Alasan tidak boleh merasa paling baik apalagi mengkafirkan orang lain

syekh-abdul-qodir

Allah telah menciptakan manusia berbeda-beda sesuai rahman dan rahimNya dan Allah telah  memiliki rencana atas masing-masing diri itu.

Saat ini orang dengan sangat mudah menilai bahwa diri dan kelompoknya adalah yang paling baik, sehingga mudah juga meniadakan dan mengkafirkan orang lain yang tidak masuk dalam golongannya. Lebih berani lagi mereka sudah berani menjamin dirinya untuk mendapatkan surganya Allah, sementara yang lain akan masuk ke neraka.  Padahal kafir atau tidaknya seseorang murni prerogatif Allah.

Bila manusia yang hanya ciptaan Allah suka mengkotak kotakan demikian maka sebaliknya dengan sang maha pencipta yaitu Allah yang tidak membeda-bedakan status sosial, pangkat, keturunan, karena yang dilihat Allah hanyalah takwanya.

Dalam kaitan itu, ada beberapa pedoman dalam bersikap terhadap sesama sebagaimana diajarkan  Sheikh Abdul Qadir Jailani sebagai berikut:

  1. Seandainya kamu bertemu dengan seorang yang lebih darimu, maka dalam hati katakan: “Orang-orang ini benar benar lebih baik dan lebih mulia derajatnya dariku di sisi Allah“.
  2. Seandainya yang kamu temui seorang anak kecil, hendaklah dalam hati kamu katakan : “Anak ini terbebas dari dosa dan belum pernah berbuat maksiat kepada Allah, sedangkan aku telah berbuat dosa dan maksiat kepadaNya. Karena itu dia lebih baik dariku”
  3. Seandainya kamu menemui seorang yang lebih tua, katakanlah dalam hati: “Orang ini telah menyembah Allah lebih dulu dariku”,
  4. Seandainya kamu menemui orang alim, katakan dalam hatimu: “Orang ini telah diberi apa yang belum kamu peroleh, dia telah menerima apa yang belum aku dapat. Dia telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui dan dia mengamalkan ilmunya”.
  5. Seandainya yang kamu ketahui orang bodoh, katakan dalam hati : “orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepadaNya beserta pengetahuanku. Aku tidak mengetahui bagaimana Allah mengakhiri umurku dan umur orang ini, lalu  siapa yang khusnul khotimah dan siapa yang su’ul khotimah”.
  6. Seandainya kamu temui seorang yang kafir katakan dalam hati: “Aku tidak tahu, bisa jadi dia akan memeluk Islam, lalu mengakhiri hidupnya dengan amal saleh. Sebaliknya bisa jadi aku yang terjerumus dalam kekafiran, lalu mengakhiri kehidupan dengan amal yang buruk.”

Dari pedoman itu kita harus sadar bahwa kita tidak pernah tahu rencana Allah terhadap seseorang itu.  Karena itu langkah yang bijaksana adalah selalu berprasangka baik dan bersikap biasa dan menunjukkan kesahajaan  terhadap sesama apapun kedudukan dan posisinya.

Tidak bakal Susah orang yang hidup sederhana (biasa dan bersahaja) (HR Imam Ahmad)

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s