Muhasabah (introspeksi), makna dan cara membiasakannya

muhasabah

Sabda Nabi : Hasibu qobla an tuhasabu,” artinya hitunglah diri kalian sebelum datang hari perhitungan.

Inilah hadis yang sarat makna. Yang terbersit dalam benak kita adalah diri menghitung-hitung apa yang telah diperbuat dalam sehari, 1 jam, 1 menit, 1 detik bahkan dalam hembusan nafas saat keluar dan masuk. Sedang apa dan berbuat apakah diri?. Adakah dalam waktu itu berbuat amal shaleh atau malah sebaliknya.

Untuk melatih dan membiasakan menghitung diri sendiri diperlukan ketelitian untuk melihat serangkaian amalan atau usaha baik dalam kerangka ibadah maupun usaha dunia yang di khususkan untuk tujuan akhirat.  Hitungan perbuatan bukan hanya gerak panca indera dan anggota tubuh namun termasuk juga diamnya melalui  wujud gerak dan desiran dan keinginan hati.  

Bila teliti dalam melihat gerak dan perbuatan lahir dan gerak batin barulah orang itu disebut pandai menghisab diri. Serangkaian amalan dan latihan itu akan meringankan hisabnya kelak dan berarti dirinya sudah terlatih.

Dalam menghitung diri ada beberapa panduan yaitu terkait amanat yang diberikan Allah kepada setiap diri yaitu terkait, umur, raga, ilmu dan hartanya sesuai sabda Nabi  Saw yaitu : 

Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang 4 perkara yaitu:Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?,Tentang badannya untuk apa ia gunakan?,Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?,Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?. (H.R Attarmizi).

Namun demikian dengan kehendak Allah dimungkinkan seseorang dalam keadaan tertentu tanpa mendapat hisab yaitu golongan hamba yang beriman terdiri dari para nabi dan Rasul serta aulia, para syuhada dan orang yang sabar.  Tiada balasan Allah bagi orang yang sabar kecuali surga, telah difirman Allah secara berulang-ulang sebagai berita gembira bagi hambaNya yang mau bersabar.

Firman Allah : Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (Azzumar : 73)

Orang yang tidak ingin dirinya  menemui hisab sudah tentu akan berusaha dan berupaya untuk melatih diri dan  membiasakan menghisab diri sendiri. Namun demikian lain halnya orang yang tidak melatih atau mengadakan perhitungan diri. Buat orang demikian menghitung diri menjadi suatu pekerjaan yang membuat susah dan kesal hati, mengeluh terus menerus, akibat ketidak biasaan diri menjawab setiap hal terkait 4 pertanyaan itu.  Hidupnya akan larat dan asyik terus menjerumuskannya dirinya ketempat hina dan menjadi murka Allah, tanpa ada keinginan untuk introspeksi dengan menghitung-hitung dirinya.

Orang yang demikian diakhirat kelak sudah pasti akan kesulitan menjawab, karena laku dan perbuatan mereka lebih cenderung tiada perduli dengan hitungan diri itu.  Maka itu bagi mukmin hendaklah tidak melengahkan diri mengenai hal ini. Harus mawas diri dalam segala hal termasuk mengamati gerak dan diamnya, penglihatan, mata, detak niatnya dalam rangkaian usahanya utk akhirat. Sebab usaha yang diistilahkan dengan jual beli ini bakal meraih keuntungan yaitu berupa surga bersama para nabi para siddik dan syuhada (Duratun Nasihin)

Dengan demikian muhasabah berarti perlu kita lakukan setiap hari. Mengenai waktunya, Ibnu Qayyim berkata, “Muhasabah itu dilakukan sebelum melakukan perbuatan dan setelah melakukan perbuatan.” Demikian beliau terangkan dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin.

Muhasabah sebelum melakukan perbuatan seorang Muslim berhenti pada awal keinginan dan kehendaknya serta tidak bersegera melakukan perbuatan sampai jelas statusnya. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang harus dijawab.

Pertama, apakah perbuatan yang diiginkan mampu dilakukan atau tidak. Kedua, apakah perbuatan itu sesuai syariat. Ketiga, apakah perbuatan itu akan dilakukan ikhlas karena Allah.

Sementara itu, untuk muhasabah setelah melakukan perbuatan dapat dicek melalui apakah perbuatannya sesuai syariat dan apakah dilakukan ikhlas karena Allah. Menurut Ibnu Qayyim muhasabah setelah melakukan perbuatan ini ada tiga macam.

Pertama, muhasabah atas ketaatan yang diabaikan. Kedua, muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada dilakukan. Ketiga, muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.

Lebih jauh Ibnu Qayyim berkata, “Seyogyanya bagi seorang Muslim itu menyisihkan waktunya pada pagi hari dan sore hari untuk muhasabah diri. Dan ia menghitungnya sebagaimana para pedagang dengan rekan-rekannya menghitung keuntungan dan kerugian transaksi mereka setiap akhir penjualan.”

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s