Memahami Perbedaan Takdir dan Nasib

taklid_2

Perkara ini adalah hal yang sangat sulit, dan karenanya bila benar hanya datang dari Allah, jika salah mestinya dari kebodohan saya semata.

Dalam perihal takdir, sesuai peristiwa Awalin kejadian manusia, bahwa manusia sebelum diturunkan kedunia telah ditetapkan 4 takdirnya yaitu rezeki, jodoh, ajal, bahagia dan celakanya. 4 hal ini murni rahasia Allah.

Dipihak lain dalam perihal Nasib Allah memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk manusia untuk merubah nasibnya sesuai dengan kadar kemampuan yang dimilikinya.

Dari 2 pengertian ini, yang pertama  terdapat unsur kepasrahan (Fatalisme) untuk manusia agar selalu mengikuti ketetapanNya, Tuhan sebagai obyek dan manusia sebagai Subyek. Sementara pengertian kedua mengacu dengan diberikannya manusia akal dan pikiran sehingga diberi daya atau kemampuan untuk merubah nasibnya. Dalam hal ini manusia diberi subyek, namun sebagai subyek fana.(terbatas)

Lalu bagaimana penerapannya? Secara sederhana menjadi demikian:

Rezeki : Allah menetapkan rezeki kepada makhluknya tak terkecuali burung-burung dan binatang melata yang bergerak lambat sekalipun mendapatkannya. Takdirnya manusia itu juga demikian pasti mendapat rezeki, hanya mengenai banyak tidaknya seseorang mendapatkan  rezeki itu adalah bagaimana nasibnya manusia sendiri mengusahakannya.

Jodoh : Alah menjadikan segala sesuatunya berpasangan termasuk laki-laki dan wanita, agar dapat saling kenal mengenal dan menjadikan tentram antara satu sama lainnya yang diikat dengan perkawinan. Takdirnya manusia itu untuk mendapatkan jodoh, namun soal mendapatkan pasangan yang baik atau tidaknya (sholeh atau sholehah) atau kapan waktunya adalah tergantung nasibnya dalam mengupayakannya.

Ajal / maut: Ajal/maut bila datang tidak dapat ditangguhkan waktunya atau dimajukan walau sedetikpun. Takdirnya manusia itu pasti menemui ajalnya, namun soal kapan waktunya dicabut / ajalnya itu dalam keadaan baik (husnul khotimah) atau buruk (su’ul khotimah) adalah bagaimana nasibnya dalam mengikhtiarkannya.

Bahagia dan Celaka : Takdirnya manusia adalah mendapatkan bahagia dan celaka, namun soal mana yang lebih banyak datang bahagia atau celakanya tergantung pada nasib manusia mengupayakannya. Tidak ada  bahagia dan celaka ditimpakan oleh Allah  kecuali atas IzinNya. Sabda Nabi: “Tidaklah setiap kejadian dan peristiwa yang dialami seseorang kecuali atas izin Allah (HR Attirmidzi dan Ibnu Hibban)

Wallahu a’lam

Advertisements

16 thoughts on “Memahami Perbedaan Takdir dan Nasib

  1. Sedikit ingin berbagi tentang bagaimana takdir Allah bekerja untuk kita adalah dengan memahami pola struktur geometri bangunan Ka’bah dan pola susunan Al Qur’an serta pola gerak Asmaul Husna yang dapat di baca pada : http://www.polaruangalquran.blogspot.com pada tulisan berjudul : manhaj al bait al atiq
    Yang pada intinya takdir Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Takdir Allah bukanlah sebuah garis lurus melainkan sebuah RUANG yang tersusun dari begitu banyak garis yang saling bersimpangan dan saling mempengaruhi.

    1. sdr eiyvan…alhamdulillah masukannya memberi pencerahan bahwa masalah takdir dan nasib memang bukan hal yang sederhana, masih banyak rahasia yang harus diungkap mengenai hal itu.

