Gambaran betapa sulitnya diri menjadi Ikhlash

murni

Mengenai keistimewaan sikap Ikhlash telah disampaikan oleh seorang ahli makrifat bahwa Ikhlash adalah rahasia antara Allah dan hambaNya.

Dikala seorang hamba melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu tidaklah di ingat-ingat atau cenderung tiada berbekas. Karena itu ikhlash ini tidak diketahui malaikat sehingga malaikat tidak bisa mencatatnya. Namun tidak pula diketahui setan, sehingga ia tiada kuasa merusaknya.

Imam Gazali menyampaikan panduan mengenai posisi Ikhlash sebagai amalan tertinggi. Karena tertinggi Allah memberikan ganjaran yang tanpa batas. Konsekuensinya ikhlash itu banyak musuh Allah yang sangat ingin merusaknya sehingga seseorang yang menyandangnya akan dihadapkan dalam bahaya besar.

Cara merusak setan terhadap Ikhlash secara langsung berhadapan akan sia-sia, namun Setan lebih memilih secara halus dengan menyusup kedalam amal atau ibadah diri berupa sikap pamer, riya, ujub karena ibadah.

Imam Gazali berkata: “Semua manusia itu celaka, kecuali orang berilmu, semua orang berilmu itu celaka kecuali orang yang beramal. Dan semua orang beramal akan celaka kecuali orang yang ikhlash. Dan orang yang Ikhlash akan selalu dibayangi  bahaya yang besar.”

Suatu contoh: Adapun bahayanya adalah demikian, dikala orang yang ikhlash melakukan shalat. Maka setan berbisik: “Baguskanlah shalatmu, dengan begitu orang yang hadir akan memandangmu dan pandangan orang itu tentu penuh kewibawaan dan kebaikan kepadamu serta jauh pandangan hina kepadamu karena shalatmu”. Sedemikian halus bisikan setan itu, sehingga secara tidak sadar menjadikan ikhlash itu rusak.

Semua ulama sepakat bahwa kesulitan seseorang untuk Ikhlash adalah usaha mempertahankan sifatnya agar sama sekali tidak bercampur dengan yang lainnya, sehingga ikhlash itu murni ditujukan kepada Allah.

Firman Allah : Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Azzumar : 3).

Allah memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana ikhlash itu seperti terjadinya/ proses susu sapi terbentuk. Tidakkah seseorang memikirkan bagaimana  susu yang murni sama sekali tidak bercampur dengan darah dan kotoran itu terjadi?

Firman Allah : Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl : 66)

Mengingat sulitnya untuk Ikhlash maka tiada lain diri terus bermohon karena hanya dengan kekuatan Allahlah diri dapat bersandar agar dapat Ikhlash. Karena acuan Ikhlash kepada Allah  itu amatlah jelas dan tegas sebagaimana firmanNya:

Firman Allah : Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.  Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al Anam 162-163)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s