Belajar dari tahapan hidup Rasulullah Saw

muhammad-saw

Sebuah buku  Otobiografi Muhammad Saw yang dikarang  Martins Ling menyajikan secara lengkap tahapan hidup yang dilalui Rasulullah secara detail dan bersumber dari sumber klasik dan disajikan dengan baik dan menarik. Buku ini menceritakan rentang peristiwa penting yang dialami Nabi Saw yang garis besarnya sebagai berikut:

Periode Mekah

  1. Umur 0-4 tahun. Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiulawal tahun Gajah (570 M) dari ibu Siti Aminah dan Ayah Abdullah  yang wafat saat Nabi Saw masih dalam kandungan. Masa itu adalah masa Jahiliah, penduduknya sebagian besar menyembah berhala. Setelah kelahiran seperti kebiasaan umumnya penduduk Mekah, Bayi Nabi Saw dititipkan kepada ibu susunya Halimah. Dalam masa penitipan itu, saat  berumur 3 tahun,  Nabi Saw mendapatkan peristiwa luar biasa dimana dadanya di belah oleh 2 malaikat yang mendatanginya.
  2. Pada umur 6 tahun ibunya Siti Aminah wafat, beliau menjadi Yatim piatu dan diasuh kakeknya.
  3. Pada Umur  8 tahun kakeknya yang sangat menyayangi beliau meninggal dunia, beliau dititipkan oleh pamannya Abu Thalib
  4. Pada umur 12 tahun, Abu Thalib mengajak Nabi Saw mulai berdagang. Saat di Syam pamanya mendengar berita Bahira bahwa kemenakannya akan menjadi seorang nabi dan berpesan untuk menjaganya.
  5. Pada umur 14 tahun sudah mengikuti perang pertamanya membantu para pamannya menghadapi musuh Quraish.
  6. Pada umur 25 tahun, beliau dipercaya oleh Khadijah untuk menjalankan usaha dagangnya dan gelar Al Amin yang disematkan kepada beliau menarik perhatian Khadijah untuk menjadikan nabi Saw sebagai suaminya. Nabi Saw kemudian menikah dengan Siti Khadijah pada umur itu
  7. Pada umur 35 tahun, saat restorasi ka’bah dilakukan akibat bencana banjir, terjadi konflik antar kabilah pada saat meletakkan hajar aswad. Akhirnya dipanggil Nabi Saw sebagai mediator. Nabi Saw kemudian membentangkan kain dan batu itu diletakkan diatas kain dan diangkat bersama-sama di setiap  sudut kain oleh para kabilah yang bertikai.
  8. Menjelang umur 40 tahun, Nabi Saw banyak berkhalwat dan tempat yang disukai beliau adalah Gua Hira
  9. Umur 40 tahun, turun wahyu pertama yang menjadikan beliau seorang Rasul
  10. Umur 40 – 43 tahun, beliau berda’wah secara tertutup hanya kepada keluarga dan kerabat dekat saja
  11. Umur 43, beliau mulai da’wah secara terbuka setelah mendapat wahyu Al Hijr: 94, Firman Allah : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.
  12. Umur 46 tahun, Nabi Saw mendapat kekuatan dalam da’wah dengan masuknya Hamzah dan Umar bin Khatab
  13. Umur 50 tahun adalah tahun kesedihan karena wafatnya Khadijah dan pamannya Abu Thalib
  14. Umur 51 tahun Nabi Saw diperjalankan Allah yang dikenal dengan Isra Mi’raj

Periode Madinah

  1. Umur 53, Nabi Saw dan sebagian besar Umat Islam berhijrah ke Yatsrib. Penduduk Yatsrib menerima dengan baik Umat Islam dan Yatsrib berubah namanya menjadi Al Madinatul Munawaroh. Hijrah Nabi Saw ditetapkan sebagai awal tahun Hijriah
  2. Umur 53 – 62 Masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah dan umat Islam berkembang pesat. pada masa ini Allah mengizinkan Nabi Saw melakukan jalan perang untuk membela agama Allah. Beberapa perang pada masa ini adalah perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar dan Mut’ah. Rasulullah Saw dan umat Islam berhasil menguasai kota Mekah
  3. Umur 62 tahun, dimulailah ibadah haji yang dilakukan dengan tenang bebas dari gangguan orang yang menentang Nabi Saw yang dipimpin oleh Abu Bakar Ra.
  4. Umur 63 tahun, Nabi Saw melakukan haji wada yaitu haji terakhir hingga kemudian beliau wafat pada hari dan tanggal yang sama ketika lahir yaitu 12 Rabiul awal tahun 11 Hijriah.

Pelajaran dari tahapan hidup Rasulullah Saw

Lantas apa yang dapat diambil pelajaran dari tahapan hidup Rasulullah itu? Yang jelas terdapat proses yang bertahap dalam tahapan kehidupan beliau, meningkat secara konstan. Namun demikian  tidak semua yang diinginkan Rasulullah Saw juga tercapai, penuh perjuangan untuk mewujudkannya dalam menegakkan agama Allah.

Sebagai contoh pada tahun kenabian Nabi Saw, setelah umat Islam selalu mengalami penindasan dari kaum kafir, Nabi memutuskan untuk berhijrah. Hijrah awalnya adalah ke kota Thaif, namun apa yang didapat, Nabi mendapatkan perlawanan dari warga Thaib sehingga beliau dilempari, dicela dan dicemooh. Penduduk Yatsriblah  yang akhirnya menawarkan untuk tempat beliau berhijrah dan itu baru dilakukan setelah 3 tahun kemudian.

Sebagai orang yang mencintai Rasulullah Saw disamping sunnahnya tentu tahapan kehidupan Nabi Saw memiliki makna. Melalui tahapan ini, Umat Islam juga membuat patokan tahapan hidup dengan merujuk tahapan seperti Muhammad Saw.

Paling tidak patokan hidup dapat dibuat dalam peritiwa besar misalnya dalam menentukan waktu menyiapkan diri secara lebih dini untuk menuntut ilmu, memulai berikhtiar sejak akil balik,  menetapkan untuk menikah setidaknya pada kisaran 25 tahun, kemudian berhijrah pada tahun 40  untuk lebih menekuni dalam mengamalkan agama dan lebih banyak mempersiapkan bekal akhirat.

Dan pada umur 63 tahun sudah akan siap menemui kematian, karena kematian pasti menemui setiap manusia. Sekiranya lebih dari umur itu, hal itu adalah sebagai bonus sebagai kesempatan Allah kepada diri untuk banyak lagi beribadah kepadaNya.

Saya sering mengingat ucapan guru saya bahwa penuhilah amanat dari setiap tahapan umur dengan baik, Insyaallah tahap selanjutnya akan dapat dilalui dengan mudah. Sebagai contoh bila sejak masa kanak dan akil balik hingga memasuki 25 tahun tidak dilalui dengan perilaku maksiat dan mampu menjaga diri hingga perkawinan di umur itu. maka kehidupan selanjutnya seperti dalam rumah tangga juga akan relatif aman dan memasuki tahapan tahun ke 40 dalam menetapkan diri untuk berhijrah juga akan lebih aman.

Namun sebaliknya bila tahapan awal sudah kurang baik, maka tahapan selanjutnya tentu akan lebih berat. Bila tahapan itu sudah terlambat, tetaplah berpengharapan kepada Allah, karena selalu ada kesempatan untuk kembali kepada Allah. Dan sekiranya menerapkan patokan hidup sebagaimana nabi Saw itu jauh dari kita, paling tidak kita dapat mengusahakan mengajarkan dan menerapkannya kepada buah hati kita.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s