Jihad besar adalah menaklukkan diri sendiri

khazanah-memerangi-hawa-nafsu-388-l

Ditengah semangat kecintaan diri kepada Nabi Saw dan menyadari sedikit sekali ilmu yang diberikan Allah, rasanya sangat sulit untuk menerima beberapa hadis dinilai lemah (dhoif), tanpa ditelaah dulu asalnya dan maknanya. Inilah hadis tersebut:

Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran, Nabi Saw berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar ” Sambil terperangah, para sahabat bertanya, “Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, perang menaklukkan diri sendiri.” (HR Baihaqi dari Jabir).

Kalangan ulama menilai, meskipun dipandang lemah atau tidak jelas sanadnya, hadits ini sesungguhnya dapat dipandang shahih ditilik dari segi maknanya (shahih fi al-ma`na) dan ada  asalnya. Ada beberapa hadis lain yang yang mendukung itu seperti  diantaranya adalah

Nabi Saw bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan”. (HR Hasan). Jihad yang paling utama adalah menaklukkan hawa nafsumu untuk tunduk pada Dzat Allah (HR Ad-Dailami) dan Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan.” (HR Ahmad dan Baihaqi dari Fadhalah ibn `Ubaid).

Kebanyakan yang memberikan alasan  bahwa hadis ini lemah bahkan dikatakan mungkar, karena terdorong untuk berpihak membela kepada orang yang berjihad berperang mati2an ternyata disebutkan hanya jihad yang kecil saja.  Dan dikuatirkan dengan makna perang menghadapi orang kafir itu sebagai jihad yang kecil menjadikan umat Islam patah semangatnya sehingga tidak mau berperang lebih memilih diam mengurusi nafsu dirinya.

Karena itu harus diluruskan bahwa berperang itu bukanlah jihad kecil. Beberapa riwayat kemudian dipakai sebagai dasar seperti berjihad itu lebih baik daripada beribadah beberapa puluh tahun dan ancaman bagi yang hanya diam saja tidak ikut berperang.

Namun semua itu harus diingat bahwa semuanya kembali kepada keridhoan Allah, Allahlah yang menetapkan penilaian,  sekali-kali diri tidak dapat atau mampu menilai seseorang yang mengorbankan nyawanya dalam perang apakah mati sia-sia atau tergolong mati shahid, karena banyak kemungkinanya niat selain Allah  dapat muncul pada diri seseorang itu ikut berperang.

Lagipula perang saat ini sangatlah beda pada masa Nabi saw, saat ini perang sangat kompleks kadang tidak selalu berhadapan, harus dilakukan oleh ahlinya terkait teknologi perang yang semakin canggih sehingga menjadi tidak jelas siapa melawan siapa?, skenario atau konspirasi siapa?, membawa kepentingan yang mana?, banyak sekali kepentingan bahkan dengan dalih agama. Fakta lagi yang tidak berperang atau tidak pernah sekalipun maju justru paling lantang suaranya merasa diri paling hebat dengan melakukan provokasi dan ikut mengobarkan perang.

Karena itu bukan besar kecil yang dipermasalahkan namun ikhlas atau tidak dari jihad yang dilakukan itulah yang dilihat Allah. Bagi Allah namanya jihad baik besar dan kecil tetap digolongkan jihad dan ganjarannya adalah mati syahid bagi yang melakukannya. Perbuatan yang termasuk jihad juga luas diantaranya mencari nafkah keluarga, menuntut ilmu dan merawat orang tua juga termasuk itu.

Pengakuan Nabi Saw dan sahabat beliau terkait sulitnya memerangi hawa nafsu adalah dari orang yang mengerti dan mengalami sendiri berbagai perang nyata sehingga mendapatkan perbandingan bagaimana antara perang yang nyata itu dengan perang didalam diri itu. Berbeda halnya pengakuan itu disampaikan oleh seseorang yang sama sekali tidak pernah mengalami peperangan nyata, tentu akan lain penerimaan orang.

