rana halal-haram

Sikap utama seorang mukmin adalah selalu teliti akan harta yang didapat. Orang beriman akan berusaha untuk mendapatkan harta yang halal lagi berkah. Sifat kehati-hatian dalam mendapatkan harta yang halal, termasuk menghindari yang ragu-ragu adalah bibit seseorang untuk dapat menempuh jalan wara’.

Karena itu tanda yang pasti mengenali halal dan haram adalah dengan meneliti dari mana dan cara yang mendapatkan harta itu. Bila itu berasal dari yang baik dan cara mendapatkannya yang juga baik maka dipastikan itulah rezeki yang halal. Bila sebaliknya itulah rezeki yang haram.

Keluarga saya selalu berpesan hati-hatilah dengan harta atau rezeki yang dimakan dan diberikan kepada seluruh anggota keluarga istri dan anak-anak. Sekali makanan yang haram itu masuk kedalam aliran darah akan sangat sulit untuk dibersihkan.

Kenyataannya saat ini sangat sulit  menilai bahwa harta atau rezeki yang dimakan ini sudah suci, layak serta aman  untuk dimakan. Salah satu jalan sesuai tuntunan adalah membersihkan harta itu dengan  mengeluarkan sebagian harta atau rezeki yang diperoleh melalui sedekah atau zakat.

Namun demikian ada tanda-tanda lain bahwa suatu harta atau rezeki itu halal dan berkah. Caranya adalah:

1. Mengenali arah kemana harta itu dibelanjakan

Cara pertama ini adalah dengan mengenali kecenderungan kemana harta atau rezeki itu mengantarkan pemiliknya untuk dibelanjakannya. Ini menggunakan dalil pembuktian terbalik dalam mengetahuinya.

Melalui cara itu dapat dipahami,  seandainya suatu harta yang diperoleh cenderung atau lebih banyak dinafkahkan ke hal yang baik seperti untuk keluarga, mudah untuk mengeluarkan sebagian untuk sedekah dan jariah, selalu tergerak dengan itu membantu orang lain, dapat dipastikan bahwa itu adalah harta yang diperoleh dengan jalan halal.

Namun sebaliknya jika dengan harta itu, pemilik lebih cenderung membelanjakan pada hal yang tidak baik dan tiada manfaat seperti belanja untuk hal sifatnya pamer, berlebih-lebihan, foya-foya dan mengajak pada hal yang maksiat, bisa dipastikan harta itu adalah tidak halal atau tidak berkah didapatnya.

Perkara ini ternyata banyak yang menafikan hal ini, dianggap mengada-ada, hal itu memang sangat mungkin, karena dipastikan hal itu  keluar dari hati yang tidak jujur dan tidak sportif dan tiada teliti serta kepekaannya membedakan mana rezeki yang halal mana yang haram.

2. Makanan dari harta halal akan  mendorong ibadah dan yang haram adalah sebaliknya.

Senada dengan hal yang pertama, maka cara mengetahui halal dan haram adalah melalui makanan yang dikonsumsi. Makanan yang dikonsumsi yang diperoleh dari harta yang halal, Allah akan memberikan kekuatan dan kemudahan baginya untuk beribadah dan beramal shaleh dalam rangka taat kepadaNya.

Sementara,  makanan yang dikonsumsi dari harta yang haram akan cenderung sebaliknya. akan mendorong seseorang untuk malas beribadah dan cenderung melakukan perbuatan maksiat.

3. Bagaimana kemantapan hati

Hati seorang mukmin memiliki peran penting dalam menentukan suatu perkara itu halal, haram atau subhat. Terkait dengan itu kiranya sangat jelas apa yang disampaikan oleh Syaqiq al Balkhi perihal halal haram dan subhat terkait dengan peran hati sebagai berikut:

Jauhilah apa yang meragukan dalam hatimu, karena hati mukmin itu seperti saksi, bimbang jika subhat, akan lari dari haram dan tenang jika halal.

Wallahu a’lam

Advertisements