Hati-hati mengolok kelak kamu akan diserupakan dengan yang diolok

olok-olok

Ungkapan itu ada dalam Alquran dalam surat Al Hujurat. Hati-hati dalam berolok-olok karena yang berolok-olok niscaya akan diserupakan dengan yang dioloknya. Dan yang mengolok tidaklah lebih baik dari yang diolok. Ada kisah diri mengenai hal itu sebagai berikut:

Sebagai orang yang besar di diperkotaan, metropolitan Jakarta, saya paling suka mencemooh orang yang sarungan, sandalan dan kopiahan, terutama kala kumpul di mesjid atau pengajian. Bila saya harus shalat ke mesjid maka kostum yang saya gunakan lebih banyak celana panjang, sandal ya tentu, namun kopiah tidak pernah saya gunakan.

Saya beranggapan semua itu menghambat kemajuan dan tidak modern, tidak dapat dinamis dan mobile bila harus sarungan, sandalan dan kopiahan setiap saat. Saya beragama kala itu masih sangat awam dan tidak sampai meneliti maknanya berbusana demikian dan dimana kenikmatannya. Dalam hati saya dimana nikmatnya? Dicemooh sih iya seperti yang saya lakukan.

Dalam perjalanan hidup saya, saat kuliah disebuah kota kecil di Jawa, lingkungan terus berubah. Saya banyak dekelilingi kelompok sarungan sandal dan kopiahan, namun sama sekali itu belum mengerakkan saya untuk mencobanya. Saya masih asyik menjalani hal-hal yang dikatakan modern lebih menikmati hidup dan berhura hura seperti anak muda kebanyakan. Satu hal yang tidak pernah saya tinggalkan adalah shalat 5 waktu itu saja, ngaji boro-boro.

Bila sepulang malam minggu menghabiskan waktu bersama teman-teman, pulang selalu larut dan apa yang terjadi pintu kos-kosan sudah terkunci. Lalu kemana saya harus tidur?, tempat yang terbuka adalah Mesjid. Kebetulan didekat itu ada Mesjid, dan numpang tidurlah saya di Mesjid itu. Otomatis saya harus bangun ketika azan berkumandang dan itu berlangsung lama.

Lama-lama Imam Mesjid memperhatikan saya, ada yang tidak biasa, seorang anak muda rajin shalat apalagi itu pada subuh minggu pagi dimana memang jarang jamaahnya. Dia tidak tahu kalo saya pulang kemalaman dan numpang tidur di mesjid dan terpaksa shalat shubuh.

Berawal dari shalat shubuh itu, hati saya terikat kepada Mesjid dan saya mulai menemui ketenangan dengan tidur, dan shalat di Mesjid itu. Saya semakin akrab dengan Imam Mesjid dan anggota takmir Mesjid itu. Hidayah Allah datang rupanya, saya dipercaya menjadi pengurus Mesjid dan mendapatkan posisi penting sebagai sekretaris takmir Mesjid.

Melalui itu, interaksi dengan berbagai takmir juga berjalan intense. Melalui takmir itu juga saya dapat berkenalan dengan banyak ulama dan Kyai dan berkesempatan berdiskusi dan  menggali ilmu agama sejak saat itu.

Tanpa disadari cara berbusana saya pun berubah tanpa diperintah saya menjadi suka sarungan, sandalan dan kopiahan dan dengan itu saya suka berlama-lama di Mesjid, duduk khikmad mendengarkan aneka ceramah yang disampaikan, tanpa ada rasa penat dan berat melakukannya.

Saya baru sadar kemudian kalo dulu saya suka berolok-olok dan mencemooh orang yang sarungan dan sandalan dan kopiahan ternyata saya melakukan juga dan hingga kini, terutama sarungan, karena nyaman dan isis (kata orang jawa adem), terutama ketika pulang kerja. Maha benar Allah dengan segala FirmanNya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s