Hamka lebih memilih da’wah dari jabatan

hamka 2

Hamka secara tegas menolak semua jabatan yang diberikannya dan lebih memilih untuk berda’wah. Dari buku Ayahku, diketahui dibalik ketegasan Hamka demikian, ternyata itu adalah dorongan Istrinya yang lebih menginginkan suaminya tetap berda’wah daripada memangku jabatan.

Jenderal Nasution pada tahun 1960 bermaksud menjadikan Hamka sebagai Jenderal Tituler terkait peran perjuangan Hamka dalam menghimpun kekuatan rakyat di Sumbar dan Riau. Walaupun Jenderal tituler, fasilitas yang diberikan adalah sama dengan Jenderal karir. Kemudian Hamka berunding dengan istrinya. Apa jawaban Istrinya:

“Lebih baik Angku Haji tetap berperan di Masjid Agung Al Azhar, lebih terhormat dihadapan Allah”. Mendengar saran Istrinya kemudian Hamka menemui Jenderal Nasution dan menolak secara halus tawaran untuk menjadi Jendral Tituler waktu itu.

Tawaran kedua adalah datang dari Menteri Agama, Prof Mukti Ali. yang menugaskan Hamka untuk menjadi Duta Besar untuk Kerajaan Arab Saudi. Namun apa pandangan Istrinya setelah Hamka meminta pendapat mengenai tawaran tsb,  Istrinya berkata:

“Angku Haji, umat mulai semarak, saat ini. Da’wah yang semakin semarak itu semua dimulai dari angku Haji. Masjid ini, apa yang Angku Haji bina telah terpancar dan dicintai umat. Apa semua yang baru ini akan ditinggalkan begitu saja dan diganti dengan kegiatan Duta Besar. Sebagai Duta Besar, Angku setiap malam akan menghadiri jamuan yang diadakan para Duta Besar di Arab itu. Lalu kapan waktu tersebut untuk Angku Haji mengaji Quran yang tidak pernah ditinggalkan sejak kecil? Kapan waktunya untuk membacanya, menambah ilmu,? kapan pula waktunya untuk menjalankan hasil ilmu yang Angku Haji dapatkan dari membaca itu?,

“Lebih baik Masjid didepan rumah ini saja Angku Haji kelola dengan baik. Pahalanya dapat dirasakan oleh Umat dan sekaligus Insya Allah diridhai oleh Allah”, sambung Istrinya dengan lembut. Begitu Istrinya menyampaikan pandangannya kepada Hamka yang dari kalimatnya nyata sekali kalau istrinya tidak setuju dengan jabatan itu.

Mendengar pandangan teman hidupnya itu, Hamka datang kepada Menteri Agama dan dengan halus menolak tawaran sebagai Duta Besar RI pada Kerjaan Saudi Arabia.

Begitulah peran Istri bagi Hamka. Istrinya sama sekali tidak silau dan ambisius untuk menambah kekayaan sebagimana ditawarkan dari jabatan bergengsi itu kepada suaminya. Hamka akhirnya fokus dan menjadi Ulama Besar dan di disegani di tanah air. Sesuai pepatah, dibalik kesuksesan laki-laki, ada perempuan hebat dibelakangnya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s