Pancasila dan agama bagaimana korelasinya

garuda-pancasila

Pancasila adalah falsafah negara bukan agama. Karenanya pancasila hanya merupakan alat atau sarana dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pancasila memiliki nilai-nilai luhur dan manifestasi dari semangat pendahulu untuk pencapaian tujuan atau cita-cita bangsa yang diinginkan. Dalam berbagai hal tidak ada pertentangan dengan agama dalam berbagai seginya, malah dapat memperkuat.

Sila 1, 2 dan 5 bila dikaji lebih dalam melahirkan kesadaran adanya rasa syukur bagi umat beragama, termasuk Islam. Sedangkan sila 3 dan 4 melahirkan kesadaran dalam berbangsa dan benegara. Perpaduan dan kesatuan sila-sila tersebut melahirkan adanya kesadaran berbangsa dan bernegara dengan sifat religius/agama. Insan berkarakter pancasila bukan hanya faham dan hafal, namun juga mampu menghayati nilai-nilainya. Karakter pancasila menampilkan postur, kepribadian dan wajah bangsa Indonesia dengan sikap dan perbuatan yang selalui dijiwai dan berjiwa pancasila.

Lahirnya karakter dan kepribadian bangsa itu kiranya sukar terwujud bila tidak dibekali niat suci dan tekad mulia, untuk selalu menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan diri dan golongan. Jika hal itu kemudian dikuatkan dengan ridho Illahi, maka terwujudlah tekad bangsa  yang tumbuh sejak awal kemerdekaan yang diwujudkan melalui bendera negara, merah putih. Merah artinya berani dan putih artinya suci. Perwujudannya adalah lahirnya jiwa bangsa yang selalu dipenuhi keberanian namun selalu dilandasi kesucian.

Kesucian tiada terwujud tanpa diwarisi dan dihiasi dengan keindahan dan keagungan wahyu Illahi yang melahirkan ketekunan dalam beriman dan bertakwa. Melalui itu akan melahirkan kesadaran bagi semua insan pancasila untuk menerapkan ibadah hidup dengan tujuan sama mengantarkan cita-cita luhur yang menjadi tujuan dan idaman bangsa, yaitu masyarakat adil dan makmur.

Kaitan dengan karakter dan kepribadian bangsa ini, sangat aktual saat ini dalam mengantarkan nasib bangsa Indonesia kedepan. Banyak diakui bahwa dalam pergaulan internasional, hanya negara yang memiliki karakter/ kepribadian yang kuat dapat diperhitungkan dan mampu bertahan, contoh China, Jepang, Korea Selatan, India, Brazil, US, negara Eropa, Iran bahkan Israel memiliki karakter tersendiri. Beda hal negara yang hanya ikut-ikutan tidak memiliki pendirian akhirnya akan mudah tergilas oleh zaman. Dengan kata lain negara serupa ini tidak memiliki ruh atau falsafah sehingga menjadi mudah  kehilangan orientasi dalam kancah pergaulan antar bangsa.

Dalam kaitan ini beruntunglah Indonesia yang telah memiliki falsafah bangsa yang juga sebagai ideologi negara. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani berpendapat, menerima resiko dari tantangan, diuji dengan berbagai krisis dan musibah sehingga dengannya dapat terus belajar dan bangkit sehingga sejajar dengan bangsa besar lainnya. (Maghfirotul Qulub buku 1)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s