Makna lalai dan khusyuk dalam shalat

khusyuk

Lalai dalam shalat merupakan hal yang harus dihindarkan bagi seorang hamba dalam membangun hubungan kedekatan antara dirinya dengan  Allah SWT. Firman Allah dan hadist terkait hal itu adalah :

Firman Allah : “Maka celakalah bagi orang-orang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” [Surah al-Ma’un : 4-5].

Sabda Nabi: “Berapa banyak orang yang mendirikan solat, tetapi yang di peroleh hanya penat dan letih, karena mereka itu lalai dalam shalatnya.

Makna Lalai

Ayat Al Quran dan Hadis tersebut menggambarkan betapa banyak shalat yang didirikan oleh seseorang itu, tetapi malangnya ia tidak memperoleh pahala melalui shalat itu. Hal tsb disebabkan karena sulitnya untuk bisa khusyuk.

Lalai dalam shalat dapat diartikan beberapa hal  seperti :

  • Lalai dalam hal terkait waktu pelaksanaan shalat, tidak melaksanakan shalat diawal waktu melainkan menunda-nunda, bahkan melakukan shalat diluar waktu shalat.
  • Lalai terkait kesempurnaan shalat menyangkut proses dan tata tertibnya. Shalat yang sempurna harus didukung dengan wudhu yg sempurna juga. Meskipun tata tertib dan urutan shalat sdh benar bisa diartikan tidak sempurna bila dilakukan terburu-buru tidak tuma’ninah / tenang antara gerakan yang satu ke gerakan shalat lainnya.
  • Lalai dalam menghadirkan hati. Lalai ini terkait banyak hal yang dipikirkan manusia dalam shalatnya sehingga tidak dapat fokus kalau dirinya sedang menghadap Allah. Hatinya sama sekali atau sebagian hadir dalam shalatnya itu.
  • Lalai dalam artian melanggar komitmen ikrar yang diucapkan dalam shalat. Amal perbuatan yang dilakukan tidak mencerminkan shalat yang telah dilakukannya.

Anjuran dan cara  untuk khusyuk

Demikian hal tentang lalai. Lawannya lalai adalah khusyuk, Shalat dengan khusyuk dapat ditempuh dengan beberapa cara yaitu :

1. Niat dan motivasi karena cinta kepada Allah

Menetapkan niat dan motivasi dalam shalat yang hanya didasarkan kepada kecintaan dan sebagai kenikmatan dalam menjalankannya. Bukan menjadikan shalat sebagai beban, sekedar penggugur kewajiban dan tidak juga sebagai kebutuhan. Cinta dan hadirnya nikmat dalam shalat akan membuat diri enteng melaksanakan shalat dan mendukung terciptanya shalat yang khusyuk.

2. Yakin bahwa Allah melihat shalat kita

Adalah berusaha menjadikan diri dalam shalatnya itu sedang berhadapan dengan Allah (Ihsan). Yakinkan bila diri tidak mampu melihatNya, maka pasti Allah yang melihat diri melalui shalat yang dikerjakan. Itulah pentingnya Ihsan dibangun dalam shalat.

3. Menghadirkan hati dalam shalat

Imam Al Gazali menyampaikan bahwa bila sikap lahir terkait tata cara shalat sudah dipahami, perlu mengetahui sikap batin untuk melaksanakan shalat agar menjadi khusyuk. Sikap batin ini banyak sekali namun dapat diringkas menjadi 6 perkara yaitu :

  1. Menghadirkan hati
  2. Mengerti arti bacaan shalat
  3. Memahaagungkan Allah dalam shalat
  4. Memiliki ketakutan dan ketakwaan kepada Allah
  5. Berpengharapan kepada Allah atas shalat yang dikerjakan akan berbuah surga
  6. Malu terkait kelalaian  dan jiwa yang masih lemah yang ada pada diri.

