Mursyid: arti, ciri dan cara belajar kepadanya

30 Tahun 30 Hari Mencari Pohon Surga

Berbahagialah orang yang sudah menemukan guru pembimbing setingkat Mursyid. Dengan itu, seseorang dapat mudah mempelajari ilmu tasawuf termasuk ilmu Tarekat, Hakekat dan Makrifat.

Namun mendapatkan guru setingkat Mursyid ini ternyata tidaklah mudah. Oleh karena itu ada baiknya memahami dulu bagaimana seorang Mursyid itu terkait arti, karakteristik dan cara untuk mendapatkan ilmu darinya.

Pengertian Mursyid

Bila dipahami secara mendalam, bahwa belajar ilmu tiada salahnya kepada siapapun. Orang yang belajar ilmu Allah akan menyadari dirinya bodoh dan selalu tawadhu kepada Allah dan orang lain.

Kadangkala disadari kebenaran tidaklah selalu datang kepada orang yang berpangkat atau hebat, malah didapat dari orang awam biasa. Orang yang diberikan ilmu Allah bukan pada penampilan fisik berupa pangkat kekayaan namun Ilmu Allah hanya akan bersemayam kepada hamba yang memiliki hati iman dan selalu tawakal.

Sabda Nabi saw: Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah akan memberikan kecerdasan pemahaman sebaik-baiknya dalam hal agama (HR Bukhari)

Diberikan atau tidaknya ilmu Allah kepada seseorang adalah hak Allah dan Allah yang menentukan sendiri bagaimana seseorang dapat menguasai ilmunya. Karena itu jelas ada orang yang dilebihkan atas hamba yang satu dengan lainnya terkait dengan penguasaan ilmu Allah dan disitulah Mursyid berada sebagai orang yang diberi kelebihan baik derajat dan kemuliaan terkait ilmu Allah Swt.

Ciri dan karakteristik seorang Mursyid

Karena itu untuk mendapatkan guru setaraf Mursyid tidaklah mudah, Allahlah yang menunjukkan sesuai kadar niat / kesungguhan dan tingkat keimanan seseorang serta ibadah yang dilakukannya. Beberapa ulama memberikan karakteristik sebagai berikut:

1. Sederhana, tidak selalu terkenal cenderung tersembunyi

Ulama Mursyid tidak selalu identik dengan ulama yang dikenal luas atau terkenal, malah kadang-kadang tempatnya terpencil dan posturnya sangat sederhana serta selalu tawadhu. Ada sebagian malah disembunyikan Allah. •

2. Ucapannya pasif tidak mau benar sendiri

Lalu kalimat yang terucap lebih banyak pasif, tidak pernah menunjuk dirinya saya atau aku apalagi mau benar sendiri semua karena Allah Swt dan ajarannya memberi kesejukan di hati.

3. Memiliki ilmu hikmah

Memiliki ilmu hikmah dalam artian mampu membaca ayat-ayat terkait ciptaan dan kejadian Allah yang terjadi di langit, bumi dan seisinya.

4. Mampu mengungkap rahasia Allah

Seorang Mursyid memiliki kemampuan mengungkap kerahasian Allah (terutama kalam Allah yang tidak beraksara dan bersuara). Dengan demikian ilmunya tidak selalu sarat periwayatan dan dalil-dalil yang panjang melainkan ringkas dan sederhana (mudah dicerna) yang semuanya merupakan kebenaran yang haq.

5, Suluk mungkin berbeda tapi intinya mengajak dekat kepada Allah.

Seorang Mursyid membawakan jalan/cara (suluk) kepada salik yang berbeda tidaklah selalu sama namun hakekatnya mengajak diri untuk lebih dekat kepada Allah.

6. Sebagai pewaris Nabi

Sebagai pewaris nabi biasanya memiliki silsilah atau keturunan kuat dan hanya diketahui diantara sesama Mursyid, sehingga ilmu ini terjamin kontinuitasnya selalu diturunkan antara mursyid yang satu dengan penerusnya dan itu dijamin tetap ada sepeninggal Nabi Saw atau hingga akhir zaman.

7. Memiliki karomah

Dalam masa perjuangan Mursyid setaraf aulia dan wali tidak pernah marasa takut dan gentar dengan karunia Allah berupa karomah yang dimilikinya

Firman Allah : Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS Yunus : 62)

8. Mandiri tidak bergantung kepada orang lain

Mampu menghidupi dirinya sendiri dengan keyakinan yang kuat pada rezeki Allah sehingga tidak bergantung pada orang atau kelompok lain. Ini yang disebut Iffah, artinya dapat mencukupi dirinya dan memiliki keyakinan yang kuat akan rezeki Allah kepadanya.

Cara belajar kepadanya

Bila karakteristik ini ditemukan tetapkan dan niatkan untuk belajar kepadanya, niatkan untuk patuh kepadanya. Patuh adalah syarat atau adab untuk mendapatkan ilmu batin ini. Mursyid adalah orang yang dicintai Allah karena dengan mencintai orang yang dicintai Allah, maka Allah akan menyayangi kita.

Beberapa kisah kepatuhan luar biasa ditunjukkan Sunan Kalijaga, Sheik abdul Kadir Jaelani dan Imam Safi’i.

Hanya kepatuhan kepada Mursyid yang mampu melatih diri kita untuk kemudian patuh kepada Allah. Mursyidlah yang mengajarkan kita mampu membuka hijab pada diri kita dan kemampuan untuk memandang kebesaran dan keagungan Allah melalui untaian hikmah yang disampaikannya.

Wallahu ‘alam bisshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s