Prasangka, arti, ciri dan kerugiannya

prasangka

Prasangka adalah prilaku yang keluar dari kebiasaan orang zalim yang selalu sombong dan suka menghinakan orang lain. Mereka sangat membanggakan kemampuan diri dan hawa nafsunya dalam berhadapan dengan orang lain.

Prasangka dalam perkara yang ringan akan mengarah ke Ghibah/pergunjingan, sementara dalam perkara yang berat akan mengarah ke Fitnah.

Dalam beberapa ayat ditegaskan bahwa suatu prasangka tidak dapat dijadikan bukti kebenaran walau sedikitpun. Hal ini telah difirmankan Allah secara tegas melalui 2 ayatnya sebagai berikut:

Firman Allah : Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran (Annajm : 28) 

Firman Allah: Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus: 36)

Karena itu perlu kehati-hatian dan ketelitian dan memeriksa kebenaran dari prasangka itu. Dalam kaitan banyaknya informasi saat ini, informasi yang mengundang sensasi adalah yang paling digemari dan biasanya belum teruji kebenarannya yang penting itu menarik perhatian dan menyita perhatian masyarakat. Pentingnya untuk meneliti kebenaran dari prasangka adalah pada ayat berikut: 

Firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(Al Hujurat : 7)

Secara umum biasanya wujud dari prasangka yang disampaikan seseorang tidak lepas dari pengetahuan orang yang  yang melakukannya. Hal ini  ibarat falsafah teko. Misalnya teko berisi kopi, maka apa-apa yang keluar dari  mulut teko, pastilah kopi bukan yang lain. Dengan kata lain apa apa yang keluar dari orang yang berpikiran jelek akan cenderung keluarnya prasangka yang  jelek juga.

Prasangka akan menjadi perbuatan tercela bila menggunjingkan informasi menjurus kepada upaya menjelek-jelekan orang dan mentertawakan orang lain.  Maaf saja bila kemudian seseorang yang membuka aib saudaranya serupa itu dalam suatu ayat disebutkan bagai memakan bangkai saudaranya, begitulah perumpamaannya.

Nabi Saw bersabda: Seseorang yang mengucapkan suatu kalimat dengan maksud agar ditertawakan orang maka sungguh dia telah jatuh kedalam jurang yang kedalamannya sejauh jarak antara langit dan bumi. Sesungguhnya, lisan yang tergelincir berdampak lebih parah daripada kaki yang tergelincir

Ada juga ungkapan yang lebih keras bahwa  menjelekkan umat Islam sama saja dengan menjelekkan nabinya.

Sabda Nabi: ” Jauhkanlah dirimu daripada sangka (jahat) karena sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan,(hati)”. dan 

Sabda Nabi : “Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai, janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi dan janganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allah bersaudara.” (HR. Bukhari)

Walahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s