05-Euro-Kosler

Kata perniagaan, perdagangan atau jual beli telah menjadi hal penting sebagai kegiatan utama bagi umat Muhammad kala itu, terutama dari bangsa Quraish yang mayoritas adalah pedagang.

Rasulullah Saw sendiri merupakan pedagang yang ulung hingga kemudian menikah dengan Siti Khadijah yang juga pedagang pada umur 25 tahun, Usaha perdagangan Rasulullahpun semakin besar dan luas jangkauannya.

Sepeninggal Muhammad Saw sahabat-sahabat dan para wali penerus Nabi adalah dikenal juga sebagai pedagang yang mengarungi daratan dan lautan luas ke timur dan kebarat sambil berdawah. Islam muncul sebagai sosok yang dinamis dan tidak berpangku tangan, giat berusaha dan rajin bekerja.

Tidak ada korelasi antara keyakinan agama yang dianut itu menyurutkan semangat atau menjadikan mereka bersembunyi dari kegigihan berusaha. Islam yang serupa ini yang menimbulkan simpati dan masuknya Islam ke Indonesia fakta nya adalah  lantaran perdagangan.

Kata perdagangan termasuk kata jual beli, modal, keuntungan, kerugian, timbangan atau perniagaan yang menguntungkan dan kebangkrutan, kemudian menjadi hal yang mudah kala itu dalam hal menjelaskan  perkara agama. Beberapa ayat Al Quran dan ucapan ulama besar juga menggambarkan kedekatan umat Islam kepada aktivitas  perdagangn  sbb:

Beberapa teladan Nabi Saw yang mengantarkan pedagang Islam sangat disegani adalah sebagai berikut:

1.Berdagang adalah ibadah

Cara Berdagang Rasulullah yang pertama adalah menjadikan berdagang sebagai ibadah, Ibadah dalam agama islam tidak hanya sebatas ritual yang berhubungan dengan keagamaan, seperti shalat, puasa, zakat, ataupun haji. Semua hal baik yang kita lakukan untuk mengharapkan ridha Allah juga merupakan Ibadah. Berlaku juga untuk Berdagang, apabila kita niatkan demi mengharapkan ridha Allah untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Insha Allah, dengan menjadikan pekerjaan setiap hamba sebagai Ibadah akan senantiasa memberikan dampak positif bagi rohani dan kualitas pekerjaan. Diharapkan mampu menjadikan hati ikhlas sehingga tidak ada penyesalan dalam melakukan suatu pekerjaan.

2.Memenuhi rukun jual beli

Tentunya dengan mengikuti syariat agama, jual beli dapat bernilai ibadah. Beberapa syariat dalam jual beli adalah sebagai berikut :

  • Penjual harus sehat akal dan memiliki barang yang akan dijual, atau mendapatkan ijin untuk menjualnya.
  • Pembeli harus sehat akal atau dapat melakukan jual beli dengan kemauan sendiri atau diijinkan untuk melakukan jual beli apabila pembeli tersebut adalah anak kecil.
  • Barang yang dijual harus merupakan barang Halal, dan barang yang bermanfaat.
  • Bahasa akad, yaitu adanya ijab (penyerahan) dan qabul (penerimaan) denga perkataan.

3. Ada kesepakatan bersama

Prinsip perdagangan adalah harus adanya kesepakatan antar pihak pembeli dan penjual. Tidak ada keharusan untuk menggunakan kata-kata khusus, karena ketentuan hukumnya ada pada ada pada akad dengan tujuan dan makna, bukan dengan kata-kata dan bentuk kata itu sendiri. Jual beli bisa dilakukan dengan saling memberikan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku.

4. Jujur dalam timbangan atau takaran

Cara Berdagang Rasulullah yang ke empat adalah Jujur dalam timbangan dan takaran, Suatu kebiasaan yang terjadi pada masyarakat jahiliyah dan masih berlaku hingga jaman sekarang, yaitu mengurangi takaran/timbangan. Sama halnya dengan mencuri, perbuatan tersebut juga dapat menimbulkan dosa serta tidak sahnya jual beli. Allah memerintahkan setiap para pedagang untuk menyempurnakan timbangan.

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan timbangan yang benar…” (Al Isra [17]:35)

Namun, melebihkan timbangkan supaya sang pembeli senang adalah perkara yang dianjurkan.

Dari Siwaid bin Qais berkata, “Aku dan makhrafah Al-Abady pernah mengimpor pakaian dari tanah Hajar, kemudian kami bawa ke Mekah. Lantas Rasulullah datang menghampiri kami sambil berjalan. Kami tawarkan beliau celana dan beliau membelinya. Dan pada waktu itu, ada seorang yang sedang menimbang, Rasulullah kemudian bersabda : “Timbanglah, dan lebihkan”

5. Jujur mengenai barang yang ditawarkan

Sabda Nabi Saw:

“Seorang muslim tidak dihalalkan menjual suatu barang yang didalamnya terdapat cacat kepada saudaranya, melainkan ia harus menjelaskanya kepada saudara tersebut”

Sabda Rasulullah diatas menjelaskan bagaimana wajibnya seorang penjual untuk menjelaskan keadaan barang yang akan dijualnya. Banyak dijumpai saat ini bagaimana menjamurnya permasalahan dari pembelian online dikarenakan sang pembeli merasa ditipu dikarenakan barang yang diterima tidak sesuai dengan penjelasan dari sang penjual.

