Inilah 5 rahasia ketenangan dan ketentraman seorang mukmin

ketenangan hati

Ketenangan adalah karunia Allah, sesuai firmanNya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana(Al Fath: 4)

Pada masa kini orang yang benar-benar beriman sedikit jumlahnya yang besar adalah orang yang tiada beriman dan orang yang hanya mengaku beriman alias munafik. Beberapa hal dibawah ini adalah cara pandang orang beriman yang menjadikan diri mereka selalu tenang dan tentram dalam menjalankan kehidupan didunia:

1.Orang beriman memiliki petunjuk yang jelas dalam memenangkan pertarungan hidupnya

Bagi orang beriman, alam dunia dipahami sebagai panggung pergulatan dan perjuangan hidup. Dunia dari zaman ke zaman menampilkan keunikan berupa goncangnya kedudukan manusia. Jiwa yang goncang lebih banyak ditemui ketimbang jiwa yang tenang. Tidak jarang manusia tergilas roda perputaran dan menjadikan hidupnya menjadi sia-sia, Gangguan terjadi karena manusia tidak mampu memahami keberadaan dan fungsi dirinya.

Sementara orang beriman menggantungkan pada petunjuk yang terang dan jelas yaitu Al Quran yang menjadikan mereka mampu melepaskan beban persoalan hidupnya menjadi tenang dan tidak bingung dalam menjalani kehidupannya.

2. Orang beriman selalu dikarunia niat mulia dalam pergaulan hidupnya dengan sesama

Keyakinan dasar mengenai keberadaan alam dunia tersebut, berpengaruh terhadap orang beriman yang meneguhkan dirinya untuk selalu memiliki niat mulia baik kepada dirinya dan juga kepada lingkungannya. Dunia tidak didiami hanya orang beriman, melainkan sangat heterogen dan kompleks dan karena itu dirinya  menyadari tidak dapat hidup sendiri atau dengan kelompoknya saja. Heterogen dan kompleksitas manusia ini disadari sebagai kehendak Tuhan juga.

Walau demikian, dalam bergaul orang beriman akan selalu tafakur dan teliti tidak mencampur adukkan yang haq dan batil.

Firman Allah : Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Al Baqarah : 42)

3. Orang beriman selalu menerima dan berdiri diatas kenyataan

Kondisi diatas melahirkan kesadaran kalau orang beriman adalah selalu menerima kenyataan, dan karenanya tidak dapat lari darinya. Orang beriman menyadari adanya perubahan atau proses terus menerus yang menjadikan dirinya bukan sebagai patung hidup tanpa berbuat apa-apa. Sikap hidupnya sederhana namun mantap dan tidak ragu-ragu karena selalu dikendalikan keyakinan dirinya dan jauh dari coba-coba.

Hal ini menjadikan orang beriman tidak terburu nafsu, dan selalu bersyukur, karena produktifitasnya hanya ditujukan kepada kesejukan  dan kebahagian hidupnya saja. Sekiranya menerima hal yang diluar kemampuan dirinya, maka dirinya akan selalu tawakal dan bersikap sportif. Perbuatan orang beriman menjadi terlihat tertib, sopan dan santun.

Karena itu orang beriman berkontribusi besar terhadap ketenangan dan ketentraman masyarakat dimanapun dirinya tinggal.  Wajah sosialnya pasti nampak sebagai perwujudan niat mulianya itu hanya kepada Tuhan.

4. Orang beriman selalu konsekuen dan bertanggung jawab (amanah)

Dari semua itu, orang beriman akan menjadi orang yang konsekuen dan bertanggung jawab dan melihat segala sesuatunya dengan obyektif. Sekalipun sederhana, namun mempunyai keyakinan teguh, disiplin, tertib, sopan dan santun dalam berhubungan dengan orang lain. Sikap begini akan menjadi disukai teman dan disegani musuh.

Dalam berhubungan dengan orang lain mereka melihat pada kepribadian orang bukan pada status dunianya. Orang beriman menjadi tidak pamrih, tidak memaksakan kehendak  dan tidak ambisius, karena itu  dan niat mulianya adalah bagaimana menumbuhkan persaudaraan, tolong menolong dan gotong royong bukan sebaliknya mengobarkan permusuhan, saling menghancurkan, membuat kedengkian dan irihati. Diantara sesama orang beriman tidak dimintapun, dirinya akan mendoakan.

5.Orang beriman selalu berkesadaran ubudiyyah memandang dirinya hanya sebagai obyek Tuhan

Orang beriman menyadari kalau Tuhan adalah pengatur, sedang dirinya diatur oleh Allah. Dalam berusaha  dirinya akan menjadi tidak gila dunia dan selalu meminta agar diselamatkan dari tipu daya dunia. Sekalipun mendapat harta, pasti akan selalu ingat untuk dinafkahkan kejalanNYa sebagi wujud syukurnya. Orang beriman menjadi jauh dari penyakit hati yaitu melakukan kebohongan, kesombongan dan berupaya menjauhkan dari dosa.

Dari semua kesadaran itulah kemudian  Allah memberinya Hikmah kepada orang mukmin

Orang beriman pasti akan mendapat hikmah yaitu kebaikan dari segala kebaikan.

Firman Allah : Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(Albaqarah 269). Kebaikan atau hikmah yang datang dari Allah itu tidak dapat diukur dengan ukuran kebaikan manusia dan ditukar dengan apapun juga. 

(diambil dari Kitab Maghfiratul Qulub: buku ke 2, KH Akhyari).

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s