Pahami Bid’ah sebelum menyatakannya

bid'ah

Arti dan dasar Bid’ah

Ulasan mengenai bid’ah yang ringkas dan mudah dipahami agaknya dapat melihat pada ulasan KH Sirajudin Abbas pada  buku :”40 Masalah Agama”. Menurut bahasa Arab, bid’ah berasal dari kata, badi’u yang berarti mencipta yang sebelumnya belum pernah ada, sehingga kata-kata bid’ah memiliki maksud: ” sesuatu yang diadakan tanpa contoh yang terdahulu”

Dasar bid’ah adalah dari Siti Aisyah Ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadat yang tidak kami perintahkan, amalnya itu akan ditolak. (HR. Imam Muslim)

Imam Syafi’i membagi bid’ah kepada menjadi dua yaitu:

  1. Bid’ah dholalah, yaitu bid’ah yang sesat, bid’ah tercela, yaitu pekerjaan keagamaan yang berlainan atau menentang Kitabullah, menentang Sunnah Nabi, Atsar Sahabat-sahabat dan Ijma’ ulama.
  2. Bid’ah Hasanah, yaitu pekerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang Sunnah Nabi, tidak menentang perbuatan Sahabat-sahabat Nabi, tidak menentang Ijma’ ulama.

Bid’ah yang terlarang dalam agama hanyalah bid’ah dalam keagamaan, misalnya sholat yang lima waktu misalnya kita jadikan menjadi enam waktu, atau puasa Ramadhan misalnya dilakukan dua bulan dalam setahun, naik haji tidak ke Mekah tapi misalnya ke palestina, maka itu jelas merupakan bid’ah yang dimaksud Rosululloh SAW sebagai suatu kesesatan.

Adapun dalam urusan keduniaan tidak ada bid’ah yang terlarang; misalnya kita boleh mengadakan dan membuat sesuatu barang walaupun belum ada sebelumnya atau belum pernah dikerjakan pada zaman Nabi atau zaman Sahabat, asalkan perbuatan itu baik dan tidak bertentangan dengan hukum agama, tidak termasuk yang dilarang oleh hukum agama.

Tidak dikatakan bid’ah yang dilakukan  Sahabat Nabi dan Ijma Ulama.

Tidak dikatakan bid’ah bila hal keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Nabi, namun dilakukan juga oleh para Sahabat, Khalifaur- Rasyidin, yaitu Saidina Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan Ali Ra. Semuanya disebut  bid’ah hasanah (bid’ah baik). Sabda Rosululloh Saw: Maka wajib atasmu memegang Sunnah aku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayat. (H.R. Imam Abu Daud dan Tarmidzi)

Contohnya:

  • Membukukan kitab suci al Quran, yang diawali pengumpulannya oleh Saidina Abu Bakar Ra dan kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Saidina Utsman bin Affan Ra
  • Sholat Tarawih berjama’ah 20 rakaat dan sebulan Ramadhan penuh, yang diadakan oleh Saidina Umar Ra.
  • Azan pertama pada sholat Jum’at, yang diperintahkan oleh Saidina Utsman Ra.

Bid’ah hasanah juga dapat merupakan hasil ijtihad Imam Mujtahid yang kesemuanya tidak dikenal di zaman Nabi, tetapi diterima oleh dunia Islam

  • Al Quran pada zaman Nabi dan juga pada zaman Khulafaur-rasyidinpun tidak memakai titik dan juga tidak pakai baris. ayat-ayat suci itu diberi titik dan baris supaya jangan salah membacanya bagi orang-orang yang tidak berbangsa Arab, atau orang Arab yang tidak pernah mendengar langsung dari Rosululloh SAW. Hal ini dianggap sangat perlu karena apabila salah baca maka akan merusak makna dan artinya.
  • Pada zaman Nabi yang dizakatkan hanyalah gandum, lembu, kambing, emas dan perak. Tetapi padi, kerbau, uang kertas, tidak dikenal pada zaman Nabi. Imam-imam Mujtahid berpendapat bahwa padi dizakatkan juga, diqiaskan kepada gandum karena merupakan bahan makanan pokok. Kerbau kalau sampai senisab dizakatkan, diqiaskan kepada lembu. Dan uang kertas dizakatkan juga karena diqiaskan dengan dirham dan dinar yang ada pada zaman Nabi.

Penggolongan Bid’ah

Namun demikian secara ringkas  penggolongan bid’ah   terbagi menjadi 5, yaitu :

1. Bid’ah yang haram (dhalalah atau sesat)

Bid’ah Haram dalam I’tiqad (kepercayaan)
-Kepercayaan bahwa masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw.
-Kepercayaan bahwa Khalifah Nabi yang pertama adalah Saidina Ali.
-Kepercayaan bahwa Imam-imam menerima wahyu sebagaiman Nabi menerima wahyu.
-Kepercayaan bahwa Khalik (pencipta) dan makhluk (yang dicipta) adalah satu.
-Kepercayaan bahwa dalil-dalil hukum agama hanya terdapat dalam Qur’an saja.
-Kepercayaan bahwa Alloh SAW tidak mempunyai sifat.
-Kepercayaan bahwa takdir baik dan buruk tidak ada.
-Kepercayaan bahwa manusia yang mengadakan pekerjaannya.
-Kepercayaan bahwa Kalam Alloh SWT adalah makhluk.
-Kepercayaan bahwa Alloh SAW tidak bisa dilihat dalam syurga.
-Kepercayaan bahwa Mi’raj Nabi Saw hanya dalam bentuk mimpi.
-Kepercayaan bahwa azab kubur tidak ada.
-Kepercayaan bahwa Hisab, Titian dan Timbangan, tidak ada di Akhirat.
-Kepercayaan bahwa syafa’at Nabi Muhammad Saw tidak ada.
-Kepercayaan bahwa Nabi tidak mempunyai mu’jizat selain al Qur’an.
-Kepercayaan bahwa berdo’a dengan bertawashul adalah syirik.
-Kepercayaan bahwa Alloh SWT duduk di atas ‘Arasy spt duduknya manusia di atas kursi
-Kepercayaan bahwa Allah turun pada malam hari seperti turunnya manusia dari tangga.
-Kepercayaan bahwa yang menentukan baik dan buruk adalah ‘akal, bukan syari’at.
-Kepercayaan bahwa syurga dan neraka tidak kekal.
-Dan lain-lain sebagainya.