Nabi saw pernah mengalami betapa sulitnya mengendalikan dirinya saat peristiwa di Thaif kala beliau dicemooh, dicaci dan dilempari sehingga menyebabkan nabi saw terluka, ternyata tidak serta merta nabi saw bergerak untuk membalasnya, malahan berdoa dan memohon pada Tuhan agar dirinya selalu dipimpinNya tidak dipimpin oleh dirinya. Dari peristiwa itu diisyaratkan kesabaran Nabi saw bahwa luka yang terjadi pada tubuhnya itu janganlah akhirnya merembet menjadi luka di hatinya.

Perang diri lebih rumit terkait susahnya seseorang melihat gerak atau gejolak yang ditimbulkan akal dan hawa nafsunya. Bila tidak teliti akan sulit membedakan, kelihatannya itu pandangan akal ternyata itu pandangan nafsu terkait keahlian pihak luar dalam hal ini iblis setan dan jin mengajak dan membujuk nafsu yang ada didalam diri setiap manusia.

Bujukan dan godaan musuh diri berlangsung setiap saat dengan tujuan utama memalingkan manusia dari mengingat Allah. Begitu juga dengan mengurangi keyakinan terhadapNya  dengan memberikan rasa kuatir dan was was serta ragu-ragu terhadap apapun yang dijalani manusia. Karena itu peperangan dalam diri sifatnya sangat halus dan sukar dideteksi karena menyangkut gerakan dan gejolak dalam diri.

Begitulah ilustrasi betapa sulitnya berperang melawan musuh diri yaitu hawa nafsu dibanding berperang dengan musuh yang nyata. Dalam pengenalan diri seperti diuraikan diatas, akal seseorang harus mendominasi dalam setiap perbuatannya termasuk dalam kondisi berperang sehingga tidak dipimpin oleh hawa nafsunya. Ada kisah yang menjelaskan kemampuan Ali yang luar biasa dalam mengendalikan diri.

Dalam suatu peperangan yang berlangsung sengit,  Ali bin Abi Thalib berhasil menjatuhkan lawannya. Seketika itu juga Ali langsung menghunus pedang siap memenggal lawannya. Di tengah suasana terjepit, musuh itu meludahi muka Ali. Mendapat perlakuan seperti itu, Ali bin Thalib segera mengurungkan niat memenggal leher musuhnya.

Dengan sangat heran, musuh itu bertanya, “Mengapa engkau tidak jadi membunuhku?”Ali menjawab, “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Tetapi engkau meludahiku, niatku membunuhmu bukan karena Allah, melainkan karena nafsu amarahku kepadamu.”

Mendengar penjelasan itu, orang tersebut langsung mengucapkan syahadat dan segera bergabung dengan pasukan Ali bin Abi Thalib. Tidak terbayangkan bila lawannya itu bukan Ali, niscaya pada saat itu lehernya telah terputus kena sabetan pedang.

Perbuatan Ali itu menggambarkan kepribadian yang sangat agung. Kebesarannya bukan hanya terlihat dari kepiawaiannya dalam berperang. Kemuliannya bukan hanya terlihat dari pemikiran dan ucapan-ucapannya. Tetapi lebih dari itu, Ali menempati posisi sangat terhormat dalam kelompok sahabat dan keluarga Nabi justru karena kemampuannya mengendalikan hawa nafsu.

Berperang melawan hawa nafsu sesungguhnya jauh lebih sulit dibandingkan dengan berperang melawan musuh-musuh yang nyata secara fisik. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW mengatakan bahwa perang di medan pertempuran adalah jihad kecil, sementara perang melawan hawa nafsu adalah jihad besar.

Wallahu ‘alam bi showab

Terinpirasi dari tulisan pada http://www.majalah-alkisah.com/

4 thoughts on “Jihad besar adalah menaklukkan diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s