Ketegasan aqidah seorang Hamka

hamka

Firman Allah : Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui (Al Baqarah : 42)

Ketegasan Hamka ini adalah wujud sikapnya yang wara’ (kehati-hatian dalam perkara yang meragukan) seperti masalah memberi ucapan selamat kepada kaum Nasrani dalam perayaan agamanya. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Kisah ini diambil dalam buku Ayahku, Hamka.  Hamka adalah orang yang sederhana dan salah satu sifatnya adalah berusaha menghindari konflik, sekecil apapun  dengan siapapun. Hanya pernah satu kali saja Hamka menolak undangan Menteri Agama untuk hadir mengikuti acara dalam penghormatan kepada Paus Johanes yang berkunjung ke Indonesia. Beberapa pengurus besar HMI berusaha membujuk Hamka untuk dapat hadir pada acara ramah tamah yang diselenggarakan di Istana.

Hamka menjawab bujukan pengurus HMI dengan mengatakan : “Bagaimana saya bisa bersilaturahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan rayuan, beras, uang, dimurtadkan oleh perintahnya? Dalam masa usia saya yang saat ini 50 tahun, masa’kan lalu saya harus berbungkuk-bungkuk bersalaman dengan beliau dengan wajah manis? .

Ketegasan Hamka ini kemudian berlanjut pada masa beliau menjadi ketua MUI disaat dikeluarkannya fatwa haram hukumnya bagi umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama. Pemerintah keberatan atas fatwa tersebut. Karena bertentangan dengan pemerintah itu, Hamka kemudian memilih sikap tegas yakni mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI Pusat.

Tindakan Hamka ini mendapat simpati dari tokoh-tokoh Islam dan mengucapkan selamat atas sikap yang tegas dari Hamka termasuk ulama yang pernah menghujatnya bahwa dia menjadi ketua MUI adalah untuk kepentingan pribadinya. Hamka menjawab: “Bahwa hal itu adalah biasa dalam perjuangan ini kita akan bertemu dengan hal-hal yang sensitif serupa ini dan dapat menimbulkan konflik kepada umat.

Hamka kemudian berkata: “Kita telah menjual diri kita kepada Allah, karena itu tidak bisa dijual lagi kepada pihak apapun. Posisi dirinya sebagai Ketua MUI baginya ibarat kue bika. Dari bawah dipanggang api, dari ataspun di bakar api. Begitu juga ulama, dari bawah oleh Umat dan dari atas oleh Pemerintah”.

Itulah bentuk ketegasan seorang buya Hamka dalam hal aqidah, memang tidak pernah bisa berkompromi. Tapi dalam masalah-masalah lain, Hamka sangatlah toleran.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s