Khidir hamba yang lebih pandai dari Nabi Musa As

nabi-khidir-630x533

Hadist di sadur dari kitab Al Lulu wal Marjan. Kisah lengkap perjalanan Musa belajar dari Khidir ini ada dalam Al Quran pada surat Al Kahfi : 60 – 82.

Ubay bin Kaab mengisahkan, sabda Nabi Saw: Ketika nabi bersabda pada umatnya Bani Israel, tiba ada yang bertanya, “Siapakah manusia terpandai?’. Jawab Musa : “Aku.” Maka Allah menegur Musa dan Allah berfirman bahwa ada hambaku yang lebih pandai darimu. Nabi Musa bertanya: “Ya Tuhan bagaimana cara saya menemuinya?” Maka Allah berfirman: “Bawalah ikan dalam keranjang, maka apabila ikan itu hilang disitulah ia”.

Maka Musa pergilah diiringi dengan pelayannya dengan membawa ikan dikeranjang. Tibalah Musa di shakhrah dan dia merasa lelah dan akhirnya tertidur. Saat tertidur ikan keluar dari keranjang dan berjalan kelaut. Musa tidak mengetahui hal ini dan melanjutkan perjalanan sepanjang hari dan malam.

Ketika pagi Musa meminta pelayan menyiapkan hidangan untuknya, kemudain dia ingat akan ikan itu. Pelayan berkata: “Tahukah ketika kamu istirahat di sakhrah, aku lupa memberitahu kalau ikan itu sudah lepas. Musa berkata: “Itu yang kami harapkan”. maka kembalilah keduanya mengikuti jalan yang sudah dilewati itu. Sesampainya disana bertemulah Musa dengan seorang laki-laki yang sangat sederhana.

Nabi Musa segera memberi salam dan berkata : “saya Musa”,  Khidir bertanya: “dari bani Israel?”. Musa berkata: “benar”. “Dapatkah aku mengikutimu supaya anda ajarkan kepadaku ilmu Tuhan yang diajarkan kepadamu?” Khidir menjawab: “Anda tidak akan sabar mengikuti aku ya Musa, Aku mendapat ilmu dari Allah yang tidak kamu ketahui, sedang anda mendapat ilmu dari Allah yang tidak aku ketahui”. Jawab Musa “InsyaAllah anda kan mendapatkanku sabar dan tidak akan menentang perintahmu”.

Maka berjalanlah keduanya ke tepi laut, tiba-tiba ada perahu, maka khidir meminta pemilik kapal mengajak dia dan Musa. Pemilik kapal lalu setuju membawa mereka. Tiba-tiba ada burung hinggap ditepi perahu dan minum seteguk dua teguk dari laut, maka Khidir berkata : “Ya Musa ilmumu dan ilmuku tidak mengurangi ilmu Allah kecuali sebagaimana air yang diminum oleh burung dari lautan ini”.

Kemudian Khidir mengambil selembar papan perahu dan mencabutnya. Musa tidak tahan dan segera berkata: “Pemilik sudah tidak meminta ongkos, lalu kenapa kamu merusak dan melubangi perahu ya Khidir? Jawab Khidir : “Tidakkah aku telah katakan, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku?”. Musa menyadari dan berkata: “Maaf jangan menuntut aku karena aku lupa”.

Maka turunkah keduanya dari perahu dan berjalan, tiba-tiba bertemu seorang anak yang sedang bermain-main dengan kawannya langsung dipegang oleh Khidir dipukul dan dibunuhnya anak itu. Melihat itu Musa berkata: “Mengapa anda membunuh jiwa yang suci?” Khidir berkata: “Tidakkah aku berkata bahwa anda takkan sabar bersamaku?. Musa kembali berkata maaf dan meminta agar dapat diijinkan terus mengikuti Khidir dan berjanji jika menegur lagi akan berpisah.

Maka berjalanlah keduanya, sampai suatu dusun, mereka berharap dapat mekanan, namun tiada satu pendudukpun yang mau menjamu mereka. Tiba-tiba  Khidir melihat rumah yang hambir roboh, Khidir lalu berusaha menegakkan dengan tangannya. Musa menegur: “Andaikan anda suka dapat melakukannya dengan mengambil upah”. Khidir berkata: “Inilah saatnya berpisah antara kita”. Lanjutnya : “Semoga Allah memberi rahmat pada Nabi Musa”, sesungguhnya aku ingin andaikan Musa tetap sabar, maka akan lebih banyak lagi cerita atau kejadian yang dialami keduanya. (Bukhari Muslim).

Dari kisah itu diperoleh pelajaran bahwa Allah kuasa memberikan ilmuNya kepada siapa yang dikehendaki, bahkan hingga melampaui ilmu yang dimiliki seorang Nabi. Dalam kisah itu terbuka rahasia pada saat kapal dirusak telah menyebabkan kapal itu selamat urung diminta oleh raja saat berlabuh karena kondisi kapal yang rusak.

Rahasia anak yang dibunuh adalah diketahui bahwa anak itu dikuatirkan nanti karena kedurhakaannya dapat mendorong orang tuanya yang sholeh kearah kekufuran dan Rahasia ketiga, mengapa Khidir mengusahakan menegakkan rumah itu sendiri tidak mengambil upah adalah karena ikhlash mengetahui di rumah itu  tersimpan harta yang bakal dinikmati anak yatim nanti setelah dewasa dari  orang tuanya yang sholeh.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s