gila, karena sudah mandi dan wudhu berulangkali masih belum yakin kalau sudah suci, Karena itu saya persilahkan kamu pulang dan tidak perlu shalat.

Begitupula dalam shalat bila muncul keraguan karena kentut, itu juga cara setan untuk merusak shalat. Dalam hadis disebutkan bahwa yang dinamai kentut / buang angin itu jika sudah bersuara atau berbau, itulah yang dimaksud  batal, namun jika tidak ada tanda demikian teruskan saja, karena jelas bentuk tipu daya setan yang ingin merusak konsentrasi ibadah.

Dari abu Hurairah ra, ia berkata bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: Jika seseorang diantara kamu menemukan sesuatu dalam perut, lalu ia meragukannya, apakah sudah keluar sesuatu itu dari perut atau tidak, maka janganlah sekali-kali keluar mesjid sehingga mendengar suara atau menemukan baunya (HR Muslim).

Wallahu ‘alam

2 thoughts on “Mengatasi sifat ragu-ragu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s