Keutamaan istri yang taat kepada suami

isteri-solehah

Sangatlah tidak benar dikala istri yang tidak bekerja hanya diam dirumah sebagai yang tidak memiliki pekerjaan. Seorang istri yang diam dirumah sesungguhnya melakukan banyak aneka pekerjaan dan itu tiada habisnya dilakukan sejak fajar hingga seluruh anggota keluarga tidur terlelap pada malam harinya.

Beratnya pekerjaan yang dilakukan istri di rumah nyatanya dapat dengan santai dilakukan dan tidak dirasakannya sebagai beban karena itu didasari cinta dan keikhlasan semata. Mana yang dulu cinta yang melahirkan keikhlasan atau keikhlasan melahirkan cinta tidaklah menjadi masalah.

Karena itu, Allah menjadikan sosok istri, terutama yang shalihah sebagai suatu kebanggaan dan perhiasan bagi suaminya. Baiknya seorang istri akan menjunjung kehormatan suaminya dan buruknya istri akan menjadi sebaliknya bagi suaminya.

Suami dan istri diciptakan Allah memiliki peran dan fungsi yang berbeda sesuai namanya. Tidak perlulah untuk di bolak-balik tugas dan fungsinya, karena sesuatu hal dimana seorang istri menjadi lebih tinggi kedudukannya karena status sosial dan pekerjaannya dihadapan suaminya.

Seorang suami tetaplah sebagai pemimpin rumah tangga yang fungsinya menegakkan rumah tangga, memimpin semua anggota keluarga dan menjamin diperolehnya pengetahuan agama bagi seluruh anggota keluarganya. Sementara seorang Istri sering disebut sebagai ratunya rumah tangga yang fungsinya mencerahkan rumah tangga, karena itu fungsinya lebih banyak mengatur keadaan dalam rumah tangga termasuk keuangan sebaiknya berada di tangan istri.

Suami adalah pemimpin dan pelindung keluarga dapat melihat pada firman Allah: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisaa`: 31)

Allah juga memberikan rahasia mengenai kekuatan keduanya dimata masing-masing suami dan istri. Seorang suami kekuatannya dimata istri adalah pada bagaimana tanggungjawabnya kepada keluarga, sementara seorang istri di mata suaminya adalah bagaimana dirinya menampilkan pelayanannya kepada rumah tangganya sebaik-baiknya. Inilah rahasia Allah yang menjadikan sesuatunya berpasang-pasangan yang menjadikan jodoh yang telah diterima sesungguhnya dapat saling melengkapi dan menjadikan masing-masing tenteram adanya.

Pelayanan seorang istri, dapat diambil contohnya seperti betapapun makanan yang disajikan sederhana, akan terasa nikmat dan lezat dirasakan suami dan anggota keluarga lainnya apabila dilakukan secara ikhlash dengan mengharap ridho suaminya.

Dikala seorang suami mendapatkan istri yang shalihah rasanya menjadi tiada pantas atau menjadi tiada tahu diri bagi seorang suami untuk berlaku kasar terhadapnya. Walaupun bila hal ini berlaku sebaliknya, dimana seorang istri marah-marah kepada suami tiadalah pantas seorang suami juga ikut menjadi marah, lantas terpancing emosinya menuduh istrinya tiada hormat kepadanya. Keruwetan persoalan rumah tangga yang dihadapinya kadang lepas dari perhatian suami yang kebanyakan waktunya berada diluar rumah kala bekerja.

Hal ini diteladankan Umar ra yang tidak berbuat apa-apa dan dengan sabar meladeni Istrinya yang marah-marah kepadanya. Lalu apa alasan Umar tidak berbuat demikian, Umar ra menyampaikan bahwa kebaikan istri yang diterimanya tidaklah sepadan dengan keburukan yang demikian seperti yang dilakukan istrinya. Kebaikan Istri menurut Umar ra adalah telah menyelamatkan dirinya dari berpaling kepada yang lain dan bersyukurnya Umar ra dikala mencermati jerih payah seorang istri dikala mengurus keperluan rumah tangga, termasuk mengurus anak-anaknya yang bagi Umar itu adalah kontribusi Istri yang sangat besar dalam Umar ra menjalankan kepemimpinan rumah tangganya.

Kedudukannya sebagai istri telah menjadikan bakti dirinya kepada orang tua menjadi berpindah kepada suaminya. Bakti istri ini tidaklah serta merta menjadikan bukti kuasanya seorang suami kepada istri namun sebaliknya untuk tetap menjaga janji perkawinan dengan mempergauli istri dengan baik. Sementara bagi istri yang dapat menjalani kepatuhan terhadap sumai maka ada janji Allah kepada Istri yang demikian dengan memberikan balasan berupa surga.

Nabi Saw bersabda: “Apabila seseorang wanita melakukan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, memelihara kehormatannya, dan taat suami, maka masuklah mana-mana pintu syurga yang kamu kehendaki.”(HR Ahmad)

Adapun lawan dari taat seorang istri kepada suami adalah Nusyuz yaitu sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Melawan suami adalah sebab mengapa banyak wanita lebih banyak berada di neraka dibanding laki-laki sebagaimana dalam hadist:

Abu said Al Khudri Ra berkata: Rasulullah saw, keluar ke Mushala untuk shalat idul fitri dan adha, maka ia berjalan ke bagian wanita dan bersabda: Wahai kaum wanita bersedekahlah kalian sebab aku melihat kalian bagian terbanyak dalam neraka. Mereka bertanya: Mengapakah ya Rasulullah? Jawab Nabi Saw: Karena banyak mengomel dan melupakan kebaikan suami, ..(HR Bukhari Muslim)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s