5 makna musuh bagi seorang mukmin

iblis

Orang yang beriman atau Mukmin sejatinya tidaklah sendirian, namun terbiasa hidup dengan musuh-musuh dirinya. Pengertian musuh-musuhnya adalah segala hal yang berasal dari luar dirinya termasuk godan Iblis, setan dan jin.

Dengan demikian musuh diluar dirinya itu jumlahnya amat besar dan dari ke waktu terus menggempur dirinya dengan  berbagai kesenangan dan kelezatan dunia agar berpaling dari Nya.

Karena itu seorang Mukmin diminta untuk terus teliti dan alert terhadap musuh-musuhnya dan terus belajar dan berproses penguasaan diri sehingga tidak mudah jatuh dan kalah dengan berbekal sabar dan keyakinan bahwa Tuhan selalu bersamanya. Ada beberapa pengertian musuh bagi orang beriman sebagai berikut:

1. Musuh sejatinya tiada berbahaya dibanding diri

Kepada musuh yang ada dalam diri seorang beriman harus terus memohon kepada Allah agar dapat mengenali, mampu bernegosiasi dan menghadapi musuh-musuhnya dengan cara yang lebih baik sehingga dapat terus memimpin dan mengendalikan mereka, bukan kalah dari mereka.

Firman Allah :Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu) (Annisa : 45).

Musuh sejatinya tiadalah berbahaya dibanding diri. Musuh itu yang berasal dari luar diri memang sudah menjadi tugasnya untuk membisikkan dan meniupkan kesesatan kepada diri melalui hawa nafsu. Bila hawa nafsu mampu dikendalikan, sehinga tidak terlena dan tegoda bujukan itu, sudah barang tentu musuh dari luar itu juga tidak bisa berbuat apa apa kepada diri.

Hanya hawa nafsu yang dipimpin oleh akal yang sehat dan hati yang berimanlah yang mampu menghadapi musuh sehebat apapun canggihnya tipuan mereka kepada diri.

2. Musuh tidaklah selalu menjadi mudharat

Musuh tidak selamanya mudharat.  Tuhan menciptakan musuh pasti terkandung maksud dan tujuannya untuk manusia. Tujuan Allah menciptakan musuh adalah agar orang beriman memiliki jihad untuk semakin dekat kepada Allah.

Bahaya yang diciptakan musuh akan semakin meneguhkan dirinya untuk melawan mereka sehingga dapat terus beriman dan senantiasa memohon perlindungan dan bimbinganNya.

3. Musuh tidaklah perlu dibesar-besarkan

Orang mukmin memiliki kepercayaan diri yang besar, tidak mudah takjub akan jumlah besar atau kehebatan musuh-musuhnya. Orang mukmin tentu berbeda dengan orang munafik yang takut kepada musuhnya sehingga tidak berani maju berperang.

Firman Allah : …..Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya…..(Annisa : 77)

Karena itu takut kepada musuh apalagi tindakan membesar-besarkan musuh dan  menyandarkan kepada kekuatan mereka adalah perbuatan yang dilarang.  Kesadaran harus dimiliki seorang mukmin bahwa diri dan musuh adalah sama-sama ciptaan Allah dan Allahlah yang  kuasa menggenggam itu semua. Dengan demikian takjublah hanya kepada Allah yang memiliki keagungan dan kemuliaan yang tiada bertara.

Terhadap keberadaan musuh yang lebih besar, seorang mukmin juga harus yakin dan tidak merasa gentar dengan jumlah musuh yang lebih besar tsb, karena Allah selalu bersamanya, sesuai Firman Tuhan :

Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Al Baqarah : 149)

Ingatlah saat perang khandaq (parit), Umat Islam jumlahnya amat sedikit dibanding musuh. Namun demikian Allah menguatkan pasukan Islam sehingga dapat memenangkan perang itu.

Firman Allah : Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Anfal : 17)

4. Kalah menang kala menghadapi musuh adalah biasa

Kalah dan menang dalam menghadapi musuh adalah hal yang biasa dalam seseorang menghadapi pertarungan hidup. Orang Mukmin yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah kalah atau selalu menang dalam pertempuran hidup, melainkan orang yang selalu dapat mengembalikan dirinya atau bangkit untuk tidak kalah lagi dari kekalahan yang dialami sebelumnya.

Sabda Nabi : Dengan kata lain orang mukmin pastinya tidak akan terjerumus pada 2  lubang (bisanya jug ditafsirkan kekalahan atau kesalahan)  yang sama.

5. Keadaan  musuh mukmin di akhir zaman

melihat keadaan saat ini, Dari segi jumlah Umat Islam saat ini mayoritas dibanding yang bukan Islam. Namun dari total Umat Islam itu kenyataannya orang yang beriman jumlahnya tetap minoritas  yang banyak adalah  umat Islam yang nyatanya tiada beriman dan yang mengaku-ngaku dirinya beriman.

Rasulullah Saw sudah memprediksi keadaan kedepan dari umatnya serupa itu terkait beratnya tantangan umat Islam diakhir zaman sepeninggal beliau. Banyak umat Islam yang terlena dan larut dengan kesenangan dunia.

Inilah suatu masa dimana umat Islam walau mayoritas, kalah dari musuh-musuhnya, kecuali orang yang beriman kepada Allah  dan yang terus berpegang pada sunnah Nabi Saw.

sabda Nabi : Siapa yang berpegang teguh pada tindak / sunahku ketika umatku berantakan tiada menentu maka baginya 100 orang yang mati syahid (HR Ibnu Abbas)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s