Makna gerak dan perbuatan Allah kepada diri

Sifat Alloh Irodah

Dalam konteks orang beriman, kesadaran Ilahiyah bahwa segala sesuatu termasuk dirinya Allah yang menciptakan dan kesadaran Rububiyah bahwa segala sesuatu termasuk dirinya, Allahlah yang memelihara dan berkuasa serta berkehendak atas segala sesuatunya menjadi suatu yang tertanam kuat. Dengan dua kesadaran ini, orang mukmin meyakini bahwa gerak dan perbuatan dirinya adalah murni berasal dari Allah.

Orang beriman akan berkata seyakin-yakinnya bahwa Allah yang memberi makanan, memberi pakaian, memberi kekuatan kala bekerja, memberi rezeki, semua terjadi atas gerak dan perbuatan Allah. Hal ini merujuk pada:

Firman Allah : Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (Ashaffat : 96). begitu juga dalam Firman Allah : Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.(Al buruj:16)

Dalam hal ini ulama juga sepakat bahwa apapun yang dilakukan hamba, pada hakekatnya adalah perbuatan Allah yang disandarkan kepada hamba. Imam Gazali juga menyampaikan bahwa perbuatan Allah adalah total atas segala sesuatu yang terjadi atas makhlukNya seperti yang disampaikan :

“Dari Dialah, kebaikan dan keburukan, manfaat dan mudharat dan iman dan kekufuran.”

Namun demikian lihatlah kenyataan, banyak orang tidaklah demikian, terutama bagi orang yang tiada beriman dan hanya mengaku-ngaku beriman. sudah tentu kesadaran ini dipertanyakan. Dirinya akan mengatakan kalau gerak dan perbuatannya adalah murni dari hasil usaha dirinya sendiri.

Dalam kitab Maghfirotul Qulub disampaikan bahwa Kekuasaan dan Kehendak Allah (Qudrat dan Iradat) tidaklah dapat ditembus oleh kehendak dan kemauan manusia dan bila itu dilakukan, hanyalah menjadikan bukti kelemahan dan keaiban manusia dihadapan Allah. Karena itu menjadi jelas hanya manusia yang mengikhtiarkan ke jalan selamat sajalah yang tidak akan penasaran dan bingung soal hal ini dengan tidak mendambakan pada kemampuan  dan kekuatan sendiri.

Seharusnya orang yang mengandalkan kepada perbuatan diri sendiri hendaknya dapat merenung hal-hal yang mendukung geraknya baik yang dari dalam maupun dari luar. sebagai contoh yang dari dalam, siapa yang kuasa atas gerak matanya, gerak kemauannya, gerak fikiran, hatinya, gerak denyut jantungnya setiap saat. Kemudian faktor dari luar siapa yang mengaruniakan udara, oksigen, cuaca yang baik dan orang-orang yang mendukungnya atas pekerjaan yang dilakukan apa iya itu hasil sendiri?. Maka jawablah pertanyaan itu.

Bila ini diteruskan dan sportif,  maka diri pastilah mengakui kelemahan itu, karena tidak semuanya berada dalam jangkauan dan kemampuan dirinya, Allahlah dibalik semua keadaan itu.  Dalam hal ini dirinya berada dalam kondisi fana.

Dalam kitab Futuhul Ghaib, Sheikh Abdul Qadir Jailani mengatakan :

Bahwa janganlan bergantung kepada dirimu sendiri dalam hal hal yang bersangkutan dengan dirimu. Serahkanlah dan sandarkanlah kepada Allah, karena Dialah yang memelihara dan menjaga segalanya. Awalin dan akhirin, Dialah yang menjaga dirimu sejak dalam rahim dan memelihara kamu saat masih bayi.

Tanda-tanda seseorang sudah tidak lagi bergantung kepada diri sendiri dengan bersandar kepada Allah adalah apabila seseorang itu sudah tidak lagi bergantung pada kebutuhan-kebutuhannya. Dirinya mantap berkeyakinan bahwa sudah tidak ada tujuan dan maksud lain dari perbuatannya kecuali berbuat karena Allah.

Bila sudah demikian badan dan anggota tubuhnya akan pasif, berganti dengan hati yang menjadi tenang, pikiran menjadi luas, muka berseri-seri dan jiwa tidak terbelenggu dan menjadi lepas. Diri akan  terlepas dari kebendaan, karena terganti dengan kenikmatan berhubungan dengan sang pencipta atau sang Khaliq.

Dengan demikian hati mejadi luluh dan menjadi lebur dan hilang akan nafsu dunia. Jika ego dirinya keluar dalam hal menyenangi dunia dengan kebutuhan, maka Allah akan menghancurkannya kembali, sehingga dirinya menjadi kosong dan itu berlangsung terus hingga akhir hayatnya sehingga dirinya kembali dengan akhir yang baik.

Sheikh Abdul Qadir  Jailani melanjutkan:

Saat seorang hamba mampu berhubungan dan menemui Tuhan, Dia akan memfanakan diri orang itu dan dan mewujudkan Allah pada dirinya dengan menggantikan kehendak dan kemauan diri dengan kehendak dan kemauan Allah. Allah akan menyelamatkan kamu dari segala kejahatan makhlukNya dan menenggelamkan dalam lautan kebaikanNya, sehingga diri menjadi titik tumpu semua kebaikan, sumber keberkatan, kebahagian, nur cahaya, keselamatan dan keamanan Allah kepada dirinya.

Setelah itu tangan yang Maha Kuasa akan menggerakkan tubuhmu. Lidah yang Maha Abadi akan memanggilmu, Tuhan semesta Alam akan mengajarkanmu, memberimu cahayaNya, pakaian kerohanian serta akan mendudukan kamu pada peringkat orang-orang alim terdahulu.

Menyatunya gerak dan perbuatan Allah (Afal Allah) kepada diri sering disalah artikan sebagai bersatunya diri dengan Tuhan, inilah yang berbahaya. Kedekatan Allah sedekat urat nadi seseorang sering diartikan kalau Allah berada dalam dirinya. Inilah prinsip aqidah yang salah. Bagaimanapun Pencipta yakni Allah dan yang diciptakannya seorang hamba tentu sangatlah berbeda.

Sifat Allah yang demikian itu adalah  Allah itu berbeda dengan makhlukNya (Mukhalafatuhu lilhawadisi). Mustahil  pencipta sama dengan makhlukNya dan Mustahil penciptanya berada dalam ciptaanNya.  Karena itu Sheikh Abdul Qadir Jailani menyebut segala gerak dan perbuatan Allah kepada diri disebut sebagai kondisi fana (tidak kekal).

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s