Belajar dari Pemimpin yang buruk

pemimpin buruk

Ini adalah share atau tips dari pengalaman kerja penulis yang sudah dilalui hingga kini dalam mengambil pelajaran dari pemimpin yang buruk. Ini tidak ada kaitan dengan pemilihan bagi pemimpin Indonesia mendatang, ini hanya menyangkut dunia kerja yang lingkupnya lebih kecil.

Pemimpin buruk dalam pengertian ini adalah pemimpin yang keras, galak, kaku, aneh, ngerepotin (demanding) sehingga bisanya menyuruh saja  dan lain sebagainya, pokoknya  yang tidak disukai hati bawahan. Lawannya adalah pemimpin yang baik hati.

Kebanyakan setiap bawahan yang menerima pemimpin buruk akan merasakan kalau dunia sudah kiamat dan terbayang penderitaan dirinya dalam keseharian bekerja dibawah pemimpin yang buruk itu. Dalam pikirannya tidak ada manfaat yang diperoleh dari pimpinan buruk itu. Bagi yang punya nyali akan menantang, walau resiko pada penurunan konduite dan bahkan dipecat. Sementara yang tidak,  akan menerima saja sambil berdoa semoga badai cepat berlalu.

Apa iya dari pemimpin yang buruk itu tidak ada manfaat dan tidak bisa diambil pelajarannya? Sebenarnya bila hal itu dihadapi, bukan malah dihindari  banyak manfaat dan pelajaran yang dapat diambil dari pemimpin buruk itu. Beberapa diantaranya adalah :

1. Jadikan sebagai tantangan atau ujian buat proses mental dan kematangan diri.

Menjadikan itu sebagai bentuk tantangan dan ujian dalam memproses diri lebih baik, dengan meneguhkan keyakinan untuk menghadapinya, bukan dengan menghindarinya, bahwa tidak ada sesuatu terjadi tanpa izin Allah. Bersikaplah lebih positif dari pada menyesali diri dan membenci terus atasan / pimpinan yang pasti akan tiada habisnya.

2. Introspeksi diri terhadap kekurangan diri

Saat mendapati diri mendapatkan pemimpin buruk jangan hanya berhenti menerimanya saja, namun lihatlah pesan dibalik semua itu. Introspeksi diri dan berani mengatakan bahwa hadirnya pemimpin yang buruk kepada diri adalah cermin masih belum baiknya keadaan diri dan sebenarnya diri juga tidak jauh berbeda kalau diberi kekuasaan begitu.

Sportiflah dengan kondisi serupa ini, dan yakinlah  buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah. Sebagai contoh, bisa jadi Tuhan memberikan pemimpin yang buruk agar diri terkontrol dan bekerja menjadi disiplin dan tidak seenaknya.

3. Menjadi dekat Tuhan dan rajin berdoa

Manfaat langsung dengan kehadiran pemimpin buruk adalah menjadikan diri dekat kepada Tuhan. Kala memulai pekerjaan dan berhadapan dengannya menjadi sering berdoa untuk dapat dihindarkan dari keburukan prilaku pimpinan terhadapnya.

4. Bersikap tenang dan biasa saja

Langkah yang tepat menghadapinya adalah bersikap tenang namun siaga (alert).  tak perlu takut, memiliki integritas, biasa saja dan fokus terhadap yang diperintahkan. Ketakutan dan nervous diri sehingga menjadikan salah-salah hanya akan menunjukkan diri lemah dan akan membuat pimpinan semakin suka dengan keadaan itu untuk terus menekan. Hadapi kenyataan itu, karena pimpinan adalah manusia juga, pasti ada kiat dalam menghadapi orang sesulit apapun. Yakinlah Allahlah pemilik semua hati, dan Dialah yang maha membolak-balikkan hati setiap manusia.

5. Ambil pelajaran mengapa prilaku pimpinan buruk terjadi

Ambil pelajaran dari mengapa pimpinan berprilaku buruk, hanya sebagai bekal lecture / kajian bagi diri. Berdasarkan pengamatan  seorang pimpinan berprilaku buruk pasti ada sesuatu dan kebanyakan karena ada masalah terkait kontrol diri, kekurangan dirinya, pengalaman masa lalunya, masalah keluarga dan lingkungan dan bisa jadi karena adanya tekanan dari yang lebih atas dari dirinya. Dalam kaitan ini bila pemimpin buruk itu memang sakit dengan prilaku buruknya, maka sebagai bawahan jangan pula ikut-ikutan sakit.

5. Mensiasati dan pandai mengantisipasi keadaan

Pandai mensiasatinya seperti mampu mengantisipasi bila wajah mendung terlihat pada atasan sebisa mungkin menghindar, tunggu mendung diwajahnya lewat. Siasat lain adalah dengan mengamati hal yang disukainya, tentu tidak dengan maksud menjilat. Secara umum pemimpin dimanapun mempunyai kesukaan yang sama. Rata-rata butuh didengarkan, maka tunjukan wajah yang atentif kepadanya. Butuh dihormati, maka bersikaplah santun, jika dia butuh ketenangan, maka tunjukkan kalau diri sibuk dan serius dengan pekerjaan kita.

