Sifat suka mencela dan mencemooh: kerugian dan cara keluar darinya

??????????????????????????????????????

Pesta demokrasi yang berlangsung kemarin telah berjalan lancar, tidak ada indikasi seperti ungkapan  orang Bali bahwa  raja yang minum namun rakyatnya yang mabuk. Artinya masyarakat saat ini sudah dewasa,  tidak terjebak menjadikan partai sebagai ideologi yang disikapi hidup mati oleh mereka sehingga menjadi konflik. Sementara interaksi sesama pemimpin partainya biasa-biasa saja.

Mencela dan mencemooh menjadikan  diri tertipu.

Ada satu hal yang dapat diambil pelajaran dalam pemilu tersebut yaitu  mengenai pentingnya menjaga kesesuaian lisan dengan perbuatan dan sikap dari seseorang. Tindakan seseorang yang tidak dapat mengendalikan lisannya dan cenderung mencela dan mencemooh orang lain sehingga menjadikan seseorang itu teraniaya malah berbalik merugikan dirinya. Malah orang yang dicela dan dicemooh mendapatkan berkahnya karena mampu mendulang simpati masyarakat.

Saya juga tidak bertendensi membela beberapa calon presiden yang dinilai lawan politiknya tidak cakap dan belum berpengalaman sebagai presiden kemudian mendulang simpati masyarakat karena habis dicela dan dicemooh atas ketidak cakapan dan kepantasan dirinya sebagai pemimpin. Namun ini hanya sebagai lecture / kajian bagi pembelajaran  diri semata.

Hal Ini selalu berulang dalam beberapa kali pemilu, namun mengapa seseorang masih saja suka menjelek-jelekan lawannya sebagai kemasan politik yang diusungnya. Prilaku menebar kebencian serupa itu sudah jelas-jelas absurd dan sama sekali sudah ketinggalan zaman dan itu sama sekali tidak menguntungkan dirinya. Masih banyak cara lain untuk tidak melakukan itu misalnya dengan lebih membenahi / melakukan konsolidasi partai yang dipimpinnya, mengedepankan program yang mengena di hati masyarakat kedepan, tampilan ahlaq kader-kadernya dan sisi baik dari kepemimpinannya sendiri.

Celaan dan cemoohan bila dusta menjadikan bangkrut dan berpindahnya amal

Memang berat dalam menilai seorang pemimpin, butuh ketelitian tidak hanya dari ucapan dan pernyataan politiknya saja. Dalam Islam, menilai seseorang harus melihat kepada 3 hal yaitu ucapan (Qaul), perbuatan (Afal) dan sikapnya (Taqrir). Bila tidak total banyak terjadi kesalahan dalam menilai orang yang berujung kepada kedengkian.

Bila kedengkian terhadap sesuatu yang bersifat dusta, maka janji Allah adalah nyata, bila kedengkian dilakukan kepada seseorang itu tidak benar sehingga mejadikan orang itu dicela dan dicemooh, sesungguhnya dirinya akan bangkrut karena amalan baiknya akan diberikan kepada orang yang dicela dan dicemoohnya. Menjadi benar kemudian, bila orang yang suka mencela atau mencemooh adalah tidak lebih baik dari yang dicela atau dicemoohnya.

Umar bin Khattab Ra adalah gambaraan sesorang laki-laki yang gagah dan ditakuti oleh lawan-lawannya yang menjadikannya sebagai seorang pemimpin tegas karenanya dia sangat ditakuti lawan-lawannya.

Beliau sangat hafal bagaimana mendeskripsikan seorang laki-laki yang gagah itu. Dalam banyak hal pemimpin adalah selalu dicontohkan seorang laki-laki, walau kenyataannya banyak juga saat ini wanita dapat menjadi pemimpin dan berhasil baik.

Umar bin Khattab Ra berkata: Janganlah engkau percaya melihat kegagahan seorang laki-laki, tetapi jika mereka teguh memegang amanat dan menahan tangannya daripada menganiaya sesamanya, itulah laki-laki yang sebenarnya.

Bersabar, menjaga amanat dan mengedepankan ahlaq baik adalah cara untuk mengatasi cela dan cemoohan

Menarik apa yang disampaikan Mario Teguh bahwa diri kala di cela dan dicemooh, bersabar adalah langkah terbaik. Yakinlah Keburukan yang mereka katakan tentangmu belum tentu benar, tapi keburukan mereka sudah pasti. Hanya hati yang buruk yang menikmati upaya pemburukan orang lain. Orang baik tidak bisa diburukkan, dan orang buruk tidak perlu pemburukan.

Yakinlah akan janji Allah yang akan selalu benar bahwa walaupun sejuta orang menyatakan jelek, namun tidak menurut Allah, maka tetap baiklah orang itu. Sebaliknya ada sejuta orang mengatakan baik, namun Allah berkata jelek, maka jeleklah orang itu.

Memegang amanat atas ucapannya adalah sangat sulit dan itu selalu berulang dilakukan seseorang dan menjadi runyam saat janjinya ditagih masyarakat. Bila berhasil akan mendulang simpati masyarakat, bila tidak akan sebaliknya yang terjadi. Sikap yang mengingkari amanat adalah salah satu bentuk perbuatan nifaq (munafik).

Terlepas dari itu saya menjunjung tinggi prilaku politik para pemimpin yang mengedepankan etika dan ahlaq yang baik. Demokrasi ala Indonesia adalah berbeda dan mengedepankan etika politik dan ahlaq yang baik dan itu didukung semua agama apapun.

Ada kontribusi baik dari teknologi canggih saat ini yang dapat dengan mudah mengamati ucapan, gerak dari perbuatan dan sikap seseorang sehingga mudah bagi masyarakat dalam menentukan pilihan pemimpinnya. Jadi tidaklah perlu kuatir bila saat ini  salah pilih sehingga mendapatkan seorang pemimpin yang jelek, karena informasi yang demikian banyak tersedia.

Ukuran ahlaq yang baik telah diteladankan oleh Rasulullah Saw melalui sejalannya atau kesesuaian ucapan, perbuatan dan sikapnya yang menjadikan beliau sebagai contoh atau teladan pemimpin yang berhasil dalam keluarganya, masyarakatnya dan umatnya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s