Uniknya kerukunan beragama di Timor-Leste

masjid annur

Penulis banyak mendapatkan pertanyaan serupa ini bagaimana kehidupan umat Islam di Dili. Saya katakan bahwa  walaupun umat Islam itu minoritas hanya 3 %, namun menikmati perlakuan yang sangat baik dari masyarakatnya yang  mayoritas yang didominasi beragama katolik.

Walaupun minoritas, dari segi ekonomi umat Islam dipandang lumayan  terkait penguasaan mereka untuk distribusi  sandang dan makanan yang dibutuhkan masyarakat Dili  dan beberapa distriknya. Begitu juga dari segi pendidikan rata-rata umat Islam lebih baik.

Yayasan Mesjid Annur yang memiliki sekolah / madrasah dengan guru-guru Islamnya namun muridnya ternyata 80 % adalah non muslim. Mar’i Alkatiri yang muslim adalah mantan PM TL dan keluarganya menduduki posisi terpandang di negara itu.

Tempat ibadah juga mendapat pagu yang cukup dari pemerintah TL tidak dibeda-bedakan untuk pembangunan dan pemeliharaannya. Walaupun tempat ibadah seperti Mesjid hanya satu di Dili yaitu mesjid Annur.  Beberapa mesjid di luar Dili adalah seperti  Al Amal di Baucau, Attaqwa di Lospalos, Assyuhada di Liquica, Alhidayah di Same.  Keberadaan mesjid tersebut rata-rata sudah menyatu dengan masyarakat umumnya.

Ada satu cerita menarik yang saya peroleh dari jamaah mesjid  Assyuhada di Liquica.  Pada masa Indonesia mesjid ini termasuk yang salah satu paling ramai dengan umat Islamnya. Setelah merdeka jumlah umat Islam merosot drastis, kini hanya 18 keluarga saja sebagai jamaah di mesjid itu.  Melihat kondisi ini, masyarakat sekitarnya menginginkan agar ritual ibadah di mesjid ini , terutama kumandang azan dapat kembali normal.

Apa pasal mereka berbuat itu, ternyata setelah merdeka, masyarakat Liquica merasakan ada yang hilang, dengan tidak adanya kumandang azan di mesjid itu.  Lalu mereka meminta agar mesjid kembali mengumandangkan azan dengan keras dengan membantu untuk membelikan perangkat audionya.

Mereka beranggapan kumandang azan tersebut telah bertahun-tahun dijadikan sebagai penanda beraktivitas bagi masyarakat yaitu, azan subuh untuk membangunkan mereka, azan dhuhur sebagai penanda istirahat dan makan siang dan azan asyar, magrib dan isya sebagai penanda untuk beristirahat dari pekerjaan dan kembali kerumah. Itulah dasar permintaan sederhana mereka agar kumandang azan kembali diperdengarkan terus di Liquica.

Ada satu lagi kisah, saya memiliki sahabat pendeta Urbanus namanya, uniknya dia memiliki hp dengan ringtone adzan. Suatu ketika disaat memberikan khotbah kepada umatnya di gereja, dia lupa mensilence hpnya. Terdengarlah kumandang adzan di gereja kala dia mendapat panggilan HP. Namun dikala jamaahnya tengah keheranan mendengar itu, dengan enteng dia menjawab itulah bentuk dari kerukunan beragama.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s