Makna cermin untuk melihat cela diri menurut Gazali

aib diri

Sesungguhnyasetiap diri itu memiliki cermin hidup (Mir’atul Hayai). Melalu cermin itu seseorang dapat melihat lingkungannya yaitu  orang lain dengan segala gerak dan perbuatannya. Segala kebaikan dan kemungkaran yang dilakukan mereka dapat pula menjadi cermin.

Cermin juga dapat digunakan sebagai cermin untuk diri yakni untuk melihat gerak dan perbuatan, keberhasilan dan kegagalan diri dapat menjadi cermin, begitu juga kondisi lainnya seperti kesehatan dan kondisi keuangan juga dapat menjadi dilihat.

Namun demikian ada 2 jenis cermin baik dan buruk.  Cermin baik pantulan gambarnya adalah apa adanya / jujur yang akan menjadikan diri sportif dalam menilai diri. Sebaliknya cermin buruk, sebaik apapun diri menggunakannya akan memantulkan gambar yang bengkok. Itulah mengapa anda perlu bergaul dengan orang dan lingkungan yang baik.

Terkait dengan cermin untuk melihat cela diri, Al Ghazali dalam bukunya Mauidzatul Mukminin berkata : Ketahuilah bila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, maka ia akan tunjukkan apa-apa yang menjadi cela dirinya. Oleh Allah dirinya akan dikarunia mata hati yang tajam sehingga tidak ada satu celapun yang tidak terlihat / luput atau tidak disadari oleh  dirinya. Ketahuilah bahwa cela itu adalah penyakit, dan bila  suatu penyakit itu sudah diketahuinya, maka mudah baginya untuk mengobatinya.

Selanjutnya Imam Al Gazali berkata: Hanya saja sebagain besar manusia banyak yang tidak berusaha tahu, pura-pura tidak tahu, malahan mereka lebih suka melihat celanya orang lain, sementara cela sendiri tidak mampu dilihatnya.

Imam Al Gazali kemudian memberikan cara dalam melihat cela diri melalui  4 cara yang dapat dilakukan seseorang yaitu :

 

  1. Meminta bantuan guru atau orang lain yang memiliki kedudukan (maqom) yang lebih tinggi dari diri kita. Sebagai guru tentunya dapat melihat cela muridnya dan memberitahu bagaimana mengatasi cela atau penyakitnya itu.
  1. Mencari sahabat yang dipercaya yang mau berkata jujur kepada diri, bukan yang selalu memuji dan berkata tidak sebenarnya. Umar bin Khatab ra  berkata: Semogalah Allah merahmati seseorang yang suka menunjukkan padaku apa-apa yang menjadi celaku”.
  1. Hendaknya meneliti apa-apa yang diucapkan musuh atau orang yang membenci diri kita. Musuh akan selalu ada sebaik apapun seseorang berbuat baik. Logikanya keburukan diri tidak akan meungkin disampaikan pada orang-orang yang mencintai diri kita.
  1. Bergaulah dengan lebih banyak orang disegala golongan karena dengan itu akan terlihat berbagai cela dan penyakit di suatu umat/masyarakat. Hendaknya itu dapat dijadikan cermin untuk melihat cela diri melalui cela orang lain. Dirinya sadar bahwa sifat dan keinginan hawa nafsu manusia adalah sama saja, sehingga apa yang menjadi sifat orang lain, maka itu juga tercermin atau tidak terlepas dari sifat dirinya, yang bisa jadi lebih jelek dari orang itu. Bila seseorang memiliki sikap itu, mudah bagi diri untuk meneliti sifat dalam diri dan kemudian membersihkannya

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s