Keselarasan Filsafat dan agama menurut Al Kindi

Al-Kindi

Al Kindi adalah filosof Islam pertama bernama lengkap Abu Yusuf Ya’kub Ibn Ishaq Ibn sabah Ibn Imran Ibn Ismail Al Ash’as bin Qais Al Kindi (185 H/801 M-260H/873 M). Lahir di Kuffah dari anak seorang Gubernur Ishaq al Sabbah pada masa khalifah Abbasiyah Al Mahdi dan Al Rasyid.

Ciri utama Filsafat Al Kindi adalah menyelaraskan antara agama dan filsafat. Ia memberikan 2 pandangan yang berbeda. Yang pertama mengikuti  jalur ahli logika dan memfilsafatkan agama, dan yang kedua memandang agama sebagai sebuah ilmu Ilahiah dan menempatkannya diatas filsafat. Ilmu Ilahiah ini diketahui lewat jalur para nabi tetapi melalui penafsiran filosofis, sehingga agama menjadi selaras dengan filsafat.

Filsafat dan agama dibedakan Al Kindi secara tajam dalam risalah “Jumlah karya Aristoteles”, yang bertentangan dengan pendapat umumnya bahwa ilmu agama (Teologi) adalah bagian dari filsafat. Pandangan al Kindi mengenai keduanya dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Bahwa kedudukan Teologi lebih tinggi daripada filsafat
  2. Bahwa agama merupakan ilmu Ilahiah, sedang filsafat adalah ilmu Insani
  3. Bahwa jalur agama diperoleh lewat keimanan, sedang jalur filsafat adalah akal
  4. Bahwa pengetahuan Nabi diperoleh langsung melalui wahyu, sedangkan pengetahuan para filosof diperoleh melalui logika dan pemaparan.

Ada kutipannya yang sangat menarik adalah : ” Bila seseorang tak memperoleh pengetahuan yang bermutu dan banyak, maka ia tak memiliki pengetahuan yang hakiki dan tak hakiki. Dengan demikian orang tak dapat mengharapkannya memiliki suatu pengetahuan tentang ilmu insani yang diperoleh orang melalui riset, usaha, ketekunan dan waktu. Ilmu-ilmu ini sedikit berada dibawah kedudukan ilmu Ilahiah yang diperoleh tanpa melalui riset, upaya, ketekunan dan waktu.”

Al Quran memberikan pemecahan-pemecahan atas masalah-masalah yang sangat hakiki, misal penciptaan dunia dari ketiadaan dan kebangkitannya kembali. Al Kindi berpendidrian bahwa hujjah / bukti Al Quran sangat meyakinkan. jelas dan menyeluruh sehingga hal itu melahirkan kepastian dan keyakinan. Karena itu Al Quran jauh mengungguli dalih-dalih para filosof.

Sebuah contoh dalam Al quran pertanyaan kaum kafir: “Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang belulang yang sudah menjadi debu? Jawabnya : “Dialah, yang mula membuat mereka, yang akan menghidupkan mereka.”

Sifat sifat Tuhan dalam Al Quran dinyatakan secara tak filosofis atau dialektis. Al Kindi memberi sifat Tuhan dengan istilah-istilah baru. Tuhan adalah yang benar, Ia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif, Ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah, tak berkualitas, tak berhubungan.  Ia tidak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada, Ia tak berjenis, tak terbagi, dan tak berkejadian, Ia abadi oleh karena itu Ia Maha Esa (Wahdah, ahad) dan yang selainNya berlipat.

Dengan demikian Al Kindi telah membuka pintu bagi penafsiran filosofis terhadap Al Quran sehingga menciptakan persesuaian antara agama dan filsafat. Hal ini dapat dilihat dalam karangannya The worship of the Primum Mobile.

(Disadur dari buletin Saroha Edisi Reborn I/01/02/2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s