Sifat wara’: arti, ciri dan keutamaannya

657xauto-cobalah-jalan-jalan-di-hutan-dan-rasakan-7-manfaat-dahsyat-ini-150608c

Pengertian wara’

Prinsip dasar wara’ adalah sifat yang berisi  kehati-hatian yang luar biasa dan tidak adanya keberanian untuk mendekati sesuatu yang bersifat haram, termasuk juga hal-hal yang sifatnya ragu-ragu atau subhat.

Dan dalam hal ini, Nabi Saw bersabda:

Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.

Wara’ membawa ketenangan hati

Imam al-Bukhari ra mengutip perkataan Hasan bin Abu Sinan ra: ‘Tidak ada sesuatu yang lebih mudah dari pada sifat wara’: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Begitu juga terhadap hal dimana hati mengingkarinya sesuai Ibnu ‘Asakir ra:“Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah.

Terkait dengan gerak hati ini, Nabi Saw bersabda:

Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu.

Orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap preventif dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram.

Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda: “Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.”

Sifat wara’ dan keutamaan menjaga lisan

Sifat wara’ juga menyangkut  hubungan mu’amalah, utamanya soal lisan. Ishaq bin Khalaf ra memandang sikap wara` dalam ucapan lebih utama daripada sikap wara` dalam hubungan yang berkaitan dengan harta, di mana dia berkata: ‘Wara’ dalam tuturan kata lebih utama daripada emas dan perak.

Di antara renungan Ibnu al-Qayyim ra dalam hadits-hadits Rasulullah, dia menyatakan bahwa sesungguhnya: ‘Rasulullah  mengumpulkan semua sifat wara’ dalam satu kata, maka beliau bersabda:

Termasuk tanda baik keislaman seseorang, ia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.”         

Sifat wara’ menjadikan diri selalu terjaga

Dan di antara hasil yang nampak bagi sikap wara’ bahwa ia memelihara pelakunya dari terjerumus (dalam hal yang dilarang), karena itulah engkau menemukan: Barangsiapa yang melakukan yang dilarang, ia menjadi gelap hati karena tidak ada cahaya wara’, maka ia terjerumus dalam hal yang haram, kendati ia tidak memilih untuk terjerumus padanya.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar ra dan’Aisyah ra berkata tentang Zainab ra, di mana ia menjaga pendengaran dan penglihatannya dari terjerumus dalam perkara yang ia tidak mengetahui: ‘Maka Allah  menjaganya dengan sifat wara’.    

Maka dengan demikian  wara’ merupakan :

  • kedudukan ibadah yang tertinggi:”Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi manusia paling beribadah.”  Dan
  • agama yang paling utama adalah sikap wara’:”Sebaik-baik agamamu adalah sikap wara’

Wallahu a’lam

Disadur dari Islam Center http://www.islam-center.net

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s