Rahasia Tobat Sheikh Al-Balkhi Ra

taubat-2

Ini ada kisah menarik yang dapat ditarik pelajaran bahwa seseorang menjadi baik sebabnya dapat dari mana saja, dari seorang kafir penyembah berhala bahkan dari seorang budak sekalipun. 

Hal ini terjadi kepada seorang alim bernama Saqiq al Balkhi Ra yang merupakan guru dari Hatim Al-Asham, yang bertobat lantaran sebab menerima peringatan atau nasehat yang demikian. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Saqiq al Balkhi Ra yang dikenal sebagai Sheikh Al Balkhi, dahulu adalah anak seorang saudagar yang kaya raya. Suatu hari dia pergi berdagang ke Turki. Sesampainya disana, dia memasuki sebuah rumah yang didalamnya penuh dengan berhala. Dia melihat seseorang didalamnya yang penampilannya bersih dengan rambut dan jenggot yang sudah tercukur rapi.

Sheikh Al-Balkhi kemudian menyapa orang itu dan berkata: “Sesungguhnya engkau mempunyai Tuhan yang maha mencipta, maha hidup, maha mengetahui dan maha kuasa atas segalanya, maka sembahlah Dia dan janganlah engkau menyembah berhala ini yang tiada sanggup memberimu manfaat maupun mudharat bagi engkau.”.

Orang penyembah berhala kemudian menjawab dengan tenangnya perkataan Sheikh Al Balkhi: “Apabila kondisi Tuhan seperti yang engkau ucapkan bahwa Dia yang maha memberi rezeki kepadamu, lalu untuk apa engkau bersusah payah berniaga sampai kesini?

Dari jawaban orang itu, Sheih Al Balkhi tersentak dan sadar akan posisi dirinya. Dia kemudian berniat untuk hidup dengan berzuhud, tidak begitu cenderung akan  dunia sejak saat itu.

Dalam kisah lain tentang Sheikh Al Balkhi Ra, bahwa dia memulai kezuhudan adalah dikala dirinya melihat seorang budak yang sedang bergembira dan bermain-main, padahal saat itu paceklik telah melanda semua orang didaerahnya.

Sheikh Al Balkhi kemudian bertanya kepada budak itu : Apakah pekerjaan anda? Tiada risau sedikitpun tampak di wajah engkau dalam suasana paceklik seperti ini. Budak itu kemudian menjawab : “Saya tidak mengalami paceklik seperti yang lainnya, karena tuan saya memiliki kebun yang subur dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. “

Bermula dari jawaban seorang budak itulah, Sheikh al Balkhi kemudian merenung dan berusaha meresapi makna ucapan budak itu. Dia bergumam : “Jika budak itu saja tidak risau di masa paceklik yang melanda, karena merasa tuannya kaya, bagaimana seorang muslim layak untuk risau, sedangkan tuannya (Allah) adalah dzat yang maha kaya. “

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s