Cara memenangkan perang yang terjadi dalam diri

mujahadah-diri

Setiap saat antara akal dan nafsu terlibat dalam peperangan yang berkecamuk dalam diri terkait dengan berbagai hal yang dihadapi manusia dalam melangsungkan dan melestarikan kehidupannya didunia.

Bagi yang jeli dan teliti dalam mengenal dirinya dengan baik tidaklah sulit mengetahui peperangan dalam diri itu melalui gerak atau gejolak diantara keduanya.  Dalam tataran inilah mengapa sering disebut peperangan dalam rangka menaklukkan diri itu adalah jihad besar.

Beberapa cara untuk memenangkan peperangan dalam diri

Sheik Nawawi memberikan 2 nasehat bagaimana diri dapat memenangkan peperangan yang terjadi dalam diri sebagai berikut:

  • Berbahagialah orang yang sanggup menjadikan akalnya sebagai pemimpin bagi dirinya dan menjadikan hawa nafsunya sebagai tawanan
  • Celakalah orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin bagi dirinya dan menjadikan akal sebagai tawanannya.

Senada dengan itu, dalam bagian dari strategi peperangan, Khalifah Abubakar ra memberikan nasehat agar seseorang menang dalam pertempuran  yaitu agar akalnya dapat berfungsi sebagai panglimanya dan menjadikan hawa nafsu sebagai prajurit yang patuh pada perintahnya atau budak-budaknya.

Khalifah Abubakar ra berkata:  “Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai panglima dan menjadikan hawa nafsunya sebagai budak-budaknya

Orang yang selalu memenangkan peperangan adalah yang berakal sempurna

Selanjutnya hal yang perlu lebih awal dilakukan adalah diri mengetahui keberadaan dan fungsi dari akal dan nafsu,  termasuk peran dan fungsi hati. Bagaimana keterkaitan keduanya dan bagaimana kaitannya dengan musuh diri yang datang dari luar yaitu kelompok Azazil Iblis, setan dan Jin.

Lalu bagaimana konsep peperangan dalam diri dan cara menjadikan akal dapat berfungsi sempurna sebagimana dinasehatkan oleh Sheikh Nawawi itu?

Secara sederhana, seseorang yang maju perang membutuhkan 2 hal yaitu bekal dan persenjataan. Begitu juga akal, untuk menjadikannya sempurna membutuhkan  2 hal itu yaitu harus berbekal Iman dan bersenjatakan ilmu.

Karena itu seseorang yang menginginkan akalnya sempurna harus memenuhi 2 hal yaitu

  • pertama menambah bekal hidupnya dengan mempertebal iman dan
  • kedua terus  mengasah serta menambah persenjataannya dengan banyak menuntut ilmu.

Dalam mewujudkan itu harus juga dipahami antara kaitan iman dan ilmu. Karena  itu tidaklah sembarang ilmu tetapi adalah ilmu yang haq dan berasal dari sisiNya. Karena Ilmu yang benar hanya yang keluar dari hati iman. Itu adalah karakteristik orang yang berakal sempurna.

Lalu bagaimana wujud orang yang berakal sebaliknya tidak sempurna?

Secara mudah disimpulkan bahwa  akal orang yang tidak beriman maka akalnya menjadi tidak sempurna dan tidak sehat, karena itu terjadi kekurangan bekal dan kehabisan senjata. Hancurnya akal dapat dipastikan karena adanya kelaparan bekal dan kehabisan senjata.

Kita menyadari bahwa pahlawan yang lapar dan kehabisan senjata sudah pasti kalah sebelum berperang atau tidak akan mungkin pernah berperang.

Dan orang yang tidak pernah berperang pasti tidak akan pernah tahu bagaimana wujud medan peperangan. Paling tidak dirinya hanya pandai bicara dan biasanya paling lantang dalam menggelorakan peperangan.

Mereka tidak mengerti medan perang dan pasti tidak pernah mengenal bentuk dan rupa musuhnya. Apalagi akan mengenal kekuatan dan persenjataan yang dimiliki musuhnya.

Akibat dari hal tersebut dirinya tidak ubahnya seperti orang yang tertidur pulas hanya pandai mengingau tetapi mata tidak dapat melihat dirinya. Kondisi demikian disebut tidak sadar, karenanya  tidak mungkin bagi dirinya untuk dapat membedakan mana kawan dan mana musuh.

Sebaliknya musuh dirinya pasti memahami dirinya sebagai orang yang tidur nyenyak itu. Akhirnya musuh mudah untuk menaklukkan dengan membius dirinya. Mereka bangun seolah-olah dibangunkan dan bila sudah bangun kemudian langsung di nina bobokan.

Jadi kalau disimpulkan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang terbius oleh hawa nafsunya sendiri. Orang yang terbius dengan hawa nafsunya sendiri, tampilannya gaya dalam pergaulan hidup dan gaya hidupnya beraneka ragam, bersuara lantang, penuh dengan macam-macam dalih untuk mencapai maksud dan dambaan hidupnya.

Mereka selalu berdalih perjuangan dan kemajuan hidup. Mereka tidak sadar bahwa dirinya buta memandang medan hidupnya dengan mendambakan pada hal yang disenangi hawa nafsunya yang terkait kedudukan, harta dan wanita.  (Maghfirotul Qulub 2)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s