Khusyuk berdasarkan pendapat para ulama

1. Cara Shalat Hatim Al Asham

Namun demikian dalam hal mengupayakan diri agar dapat berlaku demikian ada ucapan Imam Hatim al Asham yang maknanya luas dan komprehensif  agar shalat dapat khusyuk sebagai berikut:

Ketika memulai shalat aku merasa ka’bah di depanku, kemudian aku berdiri diantara harapan dan ketakutanku kepada Allah, sementara Allah melihatku, surga di kananku, neraka di kiriku, shirathal mustaqim di telapak kakiku, dan izrail telah menunggu di belakangku yang siap menyabut nyawa dan aku mengira ini adalah shalat terakhir yang aku lakukan.

Kemudian aku niat dan membaca takbir dengan baik, membaca ayat sambil memikirkan artinya, ruku dengan penuh kerendahan, sujud dengan penuh kehinaan, tasyahud dengan penuh pengharapan akan rahmatNya, dan membaca salam dengan hati yang Ikhlash. Inilah bentuk shalatku sejak 30 tahun” (Hatim al-Asham).

2. Ibnu Athaillah

Ibnu Athaillah dalam kitab Al Hikam berkata :

Agar khusyuk, orang yang shalat harus tenggelam dalam NurNya, tanpa membedakan diri dan dzatnya (antara diri dan esensi dirinya). Bentuk shalat hanyalah gerbang menuju halaman kehadiranNya yang kekal.

Shalat merupakan karunia Allah dan dengan itu seseorang dapat membersihkan hati dari kotoran dosa dan pembuka pintu keghaiban. Shalat yang efektif terlepas dari alam kasat mata dan merupakan sebuah penegasan kembali hubungan total dengan Tuhan, setelah hati ternoda oleh cinta serta keinginan duniawi.

Karat hati hanya dapat dihilangkan dengan dzikir dan shalat. Setelah hilangnya karat itu, jendela-jendela ilham akan terbuka, dan cahaya-cahaya dari yang ghaib akan bersinar terpantul dari cermin hati.

Shalat adalah sarana bermunajat serta sumber penyucian. Luas didalamnya arena rahasia Allah, dan terbit darinya cahayaNya. Allah mengetahui adanya kelemahanmu, sehingga dia menyederhanakan bilangan shalat. Allahpun mengetahui kebutuhanmu pada anugerahNya sehingga Dia melipatgandakan pahalaNya.

Terkait dengan 2 pendapat ulama ada tulisan sederhana dalam laman facebook terkait khusyuk sebagai berikut:

“Bila kau anggap shalat sebagai penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya. Bila kau anggap shalat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya.

Anggaplah shalat itu sebagai pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu. Anggaplah shalat sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Tuhanmu. Anggaplah shalat sebagai kondisi terbaik untuk berkeluh kesah dengan Tuhanmu. Anggaplah shalat itu sebagai seriusnya kau dalam bermimpi.

Bayangkan kala azan berkumandang, tangan Allah melambai lambai didepanmu mengajak kau lebih dekat dengaNYa. Bayangkan ketika kau bertakbir Allah melihatmu, Allah tersenyum, bangga terhadapmu. Bayangkan ketika ruku Allah yang menopang tubuhmu sehingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan kedamaian dalam sentuhanNya.

Bayangkan ketika sujud Allah mengelus kepalamu, lalu dia berbisik lembut di kedua telingamu “Aku mencintai HambaKU. Bayangkan ketika kau duduk diantara dua sujud, Allah berdiri gagah didepanmu, lalu mengatakan “Aku tak akan tinggal diam bila ada yang mengusikmu”. Bayangkan ketika kau salam Allah menjawabnya lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.

Dari sana kau tak lagi terburu-buru dalam shalatmu. Kau akan menjadi selalu tak sabar untuk dipertemukan Tuhan dalam shalatmu. Kau akan selalu rindu dan kau tak akan rela bila langsung meninggalkan sujudmu.

Bisa jadi kau akan menangis karena kau merasa Allah menantimu. Bisa jadi takbir pertama kau merinding karena pada saat itu kau bayangkan Allah melihat kau dengan senyuman”.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s