Sifat marah: arti, kerugian dan cara mengatasinya

JANGAN MARAH

Arti

Marah adalah perwujudan nafsu amarah yang berorientasi kepada kesombongan diri. Karena itu akar kemarahan berasal dari sifat Iblis dengan unsurnya api.

Allah berfirman:“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al Araf : 12)

Ciri api adalah selalu menyala-nyala, menyerang, bergejolak dan memancarkan api. sementara  sifat manusia dekat dengan unsur pembuatnya yaitu tanah dengan tampilan  tenang, diam dan tidak bergerak.

Manusia sesungguhnya dapat mengelola marah seperti ibarat mengelola unsur lainnya seperti air, angin dengan memahami bahwa api kecil akan menjadi manfaat dan sebaliknya akan menjadi mudharat bila besar, begitu juga dengan marah.

Dalam kaitan sifat api tersebut, menjadi logis apa yang dianjurkan Nabi saw agar menjauhi marah sebagaimana sabdanya:

Dari abu Hurairah ra bahwa seorang laki-laki telah berkata: Ya rasulullah Saw, wasiatilah aku. Sabda beliau: Janganlah marah, beliau mengulangi beberapa kali, beliau bersabda : janganlah marah (HR Bukhari)

Sebab dan pembagian marah

Imam Gazali membagi marah itu menjadi  3 yaitu

  1. pertama, marah yang lembut,
  2. kedua marah yang keras berlebihan dan
  3. ketiga adalah marah yang dikendalikan atau ditengah-tengah.

Marah yang lembut dan cenderung dihilangkan dalam satu hal menjadi cela misalnya karena ketidak mampuan untuk melawan pihak yang jelas-jelas menginjak-nginjak kehormatan keluarga, negara dan agama atau adanya kemungkaran. Dipihak lain marah berlebihan akan menjadi pujian jika digunakan untuk hal itu, seperti kerasnya terhadap orang kafir.

Firman Allah: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.(Alfath: 29)

Firman Allah : Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.(At Tahrim : 9)

Terkait  marah yang yang dikendalikan, ini  adalah ideal, maka seseorang harus dapat menggelola marahnya, seperti mengelola api tidak besar dan tidak pula kecil. Dalam hal ini marah yang sekerasnya dapat dilakukan terhadap kemungkaran, bila tidak dirinya akan berdosa bila kuasa melakukan itu.

Namun bila belum ada kekuasaan, tahu dirilah bila diri  coba-coba menggunakan marah kepada orang kafir, apalagi tanpa perhitungan dan mengenal musuhnya, yang ada hanyalah bunuh diri.

Dalam kaitan ini perlu kecerdasan dalam menggunakan marah dengan berlaku tertib dengan mampu melihat keadaan. Nabi saw memuji golongan marah ini sebagai orang yang kuat sebagaimana sabda nabi saw:

Orang kuat adalah orang yang dapat menahan hatinya dikala marah.(HR Bukhari).

Sebab kemarahan beraneka macam, marah seseorang tersulut karena beberapa hal seperti diremehkan, tidak didudukkan orang pada tempatnya, kekecewaan, senda gurau yang berlebihan sehingga menjadi tersinggung dan bahkan kecemburuan.

Akibat dan kerugian marah

Akibat yang ditimbulkan kemarahan dapat terlihat dari tanda-tanda lahir, wajah memerah, melotot, gugup, dada berdebar-debar, gemeretak giginya, kepal siap meninju. Dari lisan bersumpah serapah, mencaci dan bahkan berkata kotor.

Kecerdasan juga berkurang menjadi bodoh, picik dan tidak tau lagi membedakan mana yang baik mana yang buruk. Karena itu ada anjuran lihatlah wajah dikala diri marah, itulah seburuk-buruk rupa tampilan diri.

Bila lahir terlihat demikian bagaimana sumber dari marah itu dari dalam diri. Padahal kalau tahu keburukan lahir itu tidak seberapa akibatnya dibanding yang kedalam.

Ali Bin Abi Thalib menyatakan bahwa marahnya orang berakal dan orang bodoh dapat dibedakan. Kemarahan orang berakal dapat dilihat pada tindak tanduknya dan kemarahan yang ada pada orang bodoh itu dapat dilihat melalui perkataannya.

Bila marah ini dipelihara, berkesinambungan akan timbul dengki dan lebih berat lagi dapat menjadi dendam. Bila seseorang memiliki dengki dan dendam tidak ada keuntungan baginya sedikitpun kecuali kerugian dan kesengsaraan bagi dirinya berupa ketidak tenangan dan ketidaktentraman hidup

Cara mengatasi marah

Beberapa cara dapat dilakukan dengan menagatasi marah yaitu :

1. Atasi dengan berwudhu

Marah adalah sifat api dan cara memadamkannnya tiada lain dengan api. Nabi Saw memberikan tuntunan redamlah amarah dengan cara berwudhu. Sabda Nabi:

“Bahwa marah itu berawal dari setan, sedang ia terbuat dari api dan api itu padam dengan air. Maka ketika salah seorang dari kamu dikuasai kemarahan, padamkanlah ia dengan berwudhu.

2. Dengan berlatih

Melihat akibatnya yang jelek itu, cara pencegahan yang perlu dilakukan adalah latihan menahan marah, berlatih sabar dan mencoba untuk tawadhu dan melenyapkannya jelas tidak mungkin.

3. Lebih memperhatikan gejolaknya didalam

Bila sifat marah yang tampak luar itu luar biasa, biasa dibayangkan apa yang terjadi didalam sebagai sumbernya. Dalam hal perlu sikap teliti dan mampu memahami gerak dan  gejolaknya bila suatu marah itu terjadi

4. Tiada manfaat dari marah

Dan satu hal lagi cobalah berpikir pada hal lain yang lebih penting dan lebih bermanfaat dari pada energi dikuras hanya untuk mengurusi marah.

5. Jadilan seorang pemaaaf

Firman Allah :Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(Al Araf: 199).

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s