Keutamaan berbaik-baik dengan tetangga

tetangga

Media sosial saat ini telah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Hal nyata yang kerap terjadi adalah semakin banyak orang yang tiada perduli dengan tetangga. Kala tidak terjadi apa-apa memang demikian adanya, namun bila terjadi sesuatu maka yang pertama kali tahu dan datang adalah tetangga, senang atau tidak senang adalah begitu adanya.

Karena pentingnya  anjuran seorang muslim agar berbaik-baik dengan tetangga, maka tidak menjadi sempurna iman seorang itu bila tidak mencintai tetangganya. Diriwayatkan oleh Anas ia berkata bahwa Nabi Bersabda: Demi dzat yang jiwaku di dalam kekuasaanNya, seseorang hamba tidak beriman sehingga mencintai tetangganya apa yang ia cinta untuk dirinya (HR Bukhari Muslim).

Malaikat Jibril juga berulangkali mengingatkan Nabi Saw akan pentingnya tetangga. Dari Aisyah r.a., dari Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.” (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Dalam kitab Nashaihul Ibad dijelaskan maksudnya bahwa terhadap tetangga hendaknya seseorang harus dapat hidup rukun dan saling membantu dengan tetangganya. Bantuan yang diberikan dapat berupa harta atau hanya sekedar nasehat kebaikan. Tetangga yang lebih dekat harus lebih diperhatikan daripada yang jauh.

Dalam artian memiliki tetangga yang baik memang tiadalah masalah, namun bagaimana apabila sebaliknya. Memilih sahabat atau jodoh memang pilihannya sangat luas, kita dapat memilih sesuai yang diharapkan, namun tidak demikian halnya dalam memilih tetangga. Apa dan bagaimana tetangga yang didapat itulah yang harus disikapi. Terbayang rasanya bagaimana sulitnya hidup berhadapan dengan tetangga yang kita sama sekali tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan mereka.

Nabi Saw telah memberikan teladan dikala mendapatkan tetangga yang tidak menyukainya. Setiap hari dikala beliau hendak melaksanakan shalat subuh didepan rumah beliau selalu diletakkan kotoran didepan rumahnya. Dengan sabar nabi Saw terus membersihkan kotoran itu. Pada suatu ketika Nabi Saw tidak melihat kotoran lagi ada didepan rumahnya, beliau kemudian bertanya kepada pembantunya dan menanyakan kenapa tetangganya tidak berbuat demikian.

Diketahui kemudian tetangganya itu jatuh sakit. Nabi Saw tidak lantas mengingat dan membalas perbuatan jelek yang telah dilakukan tetangganya, malah sebaliknya mendatangi dan membawakan makanan kepada tetangganya itu.

Dalam beberapa hal berbaik-baik dengan tetangga juga menjadi prinsip dasar politik luar negeri RI yang disebut Good Neighborhood Policy. Dengan policy ini berapa banyak anggaran yang dapat dihemat, dengan tidak melakukan permusuhan yang akhirnya mendorong usaha persaingan senjata (rivalry).

Anggaran senjata untuk berjaga-jaga lebih baik bila digunakan untuk yang lain. Banyak negara yang terlibat konflik tidak dapat menciptakan atmosfir yang damai dengan sekitarnya, akhirnya terjebak kepada permusuhan yang akhirnya hanya menguras untuk biaya persenjataan saja.

Hubungan RI dengan Timor-Leste juga demikian lebih mempunyai misi kedepan dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. RI berpandangan memiliki tetangga seperti Timor-Leste memang sudah menjadi ketetapanNya dan dengan menyaksikan Timor-Leste yang lebih damai dan terbebas dari konflik adalah lebih baik bagi keutuhan kawasan Indonesia dan sekitarnya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s