Keutamaan menghargai waktu dan tidak menunda-nundanya

save-your-precious-time

Dalam surat Al-A`shr , ayat 1-4, Allah berfirman mengenai pentingnya waktu:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”

Saya punya kebiasaan untuk tidak menunda waktu setiap urusan atau pekerjaan. Kala datang bekerja saya akan berusaha datang sepagi mungkin dan menetapkan target paling sedikit mampu menyelesaikan 4-5 surat lebih cepat dan setelah lewat tengah hari sudah dapat menikmati waktu yang lebih senggang.

Begitu juga dalam program kerja setahun, saya suka menuntaskannya program setahun hanya sampai Juni. Secara berseloroh saya selalu mengucapkan selesaikan pekerjaan sepagi mungkin dan secepat-cepatnya agar banyak waktu sesudahnya untuk berleha-leha.

Kebiasaan dari pola bekerja seperti ini sangat menunjang sehingga dalam bekerja menjadi terlihat tenang, tidak gedubukan dikejar waktu dan waktu luang lebih banyak dipakai untuk perencanaan dan tindakan antisipasi pekerjaan berikutnya.

Menjadi dipahami kemudian bila sebaliknya, pekerjan menjadi berat karena kebiasaan menunda-nunda sehingga pekerjaan bertumpuk.

Menghargai waktu dengan mengelolanya dengan baik

Anjuran tidak menunda urusan atau pekerjaan sebenarnya tidaklah menjadi masalah apabila seseorang sudah terbiasa mengorganisir waktu dengan baik. Seorang yang rajin ibadahnya dan mampu memahaminya sudah tentu akan tercermin dalam disiplin waktunya dalam pekerjaan.

Shalat, zakat, puasa dan haji semuanya memiliki aspek disiplin dalam hal waktu. Haji adalah ibadah paripurna dimana seseorang menghendaki persiapan dan pengaturan waktu yang matang tidak saja dalam hal ibadahnya saja tetapi dalam menghadapi rumitnya urusan dan berhimpun nantinya dengan jutaan umat lainnya secara bersama.

Korelasinya adalah bahwa orang yang mampu memaknai setiap ibadah secara benar, maka  akan menjadikan orang itu disiplin dan menghargai waktu, bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya dengan segala urusan atau pekerjaan yang dilakukannya.

Hargai waktu luang sebelum datang masa sibuk dan jauhi angan-angan

Dalam menghargai waktu Nabi Saw adalah teladan dan dan beliau menganjurkan menjaga 5 atas yang 5 sesuai yang diriwayatkan Ibnu Abas Ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Manfaatkan lima keadaan sebelum datangnya lima; masa hidup sebelum datang matimu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa muda sebelum masa tuamu dan masa kayamu sebelum masa fakirmu”

Satu hal sifat orang yang senang menunda-nunda pekerjaan adalah karena senang berangan-angan sehingga sukar sekali mewujudkan melalui tindakan nyata.

Umar bin Khattab Ra berkata : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati”. (HR Bukhari)

Perkataan Umar Ra itu adalah anjuran agar setiap mukmin menghargai waktu mempersedikit angan-angan. Janganlah menunda amal yang dapat dilakukan pada pagi hari sampai datang sore hari, tetapi hendaklah segera dilaksanakan.

Allah mencela angan-angan dan orang yang panjang angan-angan” sesuai Firman-Nya :

“Biarkanlah mereka (orang-orang kafir) makan dan bersenang-senang serta dilengahkan oleh angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui akibatnya”. (QS. 15 : 3)

Tidak menunda-nunda waktu dalam  mempersiapkan bekal menuju kematian

Imam Gazali memberikan perumpamaan mengenai barharganya waktu, terutama waktu yang lalu.

Suatu ketika Imam Ghazali mengajukan pertanyaan kepada beberapa muridnya: “Hai murid-muridku, tahukah kalian apakah yang paling jauh”. Para murid serentak menjawab : “Bulan dan matahari ya guru”.

Imam Ghazali memberi komentar: “Benar bulan dan matahari adalah benda yang jauh, tetapi ketahuilah oleh kalian, sebenarnya yang paling jauh itu adalah masa lalu. Kalian tidak akan pernah dapat mengejar lagi masa lalu yang telah meninggalkan kalian. Karena itu, sebelum kalian menyesal, maka pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya”.

Dalam kaitan menghargai waktu itu, manusia banyak yang terkaget-kaget menyadari cepatnya umur merambat dikala menuju akhir yang pasti yaitu kematian. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib Ra mengungkapkan:

Setiap orang yang sedang disusul oleh kematian meminta lebih banyak waktu. Sementara semua orang yang masih memiliki waktu membuat alasan untuk menunda-nundanya.

Demikianlah pandangan Islam tentang pentingnya menjaga waktu. Kita harus memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin. Karena waktu tidak pernah menunggu kita, kalau kita tidak memanfaatkan waktu maka waktulah yang akan menggilas kita.

Kata Ali Bin Abi Thalib Ra: “Waktu adalah ibarat Pedang”. Artinya: Kalau kita tidak memanfaatkan waktu, maka waktu akan menebas kita.

Wallahu a’lam

One thought on “Keutamaan menghargai waktu dan tidak menunda-nundanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s