Bila lupa dalam shalat

uploads-1-2013-09-80722-sujud-sholat-syukur-kades-wates-projo-mojokerto-dan-empat-jamaahnya-shalat

Manusia adalah tempatnya lupa dan lalai. Lupa tidak sepenuhnya suatu aib atau cela, namun juga sebagai karunia Allah.

Sebagai contoh seseorang dapat sedemikian bersemangat meraih kesuksesannya kembali, Allah melupakan kalau dirinya pernah gagal atau mengalami kesulitan dan rintangan yang sangat berat sebelumnya. Contoh lain orang yang terus berusaha mencari jodohnya dan Allah melupakan sakitnya patah hati kala ditinggal kekasih-kekasih  sebelumnya.

Itu adalah dalam hal keduniaan, bagaimana kalau lupa dalam shalat. Apakah perlu mengulang shalatnya? ragu ragu sudah berapa rakaat yang telah dilakukannya?. Semua itu ada jawabnya dalam ilmu Fiqh.

Ketika seseorang melakukan shalat lalu lupa terhadap salah satu wajib atau rukunnya, misalnya, maka lupa yang demikian dapat  ditebus dengan sujud sahwi. Sahwi sendiri artinya lalai atau lupa.

Sujud sahwi adalah salah satu dari 3 macam sujud, lainnya adalah sujud tilawah karena mendengar ayat sajdah dan sujud syukur. Pengelompokan lupa dalam shalat adalah :

Lupa karena tidak dilaksanakannya wajib dan  rukun shalat 

Dalam kitab Bulughul Maram disampaikan terkait lupa dalam shalat yang identik dengan sifat manusia juga disampaikan dalam suatu riwayat dari Ibnu Mas’ud ra :

Rasulullah Saw melakukan shalat, selesai salam dikatakan kepada beliau : “Ya Rasulullah apakah terjadi sesuatu dalam shalat? ” Rasulullah Saw bersabda: “apakah itu?” lalu para sahabat berkata:” Engkau telah shalat demikian, demikian. Mendengar itu lalu Rasulullah melipat kedua kakinya menghadap kiblat, kemudian sujud dua kali dan salam.

Kemudian beliau menghadap kepada manusia dan bersabda:

“Jika terjadi sesuatu dalam shalat, maka aku ceritakan itu kepadamu. Tetapi aku adalah manusia seperti kamu, dapat lupa sebagaimana kamu lupa, maka seandainya aku lupa, ingatkanlah aku. Jika salah seorang dari kamu ragu-ragu dalam shalatnya hendaklah ia memilih yang benar dan menyempurnakan atasnya,kemudian sujud sahwi 2 kali (HR Bukhari Muslim)

Dalam riwayat lain Bukhari ra berkata : maka sempurnakan dan salam kemudian sujud dan bagi Muslim bahwa nabi melakukan sujud sahwi 2 kali setelah salam dan berbicara.

Hadis ini mempunyai pengertian : Jika terjadi keraguan maka harus memilih dan menyempurnakan atas yang benar dan tempat sujud sahwi adalah sesudah salam.

Sebagian besar ulama setuju mengenai cara melakukan sujud sahwi adalah sebelum salam sebagaimana diriwayatkan  Abdillah bin Muhainah ra sesungguhnya Nabi Saw melakukan shalat Dhuhur bersama orang banyak. Beliau berdiri pada dua rakaat pertama dan tidak duduk. Orang-orangpun berdiri bersama beliau.

Hingga ketika beliau menyelesaikan shalat orang-orang menunggu salam beliau, maka beliau membaca takbir dengan duduk dan beliau sujud dua kali sebelum beliau salam, kemudian beliau salam (Riwayat Imam 7)

Dalam riwayat lain Imam Muslim menyebutkan beliau bertakbir pada setiap sujud dengan duduk dan bersujud, dan orang-orang bersujud bersama beliau sebagai pengganti duduk yang beliau lupa.

Penjelasan hadis ini adalah bahwa : pertama lupa melakukan tasyahud dapat diganti dengan sujud sahwi. Kedua Tasyahud awal hukumnya tidak wajib. Ketiga Tempat sujud sahwi sebelum shalat, Empat wajib menguikuti imam sekalipun imam lupa dan kelima dibaca takbir intiqal.

Lupa terkait ragu ragu akan bilangan rakaat shalatnya

Hal ini diriwayatkan oleh Abu Said Al Kudzri ra bahwa ia berkata bahwa Nabi Saw telah bersabda:

Jika salah seorang dari kamu ragu ragu dalam shalat dan tidak mengerti berapa rakaat dia shalat tiga atau empat, maka buanglah keraguan itu dan teruskanlah atas yang sudah diyakini, kemudian bersujud dua kali sebelum salam. Dan apabila ia shalat 5 rakat maka sujud itu akan menggenapkan shalatnya. Dan jika ia shalat dengan sempurna maka sujud itu sebagai penghinaan terhadap setan (HR Muslim).

Penjelasan hadis ini menunjukkan bahwa keraguan dalam shalat tentang jumlah rakaat yang telah dilakukan, maka harus berpegangan kepada yang yakin, kemudian melakukan sujud sahwi demikian pendapat Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad. Ada penjelasan lain bahwa dalam hal memilih bilangan rakaat yang diyakini apakah 3 atau 4, maka baginya untuk mengambil yang sedikit yaitu 3.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s