Zuhud, arti dan cara mencapainya

zuhud

Pengertian Zuhud

Berdasarkan hadis yang membahas mengenai zuhud,  terdapat beberapa pengertian terkait zuhud sebagai berikut :

  1. Zuhud adalah amalan hati berupa adanya keyakinan dan kepercayaan seseorang akan jaminan Allah kepadanya. (1) Dan ini sesuai dengan Firman Allah  Surat Hud : 6 (2):
  2. Zuhud adalah berusaha meninggalkan dunia ini untuk diserahkan kepada ahlinya, sehingga dirinya hanya mengambil bagian yang menjadi hajat atau kebutuhannya saja (3)

Faedah Zuhud

Lalu apa yang didapat atau faedah dari berzuhud :

  1. Sikap yang meninggalkan dunia itu akan menjadikan orang yang berzuhud tidak memiliki kerisauan akan dunia dan tidak menjadikan diri sibuk dengan itu  (4)
  2. Zuhud pada dunia itu merehatkan hati dan badan (Jasmani dan rohani) dan menenangkan hati, karena keinginan pada dunia akan memperbanyak kerisauan dan kesedihan (HR Al Qadhai) . (5)
  3. Zuhud adalah perbuatan yang disayangi Allah dan dicintai manusia  (6)
  4. Zuhud akan mampu menyelamatkan diri dari tipu daya dunia yang membinasakan akibat kecenderungan dalam berlomba-lomba memperebutkan dunia. (7)
  5. Zuhud adalah sifat yang lebih banyak melihat kebawah daripada ke atas dan menjadikan diri bersyukur (8)

Teladan Nabi Saw dalam berzuhud

Itu adalah pengertian dan faedahnyanya, namun tidak lengkap bila tidak melihat bagaimana teladan Nabi Saw berzuhud. Hal itu nyata dan terlihat dalam keseharian Nabi Saw seperti:1. Diriwayatkan beberapa sahabat dan Aisyah Ra.

Bagaimana makannya?

Aisyah Ra meriwayatkan: Tidak pernah Muhammad Saw merasa kenyang makan roti gandum dua hari berturut-turut, sehingga wafat (HR Bukhari Muslim)

Lalu bagaimana tidurnya?

Dari Abdullah Bin Mas’ud Ra berkata: Rasulullah Saw tidur diatas tikar kemudian ia bangun, sehingga anyaman tikar telah berbekas di punggungnya, maka kami berkata : Ya Rasulullah, bagaimana jika kami membuatkan kasur yang empuk untukmu ?

Jawab Nabi Saw: Untuk apa dunia ini bagiku. Aku didunia ini bagaikan seorang pengembara yang berkendaraan bernaung dibawah pohon kemudian pergi meninggalkan itu (HR Attirmidzi)

Lalu bagaimana pandangan Nabi Saw terhadap dunia?

Aisyah meriwayatkan : Belum pernah Nabi Saw merasa kekenyangan sama sekali dan tidak pernah mengeluh pada orang dan ia lebih suka miskin daripada kaya, bahkan ada kalanya ia bermalam dalam keadaan lapar, tetapi yang demikian itu tidak menghalanginya untuk puasa disiang harinya. Padahal andaikan ia minta kepada Tuhan segala kekayaan bumi dan seisinya dan kesenangan hidup, pastilah ia kan diberi.

Bahkan pernah aku kasihan melihatnya dan mangusap perutnya dengan tanganku karena lapar yang dirasakannya lalu ia berkata : Jiwaku akan kukorbankan untukmu andaikan anda mengumpulkan dunia sekedar untuk makanmu, maka dijawab Nabi Saw : Hai Aisyah untuk apa bagiku dunia in. Saudara-saudaraku para ulul azmi dan para rasul telah tahan dan sabar menderita menghadapi hal yang lebih berat dari ini sampai mereka menghadap Tuhan.