  2. كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

    “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

    Kalau memang takdir sdh Alloh tetapkan, untuk apa lagi kita berbuat, toh Alloh sdh tetapkan nanti masuk surga atau neraka?

    عَنْ عَلِىٍّ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .

    Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:

    “Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”.

    Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”,

    Beliau menjawab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”.

  3. Saya kurang memahami takdir dan nasib seseorang .apabila pernyataan diatas bahwa manusia sebelum lahir sudah ada ketentuannya,kalau memang benar sudah ditentukan allah SWT,berarti allah sudah menyiapkan ketentuan tersebut,pertanyaan saya : apakah manusia yg mskin emang sudah ditakdirkan harus miskin,apakah orang kaya ditakdirkan harus kaya,kalau emang manusia sudah ada dalam ketetapannya harus kaya,berarti manusia kya tersebut sudah ga perlu kerja lagi,karena sudah dijamin ketentuannya dalam arti diam aja ga mikirin usaha.Pertanyaan kedua:surga dan neraka allah ciptakan bagi umat dialam jagat raya ini,kalau orang sudah ada dalam ketentuan harus masuk surga,berarti orang tersebut ga perlu lagi harus beribadah,apakah begitu?Kami mohon untuk penjelasan nya terimakasih.

    1. Terima kasih atas perhatiannya pada tulisan mengenai takdir dan nasib…Takdir dan nasib adalah suatu yang berbeda…takdir adalah ketetapan Allah kepada seseorang sementara nasib adalah ikhtiar seseorang. Takdir memang tidak dapat diubah, namun dengan perbuatan baik, doa dan sedekah yang tulus dari seseorang takdir buruk dapat dihindarkan. Dalam bicara takdir baca pula tulisan saya jangan terlalu cepat menilai suatu takdir itu baik atau buruk…karena bisa jadi itu sebuah rangkaian proses yang diberikan Allah kepada Seseorang.https://perkarahati.wordpress.com/2016/08/04/jangan-terlalu-cepat-menyimpulkan-nasib-itu-baik-atau-buruk/.

  4. .saya masih kurang paham nih mslh jodoh, katanya, jodoh takdir Allah, dgn siapa pun itu berarti dia lah yg di takdirkan Allah utk kita, lalu soal mendptkan psangan yg baik dan tidak, tergantung kita yg memilih??? Bukannya pasangn tadi sdh di tetap kan oleh Allah siapa yg akan menjadi yaa????
    .seselektif apa pun kita mencari psangan, akhirnya kan bakal tetap balik sama org yg sdh di takdirkan? Tolong pnjelsan nya bang ttang jodoh ini?? Thanks

  5. Sy kurang setuju dgn rejeki, tergantung dari kita Krn ada beberapa case orang usaha jungkir balik tpi blom d mudahkan dlm memperoleh rejeki, tapi ada beberapa orang tdk perlu capek2 kerja rejeki dtng dgn sndri, so rejeki dari Tuhan takarannya bkn dari usaha orang tsb!

    1. Assalamualaikum
      Diawal saya nyatakan bahwa tulisan ini hanya memudahkan kita untuk mengetahui perbedaan takdir dan nasib yang sering rancu. Benar banyak contoh orang yang kerja keras namun belum hasil hasil hasil. Dan Allah meyakinkan bahwa seseorang itu akan sukses bila bersungguh sungguh seperti makna man jada wa jadda. Lalu salahnya dimana? Disinilah ujian seseorang yang beriman untuk terus sabar tekun dan selalu terus berusaha dan yakin kalo kerja keras tidak akan menghianati hasil. Coba dan terus mencoba dan tidak lepas dari permintaan kepada Allah akan usahanya itu tanpa putus asa. Kerja keras juga tidak asal kerja keras tetapi kerja cerdas terus melakukan inovasi dan terobosan sehingga dapat membuahkan hasil. Adapun orang yang tidak keras hasilnya lebih baik serahkan saja pada Allah jangan lantas kita iri dengan itu, biar diri tetap fokus dengan usaha sendiri.baca tulisan lain saya https://perkarahati.wordpress.com/2016/08/04/jangan-terlalu-cepat-menyimpulkan-nasib-itu-baik-atau-buruk/
      Wassalamualaikum wr wb

