Memaknai tolok ukur kebahagiaan

4876553_20121130030022

Tolok ukur kebahagiaan yang diyakini orang

Dalam laman facebook saya mendapat tulisan yang cukup mengena mengenai hal ini berdasarkan fakta:

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari usa, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri… mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.”

“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada .”

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia.
Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

“Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.”

Kebahagiaan itu tidak dimana-mana melainkan ada di hati

Bahagia pada setiap orang itu relatif. Banyak orang berpikir bahwa kebahagian itu seperti menerima sesuatu, kekayaan, kecantikan, ketenaran seperti tolok ukur diatas. Kenyataannya tidaklah demikian, dalam beberapa survey telah diyakini justru dalam memberi dan berbagi dengan sesama ternyata disitulah letak kebahagian.

Kembali kita melihat kebahagian yang diukur materi. Kebanyakan sesuatu yang mengurangi kebahagian adalah karena orientasi atau standar seseorang atas bayangan sesuatu yang ada diatasnya. Dengan melihat inilah seseorang akan selalu mengeluh dan menjadi tidak mensyukuri apa yang didapatnya.

Nabi Saw bersabda:  Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya, yaitu dari apa yang telah dilebihkan kepadanya. (HR Muslim)

Kebanyakan orang terjebak menetapkan kebahagian berdasarkan standar yang demikian untuk hal-hal yang sebenarnya memiliki esensi dan manfaat yang sama. Ini adalah contoh beberapa hal terkait keseharian seperti  makan, tidur dan penghasilan yang sering dijadikan sebagai tolok ukur kebahagiaan.

Seseorang yang makan di restoran mewah dengan seseorang yang makan lauk  sederhana dirumah, apakah esensi kenyangnya beda?, tentu sama saja. Bisa jadi yang makan di rumah dengan lauk sederhana, namun disajikan dengan ikhlash dan suasana keceriaan keluarga yang dibangun akan menjadikan makanan terasa lezatnya, dibanding yang direstoran besar, rasanya juga belum tentu enak dan yang pasti sesudahnya akan pusing memikirkan harga makanannya yang mahal.

Begitu juga dengan tidur, banyak orang memimpikan bahwa tidur di rumah yang besar akan membahagiakan daripada tidurnya seseorang yang tidak punya rumah ( di kontrakan). Pastinya esensi tidurnya adalah tetap sama, apa iya yang tidurnya seseorang dengan mimpinya yang dirumah besar itu pasti lebih nyenyak dan indah daripada yang tidak punya rumah? jawabnya belum tentu.Bisa jadi yang dikontrakan tidurnya lebih nyenyak daripada yang dirumah besar, berAc pula.

Ukuran penghasilan sering dijadikan tolok ukur, seseorang yang berpenghasilan kecil selalu membayangkan seandainya memiliki penghasilan besar sehingga dia dapat memenuhi segala keperluannya. Padahal bila disadari penghasilan besar juga akan diikuti dengan list kebutuhan yang besar pula, belum bila seseorang itu harus mengikuti gaya hidup sesuai dengan penghasilannya alhasil malah akan terus kekurangan.

Berbeda dengan seseorang yang penghasilannya pas hanya cukup saja, dirinya sudah tentu akan tahu diri dalam membelanjakan apa-apa yang menjadi kebutuhannya, tuntutan tidak akan banyak sehingga tidak begitu merisaukan dirinya bila banyak tawaran kebutuhan datang.  Salah satu yang menenangkan hatinya bahwa tanggung jawab atau amanat harta yang diberikan Allah atas penghasilannya sudah tentu tidak sebesar dari orang yang berpenghasilan besar.

Dari 3 tolok ukur itu, makan, tidur dan penghasilan, Ustadz Yusuf Mansyur menyatakan bahwa bagi orang beriman mendapatkan sesuatu itu saja sudah suatu nikmat. Nikmat ini kemudian ditambah oleh Allah dengan dikaruniakan rasa nikmat tambahan dengan memandang segala sesuatunya kebawah bukan keatas. Pengaruniaan Allah akan rasa nikmat ini akan bermanfaat dikala diri melihat kekurangan, sehingga itu  tidak dilihatnya sebagai sesuatu yang membuat hidupnya semakin sempit.

Firman Allah : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (ibrahim : 7)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s