Kisah Wara’ seorang Abu Hanifah ra

imam-abu-hanifa

Yazid bin Harun berkata, “Saya belum pernah mendengar ada seseorang yang lebih wara’ (sifat yang sangat berhati-hati dengan yang haram dan subhat) dari pada Imam Abu Hanifah.

Dalam suatu riwayat Imam  Abu Hanifah Ra telah menyuruh anak buahnya menjualkan 70 pakaian sutera dan diketahuinya ada salah satunya dalam keadaan rusak/ cela sehingga tidak pantas untuk dijual. Namun akhirnya semua pakaian itu terjual habis termasuk  1 pakaian yang ada rusaknya itu.

Anak buahnya menjual semua pakaian itu dengan harga yang lumayan  30 ribu dirham. Saat anak buahnya mau menyetorkan hasil penjualan itu Abu Hanifah berkata: Apakah kamu sudah menjelaskan bahwa ada cela pakaian yang telah dijual itu?. Anak buahnya menjawab : Saya lupa tuan.

Mendengar itu Abu Hanifah menyedekahkan semua hasil penjualan itu, karena kuatir bercampurnya barang haram didalamnya karena penjualan satu helai pakaian rusaknya itu.

Dalam riwayat selanjutnya, Imam Abu Hanifah Ra pernah meninggalkan makan daging kambing selama tujuh tahun ketika seekor kambing milik baitul mal di Kufah hilang sehingga beliau yakin kambing tersebut telah mati. Sebab, beliau menanyakan berapa waktu paling lama kambing bisa bertahan hidup? Dikatakan kepadanya, “Tujuh tahun.”

Maka beliau meninggalkan makan daging kambing selama 7 tahun karena untuk berhati-hati lantaran ada kemungkinan kambing haram itu masih hidup. Sehingga, bisa jadi kebetulan dia memakan sebagian dari kambing tersebut yang berarti menzhalimi hatinya. Meskipun sebenarnya tidak berdosa karena tidak mengetahui benda itulah yang haram

Dalam riwayat terakhir, saya pernah melihat beliau pada suatu hari sedang duduk di bawah terik matahari di dekat pintu rumah seseorang. Lalu saya bertanya kepadanya, “Wahai Abu Hanifah! Apa tidak sebaiknya engkau berpindah ke tempat yang teduh?”

Beliau menjawab, “Pemilik rumah ini mempunyai hutang kepadaku beberapa dirham. Maka, saya tidak suka duduk di bawah naungan halaman rumahnya.”

Sikap seperti apa yang lebih wara daripada sikap ini? Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa beliau ditanya mengapa enggan berdiam di tempat teduh, lalu Abu Hanifah berkata kepadaku. “Pemilik rumah ini mempunyai sesuatu. Maka, saya tidak suka berteduh di bawah naungan dindingnya, sehingga hal tersebut menjadi upah suatu manfaat.”

Saya tidak berpendapat bahwa hal tersebut wajib bagi semua orang, akan tetapi orang alim wajib menerapkan ilmu untuk dirinya sendiri lebih banyak daripada yang dia ajarkan kepada orang lain.

Wallahu a’lam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s