Bid’ah Haram Dalam syari’at dan ibadat

-Menambah-nambah ayat dalam kitab al Qur’an.
-Menulis ayat Qur’an dengan huruf Latin, huruf Cina, huruf Jepang atau  huruf lainnya selain huruf Arab.
-Membuat foto atau gambar-gambar Nabi.
-Mentafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan pendapat saja.
-Azan sholat dengan piringan hitam atau casset.
-Sholat dalam hati saja, tidak fi’liyah
-Sholat Jum’at sendirian saja, di rumah atau dalam kamar, tidak ke Masjid.
-Sholat bukan dengan bahasa Arab.
-Khutbah Jum’at bukan dengan bahasa Arab.
-Naik Haji bukan ke Mekkah.
-Menterjemahkan ayat-ayat al Qur’an ke dalam bahasa selain bahasa Arab, dan membuang huruf Arabnya sehingga menjadi Qur’an Indonesia, Qur’an Inggris, Qur’an Belanda, Qur’an Cina, dan sebagainya.
-Puasa terus menerus
-Puasa pada hari raya ‘Idhul fitri dan idhul Adha.
-Masuk puasa bukan dengan rukyat atau ikmal
-Sholat Jum’at di atas kapal di waktu sedang musafir.
-Menzakatkan seluruh harta termasuk pakaian, perkakas rumah seperti meja, piring, dll.
-Mengangkat amil zakat bukan oleh Khalifah (Pemerintah Islam)
-Mengumpulkan zakat untuk membuat masjid, pembuat jalan, dll.
-Membuat masjid dari uang yang berasal haram, seperti uang hasil judi, hasil korupsi, uang hasil lotre, dan lain-lain yang sejenis.

2. Bid’ah Makruh
-Sholat dhuha secara berjamaah
-Menghiasi masjid dengan ukiran-ukiran
-Membayarkan zakat fitrah berlebih-lebihan, umpamanya dibayarkan 4 karung – sedangkan yang wajib hanya 3,5 liter.
-Menetapkan suatu hari untuk ibadat khusus, umpamanya untuk berzikir pada hari Jumaat saja, untuk shalawat hari Sabtu saja, untuk baca Qur’an hari Khamis, dan istigfar pada hari Rabu.
-Zikir waktu bersetubuh dengan isteri, atau ketika buang air.
-Zikir ketika mengantuk.
-Melebihi hitungan zikir yang sudah ditetapkan oleh Nabi setelah sholat, umpamanya membaca “subhanallah” sudah ditetapkan Nabi 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 33 kali. Tetapi dibaca lebih daripada itu.
-Dan lain-lain.

3. Bid’ah yang wajib

-Membukukan ayat-ayat Al-Qur’an karena takut hilang berserakan, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Saidina Abu Bakar Ra dan SaidinaUtsman Ra.
-Memberi titik dan baris pada ayat-ayat al Quran kerana khawatir akan salah orang yang membacanya yang akan membawa salah pengertian.
-Membukukan hadis-hadis Nabi Saw. demi untuk memelihara syari’at supaya jangan hilang, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhari, Muslim dan lain-lain.
-Membuat dan mengarang kitab-kitab Tafsir demi untuk menjaga supaya orang nantinya jangan sampai kepada tidak mengerti akan isi al-Qur’an.
-Membukukan kitab-kitab fiqih guna menjaga supaya hukum-hukum agama berjalan baik.
-Mengarang buku-buku atau kitab guna pembantah orang -orang yang salah i’tiqad dan ibadatnya, kalau jalan selain ini tidak ada.
-Belajar ilmu Nahwu – Sharaf – Hadits – Ma’ani, kalau dalam memahamkan al Qur’an tergantung kepadanya.
-Dan lain-lain.

4. Bid’ah Sunnat (Bid’ah Hasanah)

-Azan pertama pada sholat Jum’at.
-Sholat tarawih 20 raka’at.
-Membina menara masjid untuk azan sholat.
-Melakukan Azan sholat di atas menara.
-Belajar ilmu Nahwu – sharaf – Hadits – ma’ani – qawafi – dan lain-lain ilmu yang bertalian dengan agama.
-Membina madrasah-madrasah agama Islam.
-Mengadakan perayaan peringatan Maulud Nabi, Mi’raj Nabi dll.
-”Qiyam” atau berdiri ketika mendengar kisah Maulud Nabi.
-Mengadakan perkumpulan atau majlis ilmu untuk membahas agama dan keagamaan.
-Mendirikan rumah-rumah peribadatan.
-Bersalam-salaman sesudah sholat subuh berjama’ah.
-Memukul beduk untuk memanggil waktu sholat.
-Dan lain-lain sebagainya.

5. Bid’ah harus

-Membuat makanan yang lezat-lezat.
-Memakai pakaian yang bagus-bagus.
-Menggunakan kenderaan yang bagus-bagus.
-Membina rumah tempat tinggal yang besar dan luas.
-Mengadakan pejabat-pejabat untuk pengurusan sesuatunya.
-Naik Haji dengan kapal laut atau udara.
-Dan lain-lain sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s