Peringatan Maulud Nabi adalah bid’ah yang baik

hukum-perayaan-peringatan-maulid-nabi

Kegiatan umat Islam di tanah air dalam rangka menyambut Maulud/kelahiran Nabi Saw selalu diagendakan secara khusus melalui berbagai kegiatan keagamaan yang berlangsung meriah.  Kegiatan Maulud Nabi saw berkisar pada acara pengajian, shalawatan, barzanzi, qasidahan, marawis,  menyanyikan lagu rohani berisikan syair kecintaan pada Nabi dan berbagai lomba pengetahuan agama, ziarah dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kegiatan mulud menjadi tradisi di beberapa daerah ada gerebek mulud dengan membuat gunungan, sekatenan, sesajian, aneka panganan khas membuat bubur dan telur sebagai refleksi kelahiran. Memang kegiatan maulud Nabi Saw ditanah air adalah sangat khas dan pastinya berbeda dengan tempat lainnya. Satu hal dorongan untuk memeriahkan atau menghidupkan kegiatan maulud nabi Saw adalah karena  ungkapan kecintaan mereka  kepada Nabi Saw.

Maulud nabi dengan berbagai kegiatan telah menimbulkan kesan menjadi  suatu yang diada-adakan berupa kemeriahaan yang  dinilai suatu kelompok sebagai bidah, karena tidak ada pada masa nabi.  Dalam hal ini tetap harus ditanggapi positif untuk melihat kembali bagaimana kegiatan maulud nabi itu dilakukan. Para ulama beralasan bahwa kemeriahan maulud nabi yang menyerupai perayaan tidak layak dilakukan karena perayaan umat Islam sudah ada yaitu hanya 2  yaitu  Iedul Fitri dan Iedul Adha. Selain itu bentuk menyambut hari besar Islam lainnya adalah lebih cocok disebut peringatan bukan perayaan.

Dalam konteks peringatan, aspek untuk lebih mengenal, mengenang dan usaha untuk lebih mengkaji sunnahnya dan berusaha mengamalkannya adalah lebih dianjurkan.  Dalam Umat Islam sendiri, peringatan Maulud Nabi dengan berbagai kegiatan lebih merupakan tradisi masyarakat dan menyamakannya seperti memperingati hari kelahiran seseorang yang dianggap penting, apalagi ini dikaitkan dengan sosok atau orang yang amat dicintainya, junjungan nabi besar Saw.

Islam di Indonesia masuk tanpa kekerasan, dengan damai berusaha mengakomodir tradisi yang ada dan secara perlahan berusaha diluruskan. Upaya pelurusan tradisi agar sesuai dengan ajaran Islam masih terus dilakukan secara bertahap, termasuk dalam menyambut Maulud nabi saw ini.  Prinsipnya adalah bukan tradisi yang diagamakan tetapi agama yang ditradisikan.

Mengenai aktivitas berkumpul dengan puji-pujian dan sanjungan yang diungkapkan berupa syair sudah ada pada masa Shalahudin Al Ayubi pada abad 11. Shalahudin  mencemaskan adanya perpecahan dengan lahirnya beberapa kelompok atau koloni dari umat Islam yang dapat mengurangi kekuatan Islam. Shalahudin kemudian membuat seyembara pada bulan Rabiul awal untuk membuat syair-syair yang berisi kecintaan kepada Nabi Saw yang kemudian dikenal sebagai awal mula umat islam memperingati  maulud nabi saw.

Rasulullah Saw secara jelas menolak dirinya dikultuskan. Rasulullah saw tidak menginginkan  dirinya disembah-sembah sebagaimana umat / kaumnya terdahulu yang melakukan itu kepada nabinya. Dikatakan lebih lanjut berlebih-lebihan atau kebablasan dalam hal ini seperti dengan mengidolakan seseorang dikuatirkan sebagai langkah mempersekutukan Allah.

Namun demikian banyak keutamaan kecintaan Rasulnya diungkapkan dalam Al Quran dan sunnah serta kitab-kitab ulama lainnya. Dalam ayat Al Quran kecintaan pada Allah selalu digandengkan dengan kecintaan pada rasul, bila seseorang hanya cinta Allah tetapi tidak cinta Rasul maka ibadahnya tidak diterima.  Ada juga Riwayat yang menyatakan bahwa Abu lahab paman nabi saw telah menjadi musyrik sehingga kelak tempatnya di neraka, namun Abu lahab mendapatkan pengampunan setiap hari senin, karena kecintaan dia terhadap kelahiran Rasululah saw yang memang pada hari senin.

Karena itu melalui peringatan maulud nabi untuk memupuk  kecintaan kepada Nabi Saw,  menumbuhkan kebersamaan umat melalui berbagai aktivitas keagamaan, janganlah lantas disebut bidah, karena memang tidak dilakukan pada masa nabi. Peringatan serupa itu memang  bidah tetapi bidah hasanat atau yang dianjurkan. Karena itu kontroversi perlu tidaknya kegiatan dan aktivitas keagamaan dilakukan untuk memeriahkan maulud Nabi Saw kiranya harus dilihat sepanjang hal itu hanya sebagai sarana / alat  sedang tujuan tetap satu untuk  memperkuat aqidah umat Islam dan meneguhkan mereka untuk memegang sunah nabi saw  itu sendiri. Menurut Quraish shihab dalam ceramahnya peringatan Maulid nabi dalam konteks untuk mengingat beliau bukanlah setahun sekali pada bulan mulud ini namun bila perlu dilakukan setiap hari.

(Dari Islam Itu Indah Ustadz Maulana Trans TV)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s