Peran-Tasawuf-dalam-Praktek-Kehidupan-Masyarakat

Banyak yang menyebut bahwa Ilmu hakikat dan makrifat adalah ilmu dalam. Pada masa penjajahan dulu, Ilmu ini tidak begitu berkembang, selalu dilarang karena dapat mengobarkan jihad umat Islam berupa perlawanan hidup mati bagi penjajah. Beberapa perang besar diyakini dijiwai oleh ilmu ini seperti perang Paderi, Diponegoro, Antasari, dan Hasanudin.

Ilmu ini juga sangat disiplin untuk disampaikan ulama, atas dasar kehati-hatian.  Kehati-hatian ulama adalah keharusan seseorang yang hendak mempelajari ilmu ini harus memenuhi  2 hal yaitu

  1. Sesuai  kadar akalnya (Qodri uqulihim) dan
  2. Hanya dapat diberikan hanya kepada  ahlinya.

Kekuatiran ini juga didasarkan atas prilaku seorang salik, karena ilmu ini menimbulkan keasyikan tersendiri sehingga perlu untuk dikuatkan  fundasi syariatnya  terutama aqidahnya. Dengan kata lain sikap batinnya seorang salik  akan cenderung tidak perduli dengan syariat. Beberapa sikap batin yang menyimpang muncul dalam beberapa kesalahan yang dilakukan Hamzah fanzuri, Sheik Siti Jenar dan Al halaj.

Dengan demikian dalam mempelajari hakikat dan makrifat salah besar bila tidak menggandeng syariat dan  fiqh (sering dianggap hanya kulit saja)  untuk mendapatkan hasil buah manis dari ilmu tersebut.

Wallahu a’lam

Advertisements