  6. Asalamualaikum wr wb
    Maaf saya mau tanya tentang takdir ,, kalau memang allah swt sudah menuliskan takdir kita sebelum kita lahir , lalu bagaimana dengan orang yang murtad dan menyekutukanya , bukankah allah swt membenci orang yang murtad ,,lalu kenapa allah swt membenci orang tersebut ,kan takdirnya sudah di tulis sebelum dia ada di dunia termasuk ke’murtad’nya

    Maaf jika saya bertanya begitu, tapi memang pertanyaan itu sudah mengganggu pikiran saya sejak lama ,dan saya belum menemukan jawaban itu
    Trima kasih, wasalamualaikum wr wb

    1. Walaikum salam
      Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepadanya dan setiap manusia yang lahir dalam keadaan bersih atau fitrah. Takdir yang sdh ditetapkan Allah hanya ada 4 yaitu jodoh rezeki ajal dan bahaya dan celaka dan semuanya dapat dikelola melalui ikhtiar seseorang dalam menggapai nasibnya. Terkait bahwa seseorang menjadi murtad bukanlah takdir tetapi memang pilihan orang itu berpaling dari Allah. Petunjuk dan pedoman hidup untuk berpegang pada tali Allah sdh ada melalui Al Quran dan assunah dan tidak ada alasan orang saat ini tidak mengetahui akan kebenaran Allah sebagai jalan selamat bagi hidupnya. Karena itu dalam konteks ini Allah sangat membenci orang murtad itu. Tugas kita saat ini adalah tetap tawakal dan istiqomah dan dijauhkan dari sifat dan perbuatan murtad yang menjauhkan kita dari Allah. Untuk tetap pada iman harus meminta bantuan Allah karena Allahlah pemberi hidayah bagi sekalian manusia.
      Wassalam

      1. Terima kasih atas atas pencerahan yang bapak berikan saya ,sungguh sangat bermanfaat bagi saya pribadi ,dan satu lagi dan terakhir saya ingin bertanya ,
        Saya hidup di lingkungan yang kaya keberagaman dan kerukunan antar umat beragama, dan saya pernah di tanya oleh tetangga saya yang beragama hindu ,, dia bertanya :kenapa dalam islam tuhan mu (allah swt) murka dan sangat membenci kepada orang yang murtad bukankah sifat murka ,marah ,dan membenci adalah sifat negatif manusia yang tidak harus dimiliki tuhan??,,dan dalam agama hindu ,dewa yang mereka puja tidak memiliki sifat sifat tersebut dan sifat negatif lainya kepada manusia entah kepada yang mengimaninya atau kepada yang tidak ,,

        Dari situ sanya hanya terdiam tidak tahu harus menjawab bagaimana,, mohon jika berkenan memberikan pencerahan kepada saya ,terimakasih

      2. Assalamualaikum Wr Wb
        Alhamdulilah jika bermanfaat …dari sifat Allah dalam Asmaul Husna semua sifat Allah baik namun juga ada sifat yang tegas seperti yang maha menyempitkan maha menghinakan, maha mematikan, maha pemberi derita, maha menyiksa dan maha memaksa kepada makhluknya. Namun perlu dipahami sifat sifat tersebut tiada lain wujud kasih sayang Allah agar hambanya menjadi sadar dan tidak berpaling darinya. Prasangka baik kepada Allah sangat diperlukan dalam hal ini sehingga sifat sifat tegas yang diberikan Allah kepada Allah akan disikapi dengan suka cita sebagai wujud perhatian Allah kepadanya.
        Terkait dengan pertanyaan Allah itu marah murka dan membenci yang murtad juga harus dipahami demikian.
        Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s