Wanita dalam pandangan Muhammad saw

khadijah

Menarik dalam membahas perkara mengenai wanita.  Sebelum datangnya Islam dalam berbagai peradaban lama, bangsa Yahudi, Persia, China, dan bangsa arab sendiri wanita didudukan dalam posisi rendah, sehingga datang Islam untuk memperbaiki kedudukan wanita seperti saat ini. 

Wanita dan maksud penciptaannya

Pandangan nabi saw terhadap wanita adalah jelas bahwa beliau menyatakan bahwa dirinya mencintai wanita.  

Sabda Nabi Saw : ”Tiga hal dari dunia kalian ini menjadi kesukaanku (kecintaanku), kaum wanita, parfum dan kesejukkan mataku ketika shalat.” 

Terkait dengan wanita, memang Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada langit ada bumi, ada surga ada neraka, ada baik ada buruk, ada pahala ada dosa, ada benar ada salah,  ada syukur ada kufur, dan termasuk juga ada wanita ada laki-laki.

Tidak ada maksud Allah menciptakan berpasangan itu adalah untuk saling berlawanan bahkan memusuhi yang ada, adalah dianjurkan untuk saling kenal mengenal. Kenal mengenal ini adalah sumber dari kecintaan terhadap sesama ciptaanNya, termasuk  laki-laki kepada wanita bagi orang yang mau mengambilnya sebagai pelajaran. Ingat juga memusuhi dan membenci wanita juga tidak baik karena bukankah ibumu adalah wanita?.

Firman Allah:  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujarat: 13)

Laki-laki mencintai wanita memang sudah kodrat kejadiannya sebagai firman Allah :, ”Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya. (pasangannya)” (Annisa: 1).

Firman Allah “mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”  (Al-Baqarah: 187)

Wanita-wanita mulia dan layak dicintai

Namun demikian dalam mencintai wanita harus pandai untuk melihatnya hanya dari pandangan akal dan hati (lihat post hati dan wanita). Bila tidak memandang wanita secara demikian maka diri akan dikuasai pada pandangan nafsu  yang hanya mengutamakan pandangan diri pada keindahan fisik semata. 

Para Nabi termasuk Rasulullah saw  mencintai wanita-wanita tertentu adalah karena wanita-wanita itu layak untuk dicintai terkait dengan kapasitas spiritual yang luar biasa.  Contoh  adalah bagaimana kecintaan Nabi saw kepada Khadijah al-Kubra as, isteri pertama beliau.

Sampai akhir hayat beliau saw beliau tidak dapat melupakan kecintaannya kepada Khadijah sampai-sampai ‘Aisyah merasa sangat cemburu. Contoh lainnya yang juga tidak bisa kita abaikan adalah cinta Rasul saw kepada putrinya Fathimah  yang sangat besar.

Rasulullah Saw menyebutkan ada 4 wanita yang telah mencapai tingkatan spiritual yang sedemikian tinggi yang bahkan kaum lelaki pun akan sulit untuk mencapainya. Kempat wanita itu adalah : Khadijah binti Khuwailid as, isteri Nabi saw, Fathimah, puteri Nabi saw, Maryam binti ‘Imran as, dan Asiyah binti Muzahim as, sebagaimana

Sabda Rasulullah saw, ”Sebaik-baik wanita di Surga adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun”

Jadi, para Nabi saw, mencintai wanita dengan pandangan spiritualitas bukan dengan pandangan fisik. Pandangan fisik wanita itulah pandangan nafsu dan ini pantas di waspadai.

Wanita sebagai unsur nafsu

Dalam pembahasan  mengenai nafsu terkait “3 ta” tahta, harta dan wanita, jelas wanita adalah salah satu unsurnya. Bila bicara nafsu,  konotasi langsung pada hal yang negatif terkait sifat yang menggoda dan menjadikan diri berpaling atas kecintaan kepada Allah. Dalam beberapa hal menjadi benar sehingga muncul sikap yang agak membenci yang namanya wanita karena kekuatiran dimaksud.

Kekuatiran kepada wanita sebagai unsur nafsu yang melenakan adalah senada dengan ucapan Sheikh abdul Qadir Jailani yang menyatakan bahwa mengikuti anjuran untuk mencintai wanita butuh proses, karena dengan maqom / kedudukan setingkat nabi saw tentu kecintaan pada wanita tentu tidak menjadi masalah, namun dengan maqom / kedudukan ilmu yang masih sedikit memahami wanita kiranya perlu ber hati-hati.

Dengan kata lain hadis ini dapat diterapkan apabila diri sudah melatih diri sehingga tidak bergantung kepada kebutuhan termasuk wanita untuk tujuan atau maksud lain selain Allah. Bila hati ini telah lebur dan hilang akan kebutuhan dunia itu barulah dapat mengikuti hadist itu. 

Wallahu a’lam

2 thoughts on “Wanita dalam pandangan Muhammad saw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s