Tidak dikatakan seorang beriman kalau tidak diuji

4

Sabda Nabi: Wahai anak Adam, barangsiapa yang tidak bersyukur atas nikmat dariKu dan tidak sabar dengan segala cobaan dariKu. Maka keluarlah kamu dari bumiKu ini dan carilah Tuhan selain Aku.

Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada kita, hakikatnya merupakan salah satu sarana untuk mentarbiyah manusia agar menjadi manusia yang beriman, bertauhid dan berilmu.

Sebagaimana orang belajar untuk mendapatkan gelar sarjana atau kenaikan tingkat pendidikan haruslah dilakukan ujian dan harus dimiliki guru pembimbing. Begitu juga dalam proses mendapatkan  Tauhid, iman dan Ilmu Allah. Lalu siapa guru pembimbingnya sudah tentu adalah nabi Muhammad Saw. Rasul sendiri menyatakan bahwa proses kenabian yang dijalaninya para nabi-nabi adalah yang terberat.

Sabda Nabi : Kami para nabi adalah yang paling berat diuji, sedangkan yang lainnya adalah sesuai dengan taraf mereka. 

Namun demikian  Tuhan meyakinkan bahwa ujian yang diturunkan kepada manusia adalah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing orang. Tuhan mengajarkan untuk menghadapinya dengan menjadikan diri sabar dan shalat sebagai penolong.

Firman Allah : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (Albaqarah : 286)

Apakah setelah naik tingkat dan derajat lalu urusan selesai?

Firman Allah: ” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Alankabut :2 )

Naiknya derajat atau tingkatan tersebut bukan berarti urusan selesai, karena hidup ini adalah proses yang terus berlanjut. Semakin tinggi atau derajat seseorang maka semakin tinggi resiko yang akan dihadapinya. Ibarat seseorang dekat dengan raja, maka segala perbuatan dan prilakuanya harus mencerminkan loyalitasnya.

Karena itu harus terus waspada dan menjaga sopan santun kepada rajanya. Sedikit saja menyeleweng atau bersebrangan pendapat akan dinilai raja sebagai sikap yang menentang.

Firman Allah : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Albaqarah 214).

Orang yang mencapai tahapan ini akan bersedih jika mendapatkan kemuliaan atau kebaikan dengan berucap istighfar  dan sebaliknya akan bergembira jika musibah datang menemuinya dengan mengucapkan hamdallah. Musibah yang datang akan disikapi dengan suka cita sebagai tetap adanya kasih sayang Allah kepada dirinya dan adanya kesempatan naik tingkat bila dapat melalui ujian musibah itu.

Sesuai Firman Allah :  Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Ali Imran 120)

Wallahu a’lam

6 thoughts on “Tidak dikatakan seorang beriman kalau tidak diuji

  1. bukankah para ulama adalah org2 beriman? dan iman nya tinggi? tp gw liat mrk hdup nya enak.. spt tdk ada ujian yg mrk hadapi. mrk gampang dpt jodoh, rejeki, dihormati dll. yg ujian nya berat malahan gw yg iman nya tipis. gw saat kecil sakit sakitan. gw sering dijahati org berthn thn. susah nyari jodoh dan rejeki dll. gw di dunia bagai sampah. masa dpan suram. mungkin krn gw bodoh dan lemah. seandainya gw pandai dan gagah perkasa, mungkin ujian nya.. gw akan bergelimang harta, tahta dan wanita.

    • Terimak kasih Luthfi…Allah itu maha adil dan ujian akan ditimpakan sesuai kadar/kemampuan masing-masing orang. bukan berarti bergelimangnya harta, pujian popularitas ulama itu sebagai berkah, tetapi dapat sebagai ujian yg bila gagal dapat membuat mereka jatuh ke posisi paling hina didunia.
      Sementara diri yang awam juga mengalami jenis ujiannya sendiri sebagai bentuk tarbiyah Allah prsangka baik terhadapNya, agar kuat mental dan tabah sehingga dapat terlahir sebagai orang sabar dan selamat. Tiada balasan bagi orang sabar kecuali surga.

  2. Saya bingung,, saya dulu suka mesum tp ttap menjalankan ibadah, tapi semua berubah saat pikiran saya berantakan tak terkendali, mikir sana sini ini itu dan negative. Semuanya serasa cm berputar2 dikepala tanpa bisa diresapi, sangat berbeda dengan dulu yg begitu nikmat. Saya sekarang binggung apakah syukur saya itu sudah benar / belum, apakah pikiran saya yg ngooceh dgn sendirinya itu merupakan bentuk ketidak sabaran saya dll. Bahkan kepercayaan saya mulai memudar tapi saya takut. Takut iman saya hilang. Takut dapat azab tapi kok saya sarasa tidak bisa bersyukur. Itu cobaan atau memang saya tidak beriman ? Tapi saya mulaii berbuat baik meski pikiran saya ngoceh negative. Mohon bantuanya . Labil psikis saya. Astagfirulahaladzim

    • Assalamualaikum Saudara Dirghantara…hidup ini adalah proses, perhatikanlah segala perbuatan jelek apabila kita jeli sedikit banyak berkontribusi kepada hal yang mudharat. Mudharat disini bukan sesuatu penyakit yang sifatnya fisik, tetapi mengarah kepada penyakit hati yang menjadikan diri terlena dan bergantung dengan perbuatan buruk itu. Setan jelas melenakan dengan menjadikan perbuatan buruk sebagai kenikmatan, namun sesudah itu penyesalan dalam hati kecil setiap orang pasti ada. Dikala merenung perbuatan buruk ini berkontribusi terhadap ketenangan jiwa dan kebesaran hati untuk berhadapan kepada Tuhan.
      Sebagai manusia kita tidak mampu untuk menghindari itu, namun terus dengan ibadah yang sudah dilakukan dapat memberi kekuatan untuk menghindarinya dan berjalan sesuai jalanNya. Satu hal lagi kiranya Tuhan dapat membuka hikmah dan ilmuNya terkaitan dengan perbuatan buruk yang dilakukan. sehingga memiliki kesadaran bahwa kenikmatan dunia adalah kenikmatan sesaat dan tiada habisnya untuk dikejar.
      Kesadaran juga mengarah untuk mencari kenikmatan yang diridhoi dalam artian yang diizinkan agama misalnya melalui perkawinan dan bila belum mampu dengan berpuasa.
      Lihat juga prilaku orang lain, tentu bukan untuk menebar dengki, namun melihat sebagai cermin diri sehinga diri dapat teliti melihat bagaimana akhir orang yang selalu berorientasi pada nafsu kemudian dibgelincirkan setan dalam kehidupan. lalu lihat pada diri, ternyata Tuhan sayang kepada kita tidak atau belum menjadikan diri sebagaimana orang itu yang tergelincir, namun masih diberikan jalan terus untuk bertobat, begitulah syukur kemudian dibangun. Demikian semoga bisa membantu
      Wassalamualaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s