Sesungguhnya dengan menunjukkan sikap itu,  pemimpin seburuk apapun akan luluh dan akhirnya dia akan berpikir bahwa bersikap buruk seperti marah-marah menjadi tidak ada gunanya, apalagi melihat bawahan semuanya  sudah bekerja sukarela untuknya. Ada yang beranggapan dengan bersikap demikian akan menyebabkan pimpinan justru menjadi semena-mena kepada bawahan,  rasanya hal ini menjadi berlebihan dan perlu dipertimbangkan kembali.

6. Munculnya solidaritas dan setia kawan antar bawahan

Manfaat langsung adanya pemimpin buruk adalah munculnya solidaritas, karena adanya rasa senasib sepenanggungan dibawah penderitaan. Solidaritas dan kebersamaan ini relatif menjadi penawar dan mengurangi penderitaan akibat tekanan pemimpin buruk. Empati akan mudah muncul dan saling melindungi kepada bawahan yang terkena dampak perlakuan buruk pimpinan. Bila sudah semena-mena dan zalim, bukan tidak mungkin hal ini dapat berpengaruh terhadap posisi pimpinan untuk diganti.

Dipihak lain, kebersamaan yang terbangun dalam dunia pekerjaan  menjadikan pimpinan merasa terasing. Hal ini, bukan berarti pimpinan tidak merasakan, aslinya dirinya cemburu dengan itu, namun bawahan cenderung menjauh dan takut berhadapan dengan dirinya. Dari pengalaman pimpinan walau merasa terasing demikian, jarang kemudian mau merubah dirinya untuk lebih baik kepada bawahannya.

7. Pemimpin yang menggunakan prilaku buruk hanya sebagai alat atau bagian dari gaya memimpinnya

Hati-hati dengan pemimpin buruk tapi aslinya baik. Perangai buruk yang ditunjukkan dengan marah-marah, memburu-buru pekerjaan dan menerapkan disiplin keras adalah tidak sebenarnya, namun hanya dipakai sebagai alat dan tujuan dirinya mencapai tujuan.

Pimpinan serupa ini mempunyai keyakinan dengan cara keras itulah sebagai jalan satu-satunya menertibkan bawahan yang suka seenaknya. Terhadap pimpinan serupa ini susah untuk mengantisipasinya apalagi mensiasatinya. Mendapat pimpinan serupa ini banyak yang dapat dipelajari sebagai bekal kelak menjadi pemimpin.

8. Semakin di benci dan diumpat maka pemimpin semakin sakti

Bersikap sebaliknya dengan membenci, banyak mangumpat  dengan terus membicarakannya. mentertawakan, mengejek dan berusaha  melihat celanya sesungguhnya tidak menyelesaikan masalah, yang ada pimpinan akan menjadi sakti dan semakin awet bertahan. Sakti dalam hal amal ibadah bawahan akan habis dihibahkan kepada pimpinannya bila yang diomongkan dan digunjingkan itu tidak sesuai. Karena sesungguhnya pergunjingan itu cenderung dilebih-lebihkan dan akhirnya tidak sesuai kenyataan. Saktinya lagi orang serupa ini banyak diperlukan terutama pada  lembaga yang mengharapkan adanya pimpinan serupa ini, tidak baik semua, untuk mendorong atau memperbaiki kinerja suatu unit.

9. Diperolehnya ketahanan mental, keberanian, kepercayaan diri dan pantang menyerah

Dalam perjalanan karir seseorang pemimpin terus berganti, sampai tahapan dirinya nanti akan menjadi pemimpin. Ketahanan mental, keberanian, kepercayaan diri, sabar dan pantang menyerah bawahan biasanya banyak muncul dari pemimpin yang buruk bukan pemimpin yang sebaliknya.

Orang maju lebih banyak dengan celaan dari pada pujian. Seorang bawahan yang terbiasa dengan hal itu sudah tentu akan mudah beradaptasi dengan berbagai macam pimpinan yang baik maupun yang buruk dan itu membuka kesempatan bagi dirinya dikala orang lain menghindari untuk menjadi bawahannya dan  itu akan sangat menunjang karirnya.

10. Diperolehnya tambahan ilmu

Dari semua itu sesuai dengan ajaran Islam, bahwa tanda-tanda orang berilmu adalah orang yang mampu menguasai keadaan selalu tidak merasa asing dimanapun dengan apa atau siapapun yang dihadapinya.(Sheikh Nawawi Al bantani soal 2 tanda orang berilmu)

Demikian share dari pengalaman diri mendapatkan pemimpin yang buruk selama karir penulis bekerja. Karena itu janganlah berkecil hati bila mendapatkannya. Prinsipnya adalah  pahamilah dulu prinsip dasar keimanan terhadap suatu peristiwa atau kejadian diri yaitu

  • pertama semua kejadian itu tidak terjadi kebetulan,
  • kedua semua kejadian ada maksud Allah dan
  • ketiga tidak ada kejadian atau peristiwa itu sia-sia, sejelek apapun perisitiwa yang dialami pasti ada hikmahnya.

Prinsip semuanya adalah berprasangka baiklah kepada Allah terhadap apa yang diterima. Bila ini sudah dipahami barulah diri dapat dengan mudah memahami dan menjalaninya bahwa dibalik pemimpin yang buruk pasti juga tersimpan manfaat dan kebaikan seperti diatas.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s