Kisah Hanafi menghadapi Atheis

imam2bhanafi

Hanafi kecil datang kepada gurunya sheik Habban dan berkata:’ Guru semalam saya bermimpi bahwa ada seekor babi sedang menggaruk-garuk dan mengorek-ngorek pohon berusaha untuk merobohkannya. Tiba-tiba muncul seekor ular mendekati dan membunuh si babi. “. Sang guru mahfum dengan apa yang diceritakannya. 

Bersamaan dengan itu Sheik Habban mendapat perintah raja agar datang ke Istana karena beberapa Ulama tidak ada yang mampu menandingi Dahry seorang Atheis dalam berdebat untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Teringat akan mimpinya itu, Sheik Habban  kemudian  mengutus Hanafi kecil menghadapi Dahry si Atheis.

Tibalah Hanafi di Istana dan sudah ditunggu oleh Dahry yang sudah duduk di kursi samping raja. Melihat Hanafi kecil yang datang, Dahry berkata ” Tuanku saya keberatan kalau harus berhadapan dengan anak kecil” . Hanafi kecil kemudian menjawab dengan tenang: ” Saya juga keberatan menghadapi orang yang tiada berakal”.

Mendengar ini Dahry marah dan merasa tersinggung dan meminta agar Hanafi dimasukkan penjara karena telah menghinanya.  Hanafi menjawab: ” Tunggu dulu, ini bukan penghinaan tetapi awal dari perdebatan, baiklah bila kamu tiada berakal coba tunjukkan dimana akalmu?” . Dahry kebingungan menjawabnya” bagaimana saya bisa tahu bentuk akal, siapapun pasti tidak tahu”.

Hanafi dengan santai menjawab: ” Kalau tidak tahu bentuk akal, mengapa pula kamu bertanya mengenai bentuk dan wujud Tuhan “. Mendengar itu Dahry kaget dan tidak mengira kalau ucapan anak kecil itu membuat ia tidak bisa berkata-kata lagi.  Raja memutuskan bahwa Hanafi kecil menang dalam debat tersebut dan disambut tepuk tangan hadirin.

Dahry menerima kekalahan dan meminta babak selanjutnya dan menanyakan kepada Hanafi: ” Bila Tuhan ada apa yang sedang diperbuatnya sekarang ?’. Hanafi tidak segera menjawab malah bertanya hal lain : ” Raja, bila saya telah menang babak pertama mengapa saya masih duduk dikursi yang lebih rendah? seharusnya saya duduk di kursi yang diduduki Dahry sekarang.

Raja kemudian setuju dan memerintahkan Dahry agar segera bertukar tempat duduk dengan Hanafi kecil. Perpindahan kursi keduanya ini lantas membuat sorakan hadirin. Hanafi kemudian berkata ” Hai Dahry itulah perbuatan Tuhan yang memindahkan kamu pada kursi tersebut”. Dahry mengelak : “Bukan Tuhan, Rajalah yang yang memerintahkan aku pindah” .

Kemudian Hanafi meminta persetujuan Dahry: “Baiklah bila demikian, kita tanyakan langsung saja pada Raja, Tuanku siapa yang menggerakkan hati dan lidah Tuan?”. Raja menjawab bahwa yang menggerakan hati dan lidahku berkata demikian adalah Allah SWT”.  Mendengar itu Dahry pucat pasi bahwa dia kalah lagi dan menyerah pada Hanafi kecil. Sesuai keputusan Raja, Dahry kemudian dimasukkan penjara.

Hanafi kecil dengan senangnya langsung pulang dan menceritakan semuanya kepada gurunya Sheik Habban. Dan guru berkata: “Kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik, begitulah arti tabir mimpimu bahwa yang pohon besar adalah Iman, sementara babi adalah Dahry dan ular itu adalah kamu”.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s