Beda ulama dulu dan sekarang

gambar ulama

Misi ulama, menurut Sunnah Rasulullah SAW, ialah meneruskan misi para Rasul. Ia mencari, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu demi ridha Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW mengecam dengan keras ulama yang menjadikan tujuan hidupnya pada tujuan dunia seperti berkehidupan mewah, mencari popularitas atau kedudukan.

Bila ada seorang ulama yang mengutamakan dunia, maka akan sangat jelas balasannya tidak akan mendapatkan surga, bahkan baunyapun tidak sebagaimana

Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk mencari keridhaan Allah, ia mempelajari ilmu-ilmu itu untuk memperoleh harta-harta duniawi, ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat”

Keadaan ulama sekarang

Ulama sekarang saat ini bergantung kepada sangkaan umatnya. Bila umatnya lebih banyak meminta petunjuk terkait kehidupan akhirat dan hal lain yang sifatnya kekal, maka amanlah derajat atau maqom (kedudukan) ulama itu sesuai posisi mulia yang diembannya.

Namun bila seorang ulama sudah disibukkan kepada keperluan sesaat umatnya, seperti hal terkait keduniaan, walaupun tujuannya baik untuk kesehatan, meneliti halal dan haram suatu produk atau pengobatan alternatif misalnya, bila dipenuhi sebenarnya ulama itu sudah menurunkan derajat atau maqom dirinya. Ulama demikian tak ubahnya seperti tabib.

Lebih parah lagi bila ulama sudah mengurusi atau memenuhi terkait kebutuhan keduniaan umatnya seperti diminta untuk memberikan amalan terkait mendapatkan kekuasaan, jodoh dan harta, maka terperosoklah lebih dalam ulama itu menjadi seorang dukun.

terkait dengan ulama sekarang yang senang dunia, dalam suatu riwayat Yahya bin Muadz Ar Razi Ra berkata kepada ulama yang senang dunia itu sebagai berikut :

  1. Istanamu ini melambangkan kaisar Romawi
  2. Rumahmu ini melambangkan rumah raja Persia
  3. Tempat tinggalmu melambangkan rumah Qarun
  4. Pintu-pintumu melambangkan pintu raja Thalut
  5. Pakaianmu melambangkan pakaian raja Thalut
  6. Pola pikirmu melambangkan pemikiran setan
  7. Benda-benda milikmu melambangkan Marwan bin Hakam
  8. Kekuasaanmu melambangkan kekuasaan Fir’aun
  9. Para hakim pembantumu ceroboh, suka menerima suap dan khianat
  10. Para pemimpinmu adalah orang-orang jahiliyah.

Keadaan ulama sekarang dengan popularitas yang dimiliki dan kekayaan yang didapat dengan semua itu, sebenarnya cocok sebagaimana gambaran Yahya bin Muadz Ra diatas. Lantas dimanakah cara dan teladan hidup yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw?

Beda dengan ulama dulu

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa ulama sekarang ini berbeda dengan ulama dahulu. Ulama dahulu selalu terjaga dan keadaan terbangun, sementara umatnya dalam keadaan tertidur.

Ini maksudnya ulama dahulu selalu istiqomah dalam memperjuangkan agama dan membela umatnya dengan niat yang ikhlash dan sabar. Dengan sikap sekalipun tidur, namun hatinya ulama yang dahulu selalu terjaga. Sementara umatnya dalam keadaan tidur, dalam artian hanya perlu dibangunkan. Dengan demikian pekerjaan ulama dulu kepada umatnya relatif lebih mudah.

Sementara itu ulama sekarang keadaannya dalam posisi tidur, dalam artian ulama sekarang banyak godaannya kepada hal-hal keduniawian. Kedudukan ulama sekarang ini rawan terhadap hal-hal yang dapat menjadikan ulama lengah atau tertidur. Sementara kondisi umat sekarang bukan dalam posisi tidur namun cenderung mati, terkait dengan derasnya hantaman atau godaan duniawi kepada mereka.

Karenanya menjadi sulit bila kondisi ulama yang tidur untuk membangunkan umatnya yang mati. Begitulah ilustrasi gambaran ulama dahulu dan sekarang sebagaimana riwayat Abu Qosim dibawah ini.

Dikisahkan ada seorang pria bertanya kepada abu qasim al Hakim katanya : Kenapa ulama dizaman kita sekarang ini masyarakat tiada perduli dengan nasehat mereka. Jauh berbeda dengan ulama dahulu yang selalu diperhatikan dan diikuti..

Jawab abu qosim : sesungguhnya ulama dulu dalam keadaan jaga tidak tidur dan selalu sadar sedangkan umatnya dalam keadaan tidur. Lalu mereka dalam keadaan sadar insaf selalu berusaha mengingatkan yang lengah. Sedangkan ulama sekarang keadaannya tidur atau lengah dan umat dalam keadaan mati.

Maka bayangkan saja dapatkah kiranya orang yang tidur membangunkan yang mati?.

 (Nashaihul Ibad)

Wallahu ‘alam bis showab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s