Menjadikan cobaan atau musibah sebagai suka cita

senyum

Posting ini mengada-ngada, mana tah ada orang yang diberi cobaan atau musibah lantas bersuka cita? Yang ada malah sebaliknya berduka cita dan bila perlu berkeluh kesah tiada akhir. Namun lihat ulasan lebih lanjutnya.

Musibah atau cobaan yang dihadapi orang awam adalah duka cita, namun sebaliknya bagi orang berilmu. Orang berilmu dalam mendapatkan cobaan atau musibah akan bersuka cita.

Terkait suka cita terhadap cobaan yang diterima telah   digambarkan dalam Ayat Al Quran sebagai berikut:

Sesuai Firman Allah :  Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Ali Imran 120).

Dalam kitab Al Hikam Ibnu Athaillah dijelaskan bagaimana perbedaan sikap orang awam dan orang berilmu dalam menerima musibah sebagai berikut:

“Reaksi orang awam adalah yang menerima kemuliaan  adalah gembira dan saat menerima cobaan kesulitan dia kecewa, Sikap ini membuktikan adanya sifat kekanak-kanakan dan ketidaktulusan sebagai seorang hamba kepada TuhanNya.

Hanya orang yang telah mendapat pencerahan batin yang akan menerima keduanya baik kemuliaan dan kesulitan. Kelapangan dan kesempitan diterimanya dengan lapang dada dan terus mengagungkan dan berprasangka baik kepadaNya bahwa dari keduanya merupakan wujud perhatian dan kasih sayang Allah kepada dirinya”

Mengapa orang berilmu malah bersuka cita bukannya berduka cita? Dalam Al Quran ditetapkan bahwa orang berilmu itu memang telah ditinggikan derajatnya oleh Allah. Orang berilmu memiliki kesadaran bahwa ikhtiar untuk mendapatkan syurgaNya adalah jalan yang berat penuh ujian.

Ditambah pula orang berilmu juga menyadari bahwa bukan amalan saja sebagai bekal menolong dirinya, namun berharap  rahmat dan ampunan Allah itulah yang lebih penting sehingga dapat mengantarkan dirinya ke syurga.

Firman Allah : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Albaqarah 214).

Suka cita terhadap kesulitan adalah didasarkan pada keyakinan bahwa adanya kedekatan dan perhatian serta kasih sayang Allah kepada dirinya dan adanya kesempatan naik tingkat bagi dirinya yang tidak pernah berpuas diri dalam berilmu bila dapat melalui cobaan kesulitan tsb.

Dalam kesulitan itu, dia juga yakin akan ada kelapangan bagi dirinya. Dengan itu dirinya akan tiada gentar dan percaya diri kalau cobaan kesulitan yang  datang dari Allah telah sesuai kadarnya sehingga pasti dapat dilaluinya.

Dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya, ia mengatakan : Wahai Rasulullah siapakah yang berat cobaannya?. Jawab Rasulullah saw: Mereka adalah para nabi, kemudian setelahnya lalu setelahnya lagi. Seorang manusia diuji atas dasar agamanya, jika agamanya keras berdidiplin maka ujiannya bertambah, namun jika agamanya ringan atau sekedarnya maka ia diuji setara dengan agamanya. Ujian itu tidak lepas dari seseorang hingga ia leluasa berjalan di muka bumi tanpa ada kesalahan. (H.R Tirmidzi)

Ibnu Athaillah lebih lanjut  menyampaikan bahwa suka citanya orang berilmu terhadap kesukaran atau cobaan  itu ibarat hari raya yakni (sebagai kesempatan untuk  melatih diri untuk mendekatkan diri atau taqarub kepada Allah)

Namun demikian, bila diri memang masih belum dikaruniakan ilmunya untuk demikian, maka sebaik-baik perkara adalah ditengah-tengah. Pengertiannya manusia sebagai hamba Allah hendaknya bersikap wajar dan ditengah-tengahnya dalam menerima musibah,  sebagai bentuk penerimaan seorang hamba atas  ketetapan Allah. Bila diri mendapat kemulian juga harus diyakini bahwa Kemuliaan hanya milik Allah dan tidak pantas seoarang hamba menyandangnya.

Firman Allah : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,(Alhadid 23)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s