Memahami makna kelebihan dan kelemahan diri

kelebihan dan kelemahan

Ada hal yang berbeda dalam hal orang beriman dan tiada beriman memandang kelebihan dan kelemahan diri.Perbedaannya adalah sebagai beikut:

Kelebihan diri bagi orang beriman dan tiada beriman

Bagi yang tiada beriman, kelebihan dirinya akan diagung-agungkan sebagai mutlak miliknya dan diupayakan sebagai hasil kerja dari kekuatan dan kemampuan dirinya. Karena itu kelebihan diri bagi orang yang tiada beriman akan mengarah kepada cinta diri, takabur dan sombong.

Sementara itu bagi orang beriman kelebihan dirinya disikapi secara wajar dan biasa, masing-masing tersimpan  amanat dan maksud Allah menjadikan kelebihan itu ada di dalam dirinya.  Kelebihan yang diberikan Allah kepada dirinya akan disikapi rasa syukur dan menyadari bahwa itu adalah wajar terkait keberadaan manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk ciptaanNya.

Dijadikan sebaik-baiknya makhluk tentu tersimpan kelebihan manusia dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya.  Pengetahuan yang diberikan Allah untuk dapat mengetahui kelebihan itu  juga merupakan karunia yang besar. Dirinya mengerti bahwa amanat kelebihan yang diberikan akan dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan berbagi kepada sesama. Bila ini tidak dimanfaatkan dengan baik Allah juga tiada segan mengambilnya kembali kelebihan itu dari diri.

Berangkat dari pemahaman akan keberadaan diri itulah orang yang beriman akan berusaha menggali dan menjaga kelebihan itu untuk diabdikan pada tujuan yang sebaik-baiknya yaitu beribadah kepada Allah sesuai yang menjadi amanatnya. Tampilan orang beriman dalam perjalanan hidupnya akan melahirkan sikap percaya diri, amanah  dan yakin dalam menempuh hidupnya.

Kelemahan diri bagi orang beriman dan tiada beriman

Bagi orang yang tiada beriman kelemahan dirinya akan berusaha ditutup-tutupi dan kebanyakan melihat kelemahannya itu hanya sebagai aib sehingga selalu menyesali dan berkeluh kesah yang tak berkesudahan sehingga menjadikan dirinya sulit maju

Sebaliknya dengan kelemahan diri, orang beriman akan berusaha menggali kelemahan dirinya dan pasti ada pengetahuan akan makna kelemahan itu diberikan kepada dirinya.  Padahal pengetahuan yang diberikan kepada Allah soal kelemahan diri juga bukan hal yang mudah didapat, terlebih bila diri dijangkiti sifat tidak sportif dan merasa dirinya selalu benar.

Dari kelemahan inilah diri akan terbuka atau mudah untuk menata diri untuk memperbaikinya. Banyak terjadi orang justru bangkit dari kelemahan diri dibanding kelebihan diri, karena kelebihan cenderung mendorong orang berprilaku sombong

Karena itu mengetahui kelemahan diri adalah aset bagi orang beriman. Hal ini disampaikan  Ali Bin Abi Thalib ra menyatakan bahwa pengenalan diri akan kelemahan dan kehinaan diri adalah suatu karunia. Banyak orang yang tidak bisa melakukan ini karena hijab dirinya merasa paling benar dan paling baik.

Ali Bin Abi Thalib berkata : Allah telah memberikan petunjuk kepadaku sehingga aku bisa mengenali diriku sendiri dengan segala  kelemahan dan kehinaanku.

Ibnu Athaillah menyatakan bahwa banyak orang yang sulit membuat pengakuan akan sifat-sifat diri yang penuh keterbatasan, ketidak berdayaan, Padahal menurutnya kemampuan melihat kelemahan diri itulah yang akan menyebabkan masuknya rahmat dan karunia Allah yang besar kepada dirinya.

Dari Al Hikam : Sadarilah sifat-sifatmu, niscaya Allah membantumu dengan sifat-sifatNya. Akuilah kehinaanmu niscaya Allah akan membantumu dengan KemuliaanNYa. Akuilah ketidakberdayaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuasaanNya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah membantumu dengan KekuatanNya.

Cara mengelola kelebihan dan kekurangan diri

Selanjutnya bila seseorang telah menerima kelemahan dan kelebihannya itu. maka perlu ada manajemen diri. Kemampuan mengelola ini adalah seni dan orang yang maju adalah yang mampu menonjolkan kelebihannya dan meminimalisir kelemahannya sehingga tidak terlihat.

Dengan demikian dapat disimpulkan sudah demikian adanya Allah berketetapan dalam menganugerahi kelemahan dan kelebihan kepada masing-masing diri, sehingga  karuniaNya itu berbeda-beda  atas satu dengan yang lainnya. Hal ini maksudnya agar orang tidak saling meremehkan sebagai sesama ciptaan Allah.

KH Mustofa Bisri memberikan saran agar diri selalu bercermin dalam 2 hal yaitu :

  1. Dengan cermin untuk selalu melihat kelemahan / cela  diri dan
  2. Cermin satunya untuk melihat kelebihan orang lain

Dengan demikian seseorang akan sportif dapat melihat kualitas dan kapasitas dirinya, baik dimata Allah maupun sesamanya. Beliau menyampaikan : “Jikalau diri dipuji padahal diri tidak pantas mendapatkan pujian itu, mengapa diri lantas menjadi senang. Sebaliknya kalu diri mendapat celaan, padahal diri anda tidak sepantasnya di cela, mengapa diri harus marah. “

Karena itu bagi seorang ahli hikmah, keberadaan keduanya yakni kelemahan dan kelebihan diri akan disikapi sebagai karunia Allah yang patut disyukuri.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s