Dan Allah memulyakan tempat mereka dan memperbesar pahala mereka, karena itu saya malu bila aku bermewah-mewah dalam hidup,  jangan sampai tidak dapat mengejar mereka dan tiada suatu yang lebih kusukai daripada segera bertemu dengan saudara dan kawan-kawanku itu.

Aisyah berkata: Setelah berkata demikian maka tiada selang sebulan lalu Nabi Saw wafat.

Sifat Zuhud adalah amalan hati dan tidak identik dengan miskin

Sifat Zuhud juga dimiliki oleh seorang Nabi yang dikenal dengan kebesaran kerajaannya yang sangat kaya yaitu Nabi Sulaiman As. Nabi Sulaiman As tidak pernah melihat langit, lebih banyak menunduk bertawadhu kepada Allah, bahka ia suka memberi makanan-makanan yang lezat kepada orang lain, sedang ia sendiri makan roti gandum.

Dan ketika ditanya: “Mengapakah kamu berlapar-lapar padahal kekayaan seluruh bumi ini ada ditanganmu?. Lalu jawabnya : Aku kuatir jika aku kenyang aku lupa pada orang yang lapar (Kitab Irsyadul Ibad )

Dengan demikain dapat disimpulkan bahwa Zuhud adalah amalan hati yaitu adanya keyakinan akan jaminan Allah kepada dirinya sehingga melahirkan sikap yang tidak mengutamakan dunia, tidak pula terlalu mengutamakan akhirat, namun ditengahnya saja tetap mengambil apa yang menjadi kebutuhan hidupnya.

Faedahnya adalah menjadikan ketenangan diri, dikumpulkan dan dimudahkan urusannya, diselamatkan dari tipu daya dunia,  disenangi Allah dan manusia, menjadikan diri tawadhu dan dipenuhi kesyukuran.

Zuhud tidak identik dengan kemiskinan, orang kayapun yang tidak berkecenderungan akan dunia dapat disebut zuhud sebagaimana dicontohkan Nabi Sulaiman As itu.

Wallahu a’lam

  1. Sabda Nabi Saw:  Zuhud itu bukan mengharamkan yang halal atau menghambur-hamburkan uang, tetapi zuhud itu supaya anda lebih percaya pada jaminan Allah lebih dari apa yang ada ditanganmu sendiri dan kesenanganmu pada pahala musibah lebih dari pada bila selamat tidak terkena musibah.(HR Attirmidzi)
  2. Firman Allah : Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS Hud : 6)
  3. Sabda Nabi Saw  :Tinggalkanlah dunia ini kepada ahlinya, sebab siapa yang mengambil lebih dari hajat kebutuhannya berarti mengambil sesuatu yang akan membinasakannya dengan tidak terasa (HR Addailimi).
  4. Sabda Nabi Saw : Kosongkan dirimu dari kerisauan dunia sedapat mungkin, sebab siapa yang lebih banyak kerisauannya mengenai dunia, meka Allah akan menyebarkan ladangnya(urusannya) dan menjadikan kemiskinan itu selalu membayang dimatanya. Sebaliknya siapa yang lebih sibuk mengenai akhirat. Maka Allah akan mengumpulkan semua urusannya dan menjadikan kaya dan cukup itu menenangkan hatinya.(HR Attabrani)
  5. Sabda Nabi : Zuhud pada dunia itu merehatkan hati dan badan (jasmani dan rohani) dan ingin kepada dunia itu memperbanyak risau, sedih dan tidak bekerja itu membekukan hati.(HR Al Qadhai)
  6. Seseorang datang kepada Nabi Saw dan berkata : Tunjukkanlah aku amal perbuatan bila saya lakukan disayangi Allah dan dicintai oleh manusia? Jawab Nabi : Berzuhudlah dalam keduniaan niscaya anda disayang Allah dan jangan tamak terhadap apa yang ditangan manusia niscaya anda disayang oleh sesame manusia (HR Ibnu Majah).
  7. Bahwa Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti), karena Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa’ bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (HR Muslim)
  8. Nabi Saw bersabda: Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya, yaitu dari apa yang telah dilebihkan kepadanya. (HR Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s