Islam identik dengan perdagangan dan kegigihan berusaha

saluran penyebaran agama islam

Kata perniagaan, perdagangan atau jual beli telah menjadi hal penting sebagai kegiatan utama bagi umat Muhammad kala itu, terutama dari bangsa Quraish yang mayoritas adalah pedagang.

Rasulullah Saw sendiri merupakan pedagang yang ulung hingga kemudian menikah dengan Siti Khadijah yang juga pedagang pada umur 25 tahun, Usaha perdagangan Rasulullahpun semakin besar dan luas jangkauannya.

Sepeninggal Muhammad Saw sahabat-sahabat dan para wali penerus Nabi adalah dikenal juga sebagai pedagang yang mengarungi daratan dan lautan luas ke timur dan kebarat sambil berdawah. Islam muncul sebagai sosok yang dinamis dan tidak berpangku tangan, giat berusaha dan rajin bekerja.

Tidak ada korelasi antara keyakinan agama yang dianut itu menyurutkan semangat atau menjadikan mereka bersembunyi dari kegigihan berusaha. Islam yang serupa ini yang menimbulkan simpati dan masuknya Islam ke Indonesia fakta nya adalah  lantaran perdagangan.

Kata perdagangan termasuk kata jual beli, modal, keuntungan, kerugian, timbangan atau perniagaan yang menguntungkan dan kebangkrutan, kemudian menjadi hal yang mudah kala itu dalam hal menjelaskan  perkara agama. Beberapa ayat Al Quran dan ucapan ulama besar juga menggambarkan kedekatan umat Islam kepada aktivitas  perdagangn  sbb:

Jual beli/perdagangan

Firman Allah: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Al Jumuah : 9)

Firman Allah : laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.(Annur: 37)

Usaha dan perniagaan yang menguntungkan

Lalu Allah kemudian menjanjikan untuk memberikan petunjuk bagaimana usaha / perniagaan yang menguntungkan dalam menjelaskan perintah agama sesuai 2 ayat Al Quran dibawah ini:

Firman Allah: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,(Al Fatir: 29)

Firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?.(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar (Assaf: 10-12)

Timbangan

Firman Allah : Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al Araf : 8)

Firman Allah : Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.(Al anbiya : 47)

Kebangkrutan

Rasulullah saw bertanya,“Tahukah kalian siapakan orang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab,” Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta sama sekali.”

Bersabda Beliau saw,” Orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang di hari Kiamat nanti dengan membawa shalat, puasa dan zakat. Tetapi ia pun datang dengan membawa dosa mencaci si anu, menuduh si anu, makan harta si anu, menumpahkan darah si anu, memukul si anu.

Akibatnya, diambillah kebaikan-kebaikan yang sudah ia lakukan dan diberikan kepada mereka yang ia zalimi. Jika kebaikannya sudah habis padahal belum selesai pembayaran kepada mereka maka dosa-dosa mereka lah yang akan dicampakkan kepadanya lalu ia pun kemudian dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra).

Produksi, pemasaran, modal dan  keuntungan

Beberapa ulama besar juga menjadi fasih dalam berbicara perdagangan yang diterapkan dalam menjelaskan kepada jamaahnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

Sheikh Abdul Qadir Jailani

Sheikh Abdul Qadir Jailani juga memberikan pemahaman agama juga menggunakan perumpamaan perdagangan sebagai berikut:

” Jadikanlah hidup sesudah mati sebagai uang modal kamu dan hidup di dunia sebagai keuntungannya. Pergunakanlah waktumu, pertama-tama untuk hidup setelah mati. Jika ada waktu yang lebih, maka pergunakanlah waktu itu untuk kehidupan duniamu.

Janganlah menjadi sebaliknya kamu menggunakan uang modalmu dan hidup  setelah mati sebagai keuntungan. Janganlah akhirnya menjadi orang yang merugi atau bangkrut dengan berbuat yang demikian”

Sheikh Nawawi Al Bantani

Sheikh Nawawi Al Bantani juga mengungkapkan bahwa ibadah tidak ubahnya sebagai proses produksi atau sebuah bisnis, Marketingnya  adalah pada diri terutama anggota tubuh, Modalnya adalah ketakwaan dan Keuntungannya adalah balasan surga.

Ibnu Qayyim

Ibnu Qoyyim dalam kaitan menjelaskan muhasabah berkata, “Seyogyanya bagi seorang Muslim itu menyisihkan waktunya pada pagi hari dan sore hari untuk muhasabah diri. Dan ia menghitungnya sebagaimana para pedagang dengan rekan-rekannya menghitung keuntungan dan kerugian transaksi mereka setiap akhir penjualan.”

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s