Memahami Qudrat dan Iradat Allah atas kejadian

hikmah

Dunia dengan berbagai kejadian didalamnya sesungguhnya adalah bacaan dari ayat-ayat Allah.  Kejadian itu dapat terjadi melalui kisah-kisah suatu kaum di masa lalu maupun kejadian-kejadian di masa kini.

Kejadian yang terjadi itu tidak akan bermakna bila seseorang tidak mampu membacanya. Walaupun kejadian di dunia baik yang melanda diri dan orang lain berlangsung sangat pendek, tetapi itu adalah samudera ilmu dan hikmah yang tiada bertepi.

Dalam menumbuhkan kesadaran Tauhid yaitu Ilahiyah dan Rububiah, tidak dipungkiri bahwa disamping Allah adalah pencipta segala sesuatunya, Allah juga mengatur segala sesuatunya. Dari sinilah disadari bahwa tiada kejadian yang di hamparkan  dan setiap kejadian bergulir dengan lancar kepada mahklukNya, kecuali telah dipantau atau  tidak ada yang luput dari penglihatanNya.

Dalam hal ini paling tidak ada 3 aplikasi dari kesadaran Tauhid untuk mensikapi kejadian yaitu :

  • Bahwa kejadian yang dialami manusia dan mahkluk ciptaan lainnya terjadi tidak secara kebetulan.
  • Tidak ada sesuatu kejadian yang terjadi kecuali tersimpan maksudNya.
  • Tidak ada suatu kejadian yang terjadi secara sia-sia.

Orang yang memiliki kesadaran Tauhid yang teguh akan menyatakan 3 aplikasi itu adalah wujud dari kekuasaan dan kehendak (Qudrah dan Iradat) Allah. Bila sesuatu itu wujud karena ada yang mewujudkan maka suatu perbuatan tentu terjadi karena ada yang memperbuatkan dan itulah Allah Swt.

Firman Allah :Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (Attakwir: 29)

Terkait dengan itu tugas seorang muslim yang berakal / ulil albab untuk dapat membaca setiap kejadian, hendaknya bukan hanya melihat wujud kejadian saja namun perlu lebih jauh lagi bagaimana hal yang mendasari  kejadian itu atau bagaimana hikmah dibalik kejadian itu.

Seorang yang berakal tidak akan berhenti belajar bagaimana benda langit yang ada, namun akan belajar bagimana benda langit dengan segala keteraturannya itu menjadikan dirinya semakin mengakui keagungan dan kebesaran Allah atas ciptaannya itu. Dari sinilah muncul kemampuan bagi seorang ulil albab yang telah diberi kemampuan untuk mengambil pelajaran dari kejadian yang dibacanya.

Firman Allah : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Ali Imran :190-191)

Wallahu a’lam

(Diilhami dari tulisan pengantar Ust. Arifin Ilham pada buku Kun Fayakun Ust Yusuf Mansyur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s