Atau sang penjual menampilkan buah-buahan yang berkualitas baik di tumpukan paling atas, dan mencampur buah-buahan yang jelek ditumpukan paling bawah. Dalam kasus tersebut, sang pembeli berhak melakukan pembatalan atau meneruskannya.

6. Menghindari Sumpah Berlebihan

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda :

“Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi menghapus keberkahan”

Tidak sedikit para pedagang yang memberikan sumpah untuk melariskan dagangannya, bahkan hingga melakukan sumpah palsu. Dari Abu Umamah Iyyas bin Tsalabah Al-Harits, Rasulullah bersabda :

“Siapa yang menyerobot hak seorang muslim dengan melalui sumpahnya, maka Allah mewajibkannya masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga.” Seorang bertanya, “Sekalipun hanya sedikit wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Sekalipun berupa setangkai kayu siwak”.

7. Tidak mengajukan syarat batil

Persyaratan sifat dalam jual beli itu diperbolehkan, misalkan Seorang penjual kendaraan mensyaratkan setelah penjualan sang penjual meminta untuk menaiki kendaraanya sebagai transportasi untuk pulang ke rumah, atau sang penjual rumah mensyaratkan mendiami rumah beberapa waktu terlebih dahulu untuk menyiapkan perpindahan.

Sayangnya dalam praktek jual beli sekarang masih ada yang melakukan kekeliruan, dan mengajukan syarat yang batil. Yang menyebabkan jual belinya menjadi tidak syah.

Rasulullah menjelaskan :

“Barangsiapa yang mensyaratkan persyaratan yang tidak ada dalam kitabullah maka batil, kendati seratus persyaratannya”

8. Bersikap lemah lembut

Cara Berdagang Rasulullah yang tak pernah dilupakan adalah selalu bersikap Lemah Lembut terhadap pembeli. Salah satu metode yang dicontohkan dan diajarkan Rasulullah dalam berdagang adalah memberikan pelayanan yang lemah lembut terhadap para pembeli. Tutur kata yang baik, pelayanan dengan sikap yang baik.

Selain itu, tidak hanya saat menjual. Karakter lemah lembut juga harus diterapkan saat melakukan promosi, agar calon pembeli tertarik untuk menerima barang yang kita jual.

9. Tidak menimbun barang dagangan

Menimbun barang dagangan dengan maksud agar dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi, di saat orang-orang sedang mencari dan tidak mendapatkannya merupakan perkara yang dilarang oleh syariat.

Sebagian ulama mengkhususkan barang yang dinyatakan dapat ditimbun hanya pada barang pangan. Ada pula pendapat lain menyatakan bahwa penimbunan dalam segala bentuk barang hukumnya haram karena berbahaya dapat menjadikan harga barang tidak stabil.

10. Menghindari jual beli yang dilarang

Cara Berdagang Rasulullah yang ke-10 adalah menghindari jual beli yang dilarang. Rasulullah melarang sejumlah jual beli yang didalamnya terdapat sejumlah gharar (ketidak jelasan tentang bentuk, dan sifat suatu barang). Beberapa jenis jual beli yang dilarang beliau :

  • Jual beli yang belum diterima

Seorang muslim tidak boleh membeli suatu barang kemudian menjualnya, padahal ia belum menerima barang dagangan tersebut. Sabda Rasulullah :

“Jika engkau membeli sesuatu, engkau jangan menjualnya hingga engkau menerimanya”

  • Jual beli seorang muslim dari muslim lainnya

Seorang muslim tidak boleh jika saudaranya telah membeli sesuatu suatu barang seharga seratus ribu rupiah misalnya, kemudian ia berkata kepada penjualnya, “Mintalah kembali barang itu, dan batalkan jual belinya, karena aku akan membelinya darimu dengan harga lebih mahal”

  • Jual beli najasy

Jual beli najasy adalah menawar suatu barang dengan harga lebih tinggi, tetapi tidak bermaksud untuk membeli, agar para penawar lain tertarik membelinya.

  • Jual beli barang haram dan najis

Seorang muslim dilarang menjual barang yang haram dan najis

  • Jual beli gharar

Orang muslim tidak boleh menjual sesuatu yang didalamnya tidak ada kejelasan. Tidak boleh menjual anak hewan yang masih di perut induknya, buah-buahan yang belum masak, atau barang tanpa melihat, membalikkan atau memeriksanya jika barang tersebut ada ditempat jual beli, atau menjual barang tanpa penjelasan sifatnya, jenisnya, atau beratnya jika barang tersebut tidak ada ditempat.

(https://bacaanku.com/10-cara-berdagang-rasulullah)

Wallahu a’lam

Advertisements